MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Biarkan seperti ini.


__ADS_3

Aku mengganti pakaian ku, dan Mas edra sudah menunggu ku diruang tamu. Rambut ku ikat kebelakang ala buntut kuda, dengan dress pink berlengan panjang selutut.


"Mas... By siap," ucap ku, yang menghampiri nya.


"Oke... Kita berangkat, mumpung masih jam kunjungan."


"Kak Dee?"


"Kakakmu istirahat, sedang tidur tadi Mas lihat."


Mas edra lalu menggandeng tangan ku, dan berjalan menuju mobil. Aku menarik nafas panjang, untuk mempersiapkan mental.


"By... Ayo," tegurnya.


Aku segera memasuki mobil, dan Mas edra menyetir dengan kecepatan sedang.


"Mas... Mampir minimarket, ya. By mau beli makanan buat Bang Ramlan, ngga papa kan?" tanya ku.


"Ya ngga papa, didepan ada minimarket. By turun sendiri ngga papa?"


Aku mengangguk, dan menuruti pintanya. Setelah tiba ditujuan, aku segera masuk, dan membeli beberapa camilan kesuka'an Bang Ramlan dan aku, sewaktu kecil dulu.


"Mas... Udah, yuk berangkat." ajak ku pada Mas edra.


Kami berjalan lagi, tanpa suara, hingga sampai dikantor polisi, tempat Bang Ramlan ditahan.


Mas edra menggandengku masuk kedalam. Ia tahu, betapa bingungnya kau sa'at itu.


"By... Tunggu sebentar. Mas mau laporan dulu, ya." ucap Mas edra, lalu melapor ke pos jaga.


"Ayo By... Kita masuk," ajaknya lagi.


Kakiku, jantungku, hati ku bergetar hebat. Aku duduk dikursi tamu, dan menunggu Bang Ramlan menemui kami.


"Pak... Ini saudara Ramlan. Waktu berkunjung, Tiga Puluh menit." ucap sipir.


"Baik Pak... Terimakasih," jawab Mas edra.


Bang ramlan duduk tepat dihadapan ku, Ia menunduk kan wajahnya, tapi tetap menatapku dengan tajam.


"Abang... Apa kabar?"


"Baik... Kenapa kesini? Sama Dia lagi," tanya Bang Ramlan, dengan melirik Mas edra.

__ADS_1


"Bang... Ini suami By, Abang tahu 'kan?"


"Jelas Abang tahu By... Apa yang Abang tak ketahui tentang mu, hanya kamu saja, yang tak pernah mengerti abang. Abang cinta sama Kamu, Abang hanya ingin membahagiakan kamu By. Kenapa justru memilih Pria beristri seperti dia?" tunjuk Bang ramlan pada Mas edra.


Aku tahu, Mas edra memiliki keinginan untuk menjawab semua pertanya'an Bang Ramlan. Namun, aku mencegahnya.


"Bang... Kita lesehan dilantai yuk. By bawa ini buat Abang," bujuk ku pada nya.


Aku menggandeng tangan Bang ramlan, dan membawanya duduk dilantai, bersender dinding diruangan itu.


"Abang masih suka ini?" tanya ku, memberikan sebungkus kuaci.


"By... Beli dimana? Masih inget kesuka'an abang."


"Masih... Ini kesuka'an kita waktu kecil dulu 'kan? Sini, By kupasin."


Aku mengupaskan kan kuaci untuk Bang ramlan satu-persatu, dan ku berikan padanya. Sedang Mas edra, menatapku dengan sorot mata tajam, seolah mempertanyakan sesuatu.


"By... Kalau By perduli sama Abang, kenapa By tak menerima Abang By. Bukanya, Abang sering berjanji, untuk membahagiakan By sampai kapanpun. Apa itu tidak cukup?"


"Bang... By sayang dengan Abang. Tapi, rasa sayang By pada Abang, seperti sayang By pada Bang Halim. By selama ini menghindar, karna jujur By takut dengan Abang. Semakin Abang menyatakan cinta Abang, By semakin takut dengan semua perlakuan Abang pada By. Makanya, By menghindar sampai sejauh ini. By tak salahkan?"


"By mencintainya? Kenapa By mau jadi istri kedua?"


"Iya... Terlebih lagi, jika bahagia mu bersama Abang disisimu. Apa menurut By, Abang ini orang jahat, yang tak pantas lagi didekati?"


