
"Mas, ini teh nya, " ucap Maya, yang datang memberikan teh untuk Aledra.
"Makasih ya, May," balas Aledra dan langsung meminum nya.
"Dra, bagaimana jika Rubby tak jua bisa memberimu keturunan?" tanya Mama Mirna.
"Hidup berumah tangga tak melulu soal keturunan, Ma."
"Tapi sayang, biar bagaimanapun kamu butuh pewaris untuk mu kelak. Mama, memang ngga punya anak kandung. Tapi, setidaknya ada kamu yang Mama rawat sepenuh hati 'kan, sayang?"
"Iya, Ma. Ma... Kenapa kepala Edra pusing? Panas...." ujar Edra dengan mengibaskan tangan nya.
"Kenapa, sayang?"
"Ma, Maya, kalian masukin apa ke dalam teh itu?" tanya Edra, dengan nafas tersengal.
"Ngga tahu, kan Maya yang buatin." ucap Mama Mirna dengan begitu tenang.
"Arrrrgh!! Kalian!" Teriak Edra, lalu pergi kekamar mandi.
Edra berlari sambil membuka beberapa kancing jas nya karna kepanasan.
Udara yang begitu panas menyerang. Darah seolah mengalir begitu deras, hingga membuat tubuh Edra bergetar hebat. Edra merasa seperti tubuhnya mearsakan sensasi terbakar dan bergairah disekujur tubuhnya.
"Apa ini obat perangsang?" ucap Edra, dengan membasuh seluruh wajahnya. "Kenapa seperti ini? Panas, seperti... Arrrrrg!!"
"Maya, waktu nya kamu mendekati Edra, rayu Dia. Ini waktu yang tepat, Maya. Dia harus melepaskan hasratnya." ujar Mama Mirna pada Maya.
"Ba... Baik, Ma."
Maya meghampiri Edra yang semakin menahan hasrat saat itu, dengan harapan bahwa, Edra akan menyentuhnya dan rencana mereka berhasil.
"Mas... Kamu ngga papa?" tanya Maya.
Perlahan, Edra mengankat kepalanya dan melihat sosok dihadapan nya. Samar-samar melihat sosok Rubby dihadapan nya.
"By, Kenapa kamu kemari?" tanya Edra, yang dengan perlahan memeluk tubuh mungil itu.
"Mas, ini Maya, bukan Rubby."
Mendengar pengakuan itu, Edra langsung melepas pelukan nya, dan bergegas keluar dari rumah itu.
"Dra... Mau kemana sayang?" tanya Mama Mirna, dengan khawatir.
"Pulang...."
"Tapi, kenapa? Ada Maya disini. Kenapa harus pulang?"
"Maya, bukan istriku," jawab Edra, langsung memasuki mobilnya, dan menginjak pedal gas dengan kencang.
__ADS_1
Di perjalanan, Edra berusaha keras menahan apa yang terjadi pada dirinya. Edra berkali-kali melonggarkan kerah baju nya, dan menghidupkan Ac mobil dengan kencang.
" Aisssh! Kenapa harus seperti ini?" ujar Edra, dengan emosi.
Sesampai nya dirumah, Edra berlari dan memanggil Diana dengan keras.
"Dee! Diana!" Teriak nya.
Diana yang mendengar itu pun langsung berlari menghampiri, begitu juga dengan Rubby.
"Mas, kenapa Mas?" Tanya Diana Khawatir.
"Kak, sepertinya. Mas Edra terpengaruh obat perangsang," ucap Rubby, dengan memeriksa denyut nadi Edra.
"Hah... Obat perangsang? Siapa yang memberi nya, Mas?"
"Mama, dan... Maya," jawab Edra, dengan nafas terenga-engah.
"By, apakah bisa diobati?" tanya Diana, pada Rubby.
Rubby, bergegas mengambil beberapa obat, untuk Edra, yang mungkin bisa menetralisir efek nya.
"Dee, Aku tidak tahan. Bisa kah?"
"Mas... Maaf, Dee tidak bisa. Lebih baik Mas bersama Rubby malam ini," ujar Diana.
"By, lakukan tugas Mu," ucap Diana, lalu berdiri meninggalkan Edra dan Rubby.
