MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Kemesra'an ini


__ADS_3

Pov edra.


Rubby ku, Rubby kesayangan ku. Yang semakin cantik, dan semakin menggemaskan sekarang. Di moment kehamilan kedua ini, pasti Ia merasakan sungguh berbeda dengan kehamilan Maliq, dimana Ia bisa bermanja sepuasnya dengan Diana. Meskipun sudah mengikhlaskan, aku faham, raut wajah kesedihanya.


"By, sayang. Hari ini mau kemana, biar Mas temenin?" tawarku.


"Ngga mau kemana-mana... Eh, pengen ke supermarket, mau beli buah banyak-banyak. Pengen buah, tapi buah itu ngga ada dipasar." jawabnya.


"Baiklah, nanti siang, Mas pulang cepat, ya."


"Ngga usah, biar By yang kesana. Jemput Mas,"


"Nanti capek?"


"Engga, justru banyak gerak lebih bagus. Maliq 'kan bisa naik stroler,"


"Okelah, sesekli. Biarkan Dia jalan diarea kantor, supaya makin lincah."


"Iya, Mas. Yaudah, berangkat, gih... Udah siang,"


"Mas' kan direkturnya, jadi, bebas dong?"


"Justru, karna Mas direkturnya, harus jadi contoh buat para pegawainya. Dateng pagi, disiplin, tegas, berwibawa."


"Iya, iya.... Mas berangkat dulu ya Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam." balasnya, dengan menyunggingkan senyuman.


Aku berangkat dengan santai, lalu mampir kesebuah tempat, dimana aku bisa nyaman disana meski hanya sebongkah batu nisan bertuliskan nama Diana Fatmala diatas nya.


"Assalamualaikum, Dee... Bagaimana kabarmu? Ma'af, Mas baru bisa mengunjungi mu dalam minggu ini. Mas sedang sibuk dengan pekerja'an. Terlebih lagi, By yang sedang hamil muda, butuh begitu banyak perhatian. Mungkin dikehamilan nya yang sekarang, Ia begitu manja, atau hanya Mas yang baru merasakan. Karna dulu, kamu lah yang sibuk memanjakanya, dan Mas tahu, jika Ia pun rindu masa itu. By susah makan, sepertinya pun, rindu roti isi yang Dee buat andai Mas tahu cara membuatnya. Tapi pasti beda rasanya, karna semua yang dari tangan mu itu istimewa bagi nya. Istirahat yang tenang, ya sayang. Sampailan salam Mas, pada mereka yang telah mendahului kita."


Aku mencium batu nisan itu, dan mengusap air mata ku, yang tak semgaja terjatuh kembali. Entah mengapa, meskipun sudah hampir Dua tahun berlalu, masih begitu perih dihatiku, ketika mengingatnya.


Aku kembali kemobil, dan menuju kekantor.


"Selamat pagi, Pak." sapa Winda padaku.


Sebenarnya, Ia juga sedang hamil, dan sudah kuperintah untuk mulia cuti, namun Ia masih menolak, karna kontrak kerja nya masih beberapa bulan lagi.


"Udah ngajuin cuti?" tanyaku.

__ADS_1


"Belum, Pak..."


"Kenapa masih belum? Saya ngga mau, nanti ada apa-apa sama kandungan kamu, Win."


"Kami sehat, bahkan sangat sehat. Saya rajin chek, kok. Lagian, Bapak belum nemu kandidat yang cocok buat ganti saya 'kan?" jawab Winda.


"Oke... Kamu mulai sekarang, ngga usah terlalu fokus ke kerja saya. Urus saja orang yang mau menjadi Sekretaris saya. Cari yang ulet dan cekatan seperti kamu, hanya untuk sementara' kan, setelah melahirkan, kamu akan kembali pada saya?" senyum ku padanya.


"Iya... Baiklah, saya akan berusaha mencari yang terbaik untuk Bapak. Karna jujur, beberapa kandidat, hanya melihat Bapak dari segi lain."


"Segi lain? Bagaimana maksudnya?"


"Ya... Mereka, menatap Bapak dengan tatapan berbeda. Saya hanya takut, mereka akan mengoda Bapak, dan membuat Ibu cemburu."


Aku menatapnya, lalu memikirkan sesuatu, "Bisakah, Sekretarisku seorang Laki-laki?"


"Hah? Kalau begitu, saya akan carikan." jawab Winda, lalu pergi dengan menggaruk kepalanya.


Pov author.


Beberapa lama, edra mengerjakan semua pekerja'nya, sembari menunggu Bidadari syurganya datang menjemput.


"Mas..." panggiln Rubby, ketika membuka pintu, bersama Maliq di strolernya.


Rubby menghampiri dengan manja, dan jatuh kedalam pelukan Suaminya itu.


"Ayo, berangkat?"


"He'em," jawab Rubby.


Mereka berjalan berdua, dengan Edra mendorong stroller Maliq, dan menggandeng tangan Rubby disebelahnya.


*


"Mau belanja banyak?" tanya Edra.


"Lumayan, sekalian belanja bulanan."


"Oke... Kita langsung ke tujuan belanja dulu, ya. Supaya ngga keburu capek, nanti kalau mau belanja lain, jadi gampang."


Mereka berjalan menyusuri supermarket, dan mengambil semua yang mereka perlukan. Stroller mereka titipkan dipenitipan barang, sedang Maliq, didorong ditroley belanja.

__ADS_1


Nafas Rubby terenga-engah, kelelahan dengan semua katifitasnya, keringat bercucuran, hingga beberapa kali Ia harus mengelapnya dengan tissue.


"Capek, sayang?"


"Iya... Kakinya gemeter," keluhnya.


Edra menyampingkan troleynya, lalu duduk bersimpuh, lalu satu kakinya dilipat keatas. "Duduk sini, kalau capek." ucapnya.


Rubby menurut, dan duduk dikursi spesial itu.


Lelah berbelanja, Edra membayar semuanya, dan Rubby mengasuh Maliq diruang tunggu.


"Pulang, ya, capek..." keluhnya.


Edra mengantar Rubby pulang, lalu menggendongnya dibelakang.


"Manja,"


"Biarin, mau manja sama siapa lagi kalau bukan sama suami? Manja sama Kakak udah ngga ada." jawab Rubby.


Edra hanya bisa tersenyum, membawa istrinya masuk kedalam istana mereka, dengan mendorong stroller Maliq didepanya, dengan satu tangan yang lain.


"Mas, hamil kedua gini, By manja. Kalau hamil yang lain lebih manja gimana?"


"Ya... Ngga papa, itu tandanya, Mas harus ngasih perhatian super berlebih sama By, emang yakin mau punya anak banyak?"


"Iya... Empat aja, tapi jangan kejauhan jaraknya. Biar By sekalian capek, tumbuh gede nya bareng, jadi kayak anak kembar."


"Ngga capek?"


"Namanya jadi Ibu, pasti capek. Tapi itu capeknya syurga, Ngga papa 'kan?"


"Ngga papa, Mas seneng. Pasti Kakak juga seneng."


"Andaikan masih ada, ya, Mas. Pasti rame."


"Hust... Ngga boleh gitu. Ngga boleh mengandaikan sesuatu yang sudah terjadi lama."


"Iya, Mas... Ma'af, By kangen aja."


"Kita do'ain bareng-bareng nanti malam, ya, shalat berjama'ah. Nanti, Mas pulang cepet." balas edra pada Rubby

__ADS_1


Rubby hanya mengangguk dari belakang, dengan menikmati aroma tubuh suaminya, yang begitu menyegarkan baginya.


__ADS_2