"Setiap orang bisa berubah Bang. By yakin, Abang tahu? Sebobrok apapun moral seseorang, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri."


Bang ramlan hanya mengangguk, dan kembali menundukan kepalanya.


"Bang... Besok kita pulang kampung ya, By urus kebebasan Abang. Besok By mau ke pesta Bang halim,"


"Jangan By... Biarkan Abng disini, menjalani hukuman yang pantas buat Abang. Anggap saja, ini semua sebagai sebuah cara untuk bisa melupakan By, dan tak lagi mengejar By." ucapnya dengan tenang.


"Bang..."


"Iya By... Biar saja. Biar kan ini semua menjadi sebuqmah terapy untuk menenangkan diri Abang dari semua bayang-bayang By. Abang akan nyaman disini sepertinya."


"Bagaiman dengan Ibu?" tanya ku lagi


"Ibu hanya tahu, Jika Abang bekerja dikota. Tapi, berikan sebuah video pada Ibu, nanti jika Ibu kembali mengancam mu."


Aku meng'iyakan semua ucapan Bang Ramlan, dan mengeluarkan Hp ku, untuk merekam sebuah video yang akan Ia kirimkan ke Bu Lurah.

__ADS_1


Aku menagis tersedu, mendengar semua perkata'anya untuk sang Ibu yang begitu tulus.


" Sudah By... By boleh pulang. Jujur, Abang lelah, dan ingin istirahat." ucap Bang ramlan padaku.


Aku kembali menuruti perminta'anya, dan mulai membereskan barangku. Ku gandeng Mas edra, dan keluar dari ruangan itu.


"Hey... By nangis? Kenapa?" tanya Mas edra, yang menghadapku dan mengusap air mataku.


"By sedih, lihat Bang ramlab seperti itu." jawab ku.


"Sudahlah sayang, Ramlan sendiri yang tak mau dibebaskan. Anggap saja, itu sebuah terapy seperti yang Ramlan bilang 'kan? Dia akan baik-baik saja."


"Bang ramlan... Pasti baik-baik saja 'kan? Bang ramlan, pasti berubah?" tanya ku lagi.


"By... Hidup itu, penuh dengan suatu hal yang tidak pasti. Namun, harapan itu pasti ada, akan selalu ada."


"Iya, Mas... Sekarang kita pulang. Besok pagi, kita berangkat 'kan."


"Oh iya... Mas lupa. Yaudah, kita pulang, makan malem, terus istirahat lagi. Mas tahu, By pasti laper 'kan?"


"Iya... Rasanya dedek Bayi ini sudah menggigiti Usus By, sangking lapernya." jawab ku dengan canda.


Kami segera meninggalkan kantor polisi, dan kembali kerumah. Ya... Aku rindu makan. Makan yang banyak hingga perutku begah kekenyangan. Meskipun Dua jam kemudian, aku akan lapar kembali. Seperti itu, seterusnya.


Setelah sampai dirumah, Kak dee langsung menyambutku dengan wajah cemasnya. Dan memberiku dengan banyak pertanya'an.


"By... Gimana ramlan? Dipenjara, atau masuk rumah sakit jiwa?"


"Satu-satu Kakak... By laper, mau makan dulu," tegur ku.


"Oh... Oke... Itu, rotinya udah Kakak siapin. Ayo makan," ajak Kak dee padaku.


Kami mengalihkan perhatian sejenak, Kak dee teru memperhatikan ku yang sedang lahap memakan semua hidangan yang Ia persiapkan, hingga selesai.


"By... Bagaimana?" tanya nya lagi.


"Bang ramlan minta dipenjara aja, sesuai hukum yang berlaku. Katanya... Sekalian latihan, supaya ngga inget By lagi."


"Dia terhadap kamu... Gimana?"


"Gimana apanya? Ngga papa kok, dia baik-baik aja. Ngobrol pun santai, dalam keada'an sadar," jawabku.


"Lalu... Kenapa sikapnya sungguh marah pada Kakak tadi? Apakah, dia begitu dendam pada Kakak?" tanya Kak dee padaku.

__ADS_1


"Do'akan saja engga Kak. Dia akan benar-benar berubah setelah ini," jawab ku, dengan menyenderkan pundak ku ke bahu kursi, karna kekenyangan.


__ADS_2