
mereka berdua begitu bersemangat, seolah tak ingat dengan keadaan mereka masing-masing. By yang sedang hamil, dan Dee yang masih sakit. Mereka sibuk berkemas, dan mengepack barang mereka dan barangku yang akan dibawa.
"Hey, para bidadari syurga ku, jangan terlalu bersemangat. Nanti kelelahan malah kita ngga jadi pergi," tegurku.
"Engga, kita sehat. Apalagi aku," jawab Diana, dengan merapikan pakaianku kedalam koper.
"By, hati-hati, ntar kesandung jatuh, bahaya." tegurku lagi, sembari membantu Diana melipati pakaian.
"Engga, Mas... by pelan kok," sanggah nya.
Aku hanya menghela nafas melihat semua tingkahnya, namun tetap mengawasinya.
"Udah siap, Mas. Apalagi kira-kira yang mau dibawa?" tanya Diana.
"Udah sih, kalau Mas yang penting bawa laptop. Soalnya yang lain udah sama Ramlan semua, jadi kalau ada apa-apa ya, Dia aja yang urus. Sama Maya,"
"Mas... Jadi jodohin Ramlan sama Maya?" liriknya padaku.
"Ya, kalau mereka nya mau, kenapa engga? Kayaknya cocok-cocok aja sih. Yang ngga boleh 'kan, kalau Mas maksa," jawabku.
"Menurutmu, Aku maksa ngga?" lanjutnya.
"Maksa sih... Bahkan Mas hampir stres karna perminta'anmu itu. Tapi, kembali lagi ke takdir. Karna apapun yang kita rencanakan, jika takdir ngga menghendaki, maka kita ngga akan sampai ke titik ini." balasku.
Diana hanya mengangguk, dan menyunggingkan senyumnya padaku. Senyum termanis, yang selama ini aku rindukan.
"Mas, By udah siap," sahut Rubby, dengan menyeret sebuah koper besar.
"Banyak banget bawa'an by?" tanyaku.
"Ini baju-baju By yang udah ngga kepake lagi, mau By kasih anak-anak sana aja. By 'kan udah pake hijab sekarang,"
"Pinter kamu," sahut Diana.
Setelah berpamitan dengan Bik inah, kami pun memulai perjalanan menggunakan mobil ku, dan Mas bima ikut bersama kami.
Pov Rubby.
Berjam-jam perjalanan kami lalui, rasa lelah menghampiri, hingga kami berhenti disebuah cafe untuk istirahat.
"By laper, By mau makan." ucapku sa'at memasuki Cafe itu.
__ADS_1
"Iya... Makan lah banyak-banyak, Kakak bawa bekel. Sama Mas edra dan Mas bima juga makan, ya." balas Kak Dee.
Aku memesan makanan yang ku inginkan, dan melahap nya dengan nikmat, hingga Kak Dee dan yang kain menatapku takjub.
"By, pelan-pelan." Tegur Mas edra.
"Ini pelan lho ya. By tuh laper banget, ngga tahu kenapa. Rasanya, kalau pas lagi laper, terus ngga cepet keturutan makan, By pengen nangis gitu. Lebay ngga sih?" tanyaku.
"Engga lah.... Wajar aja, karna lagi hamil. Banyak mau, banyak selera. Lagian By juga ngga banyak ulah kan selama hamil. Paling cuma porsi sama selera aja yang nambah banyak," jawab Kak Dee, yang sedang menikmati Buburnya.
"By... Mas cicip ya? Kayaknga enak." kata Mas edra, mengambil beberapa sedikit makanan dari piringku.
"Mas... By aja kurang itu, kenapa diambil? Kalau mau pesen sendiri," ucapku.
"By, Mas cuma nyincip. Cuma beberapa biji doang ayam rica-ricanya."
"Iya... Tapi By lagi menikmati, ngga enak kalau diganggu. Kak, tengoklah nih suami Kakak, gangguin By aja. Ngga tahu, anaknya lagi butuh makan banyak." omelku.