"Mas,?" tatap Ku, pada Mas Edra.
"Maaf, obat tak akan bisa menyembuhkan ku sekarang. Kamu bersedia?"
"Biar bagaimanapun, aku istri Mu, Mas," ucap Rubby, yang lalu memapah Aledra kekamar mereka.
"By, maaf. Aku harus melakukan nya, karna pengaruh obat. Aku janji, tidak akan lagi,"
"Iya, Mas. Segera lah tuntaskan, agar tubuh mu tidak sakit."
Aledra lalu mulai bergerak mencium bibir merah Rubby yang merona. Begitu pun sebaliknya. Edra membuat tubuh Rubby menerima semua rangsangan yang diberi nya, hingga meraka menikmati malam pertama mereka malam itu.
" Mas, malam ini, Aku berterimakasih pada Mama Mirna. Karna sudah membuat mu bisa bersama Rubby. Jujur, tak ada sedikitpun rasa cemburu dihatiku, yang ada justru aku bahagia, Mas." batin Diana. Yang langsung tidur memeluk bantal gulingnya.
Beberapa saat kemudian, Edra bangun dengan Rubby yang berada dalam pelukan nya.
" By, "
" Ehmm, Mas sudah bangun? "
" Iya, By. Kamu ngga papa? "
__ADS_1
" Ngga papa, Mas. By senang, bisa melakukan tugas By sebagai istri. Dan jikalau bisa, By ingin secepatnya hamil, agar Kak Dee senang."
"Kamu terlalu berambisi membuat Diana senang, By. Apakah, kamu sendiri tak ingin bahagia?"
"Entah lah, Mas. By begitu bahagia, jika melihat Kak Dee begitu ceria,"
"Jangan sampai kamu menjadi gelas kosong, By. Yang hanya ingin melihat kebahagiaan orang lain, tanpa memikirkan kebahagiaan mu sendiri."
"Mas, Kak Dee bukan orang lain bagi, By. Derita Kak Dee, itu derita By juga, Mas."
Aledra, begitu tersipu dengan ucapan Rubby, hingga gemas dan kembali mencumbu Rubby malam itu.
Pagi menjelang, Rubby bangun dengan sedikit sakit ditubuh nya. Ia pun melihat noda darah di spray yang Ia pakai semalam. Rubby pun segera membereskan nya dan mengganti dengan spray baru.
"By, kenapa?"
"Sprai nya, Mas."
"Oh, iya... Mas tahu, biar Bik Inah yang bereskan, kita temui Diana untuk makan," ajak Nya, dengan merangkul tubuh Rubby.
Seperti yang sudah diduga, jika Diana sudah menunggu diruang makan.
"Hay By, Mas. Sarapan Yuk," ajak Diana dengan ramah.
"Iya, Kak. Kakak, hari ini kita jadwal kemo. Biar By antar," ucap Rubby, dengan menyendok kan nasi pada Aledra dan Diana.
"Kamu... Tidak lelah?" tanya Diana, yang mengagetkan Rubby.
"Lelah... Lelah kenapa?"
"Semalam?" tanya Diana lagi.
"Dee, jangan bahas itu dimeja makan," tegur Aledra.
"Maaf," balas Diana dengan senyum mengejek. Sedangkan Rubby, hanya diam dan tersipu malu.
Beberapa menit kemudian, Aledra pamit kekantor. Sedangkan Rubby dan Diana, bersiap kerumah sakit untuk menjalani kemoterapy, untuk yang kesekian kali nya.
"Kak, udah siap?" panggil Rubby.
"Iya, By. Ayo, berangkat." Jawab Diana, yang sudah berpenampilan rapi, dan lebih segar karna rambut baru, serta bibir merah merona nya.
"Kak... Cantik," ucap Rubby.
"Udah, ngga udah ngeledek. Ayo cepetan."
"Tapi beneran, lebih fresh, cantik dan mempesona," goda Rubby, sepanjang perjalanan menuju mobilnya. Meskipun, selalu disanggah Diana.
Kebersamaan istri pertama dan Madunya itu begitu manis, dan damai. Jika saja, nanti nya tak akan ada orang lain yang akan mengusik mereka.
__ADS_1