"Itu kan suami By juga. Pesan lagi lah kalau kurang."
"Kalau pesan lagi seporsi kebanyakan juga," lirihku, dengan menundukan kepala.
Selesai makan dan bercanda, kami kembali ke perjalanan kami. Mas Edra bergantian dengan Mas bima, laku aku dan Kak dee tidur dikursi belakang.
*
*
*
"By.... Dee, sampai kita. Lihat tuh, Ibu nyambut." Mas edra membangunkan ku.
Aku dan Kak Dee bangun, lalu dengan antusias bergantian memeluk Ibu.
"Bu... Dee kangen," ucap nya pada Ibu ku.
"Ibu juga, Nak. Ayo masuk dulu, mandu, shalat dan istirahat. Kalian pasti lelah,"
Kak fitri menghampiri, dan membantu ku membawa semua barangku.
"Kenapa ngelihatin Ibu sama Kak Dee? Cemburu?" ledeknya.
__ADS_1
"Aah, engga Kak. By seneng ngelihat mereka seperti itu. By ngerasa, semangat Kak dee terpacu lagi. Karna sempat drop setelah kematian Mama mirna."
"Iya... Bahagia sekali sepertinya," jawabnya padaku.
Selepas mandi, dan shalat berjama'ah. Aku dan Kak dee mulai membagikan semua pakaian yang ku bawa pada seluruh remaja disini. Semua bergembira, termasuk Kak dee, yang memang begitu antusias dari awal.
"By, makan dulu. Dee juga, Ibu sudah buatin bubur tadi. Ayo," bujuk Ibu.
Kami menurutinya, dan makan malam bersama. Minus Bang halim yang sedang bekerja.
"Fitri, bagaimana tokonya?" tanya Kak dee.
"Alhamdulillah, lancar. Baru dikit-dikit, namanya juga toko baru,"
"Hmmm, butuh modal tambahan atau bagaimana?" tanya Kak dee.
"Oh... Bukan, Kak. Karna kami belum tahu pasti, apa saja yang diperlukan ditoko kami. Jadi beguyur aja,"
"Oh... Sabar saja, namanya orang baru meretas ya begitu. Sama seperti sa'at Kakak mengurus perusaha'an dulu. Dibantu Mas, Thomas dan Rara." ujar Kak Dee.
Aku hanya diam, dan menikmati makanku. Entahlah, kadang sepertinya gairahku hanya makan saja sekarang. Aku bahkan tak tahu, berapa berat badanku selama hamil. Tapi kata Kakak dan mas edra. Asal bayinya sehat, gemuk pun tak apa. Kata-kata merekalah semangatku.
"Dee... Ini tadi, Ibu buatin cincau hijau buat kamu. Dimakan ya, Supaya perutnya dingin."
"Ish... Pasti By cerita ya, kalau Dee sakit perut?" kesalnya, sambil melirik ku.
"Kenapa By pula?" sanggahku.
"Ya siapa lagi tukang ngadu?"
"Ish, apalah. Mas tuh nah, yang bilang. Mas kasihan kalau Kakak minumnya obat keras terus. Jadi minta Ibu, buatin obat tradisional. Makanya Mas nurut, waktu Kakak ngajak kesini." balasku.
Pov Diana.
"Aku tahu, Mas... Cueknya kamu itu, hanya karna perminta'anku. Diam-diam kamu terus mengawasiku 'kan? Kamu meminta semuanya menjadi detektif, yang harus melaporkan perkembanganku padamu." batinku.
Aku tahu sekali Mas edra. Dia yang tulus mencintaiku hingga sa'at ini. Merawatku dengan sepenuh hati. Bahkan menuruti perminta'anku untuk menikahi By, meskipun berat baginya.
Tapi aku juga tahu, jika perasa'anya pada By sekarang tulus, tak seperti dulu, yang hanya berdasarkan tanggung jawab, dan memikirkan perasa'anku.
Tetap seperti ini Mas, tetaplah jaga hati ku, dan tetap sayangi Rubby.
__ADS_1