MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Saling mengerti


__ADS_3

"Selamat, siang," sapa Ku pada mereka, dengan mencuci tangan ku setelah keluar dari toilet.


"Eeeeh... Ibu, selamat siang Bu," balas Mereka, yang langsung pergi dari sana.


"Apa, aku sekampungan itu?" ucap Ku, dengan memperhati kan dandanan Ku sendiri.


Aku pun segera keluar dari kamar mandi dan menghampiri Mas edra yang sedang makan siang.


"Udah selesai, Mas makan nya?" tanya Ku.


"Udah By, makasih ya udah mau anter makanan." Jawab nya.


"Iya, sama-sama. By... Pamit pulang dulu ya Mas," pamit Ku dengan mencium tangan nya.


"Iya... Hati-hati dijalan ya," pesan Nya, dengan mengusap rambutku.


Belaian nya begitu lembut, cukup membuat hati ku begetar.


Aku berjalan kembali, Menyusuri setiap lotong ruangan dengan perasaan ku yang galau.


"Bu, sudah mau pulang?" sapa Winda.


"Iya, terima kasih ya, sudha bantu antar saya," ucap Ku, dengan senyum ramah.


"Iya, Bu. Itu sudah kewajiban saya." Balasnya.


Aku segera masuk kemobil, dan mengajak Pak Ujang pulang dan Ia pun mengangguk menuruti semua perintah ku.


Sesampai nya dirumah, Aku duduk termenung di meja makan, sambil meneguk segelas air putih. Bi Inah yang melihatku, langsung menghampiri.


"Non, kenapa?" tanya Nya, sembari duduk disampingku.


Aku menghela nafas panjang, dan menyandarkan kepala ku dikursi.


"Bi, By emang kelihatan kampungan banget ya?" Tanya ku.


"Emang kenapa?"


"Tadi dikantor, para pegawai gunjingin By, katanya By kampungan ngga sesuai sama Mas edra dan Kak Dee. Dan mereka bilang, By itu cuma dimanfaati mereka aja, karna keluguan By."


"Mereka ngomong begitu, karna ngga tahu yang sebenernya. By caantik kok, hanya saja mungkin dandanan By yang kurang sesuai bagi pandangan mereka. Apalagi, suami By adalah seorang direktur utama disana," ucap Bi inah, dengan mengelus punggungku.

__ADS_1


Rupa nya, Kak Dee mendengar obrolan kami dan langsung menghampiri ku.


"Siapa yang bilang begitu By, biar Kakak cari orangnya?"


"Eh... Ngga usah Kak. Namanya juga orang ngga tahu, wajar kalau mereka banyak bertanya." jawab Ku.


"By... Ikut Kakak sekarang," ajak Nya dengan menarik tangan ku.


"Kemana Kak?" tanya Ku dengan mengikuti Nya.


"Nanti kamu akan tahu, Kakak mau rubah penampilan kamu."


Kak Dee memanggil kembali Pak Ujang dan menginstruksi nya agar mengantar kami ke salon milik sahabatnya.


Sesampai nya di salon itu, kami disambut ramah langsung oleh ownernya.


"Hey, Dee... Apa kabar? Sehat, kan?" tanya Owner salon yang bernama Dian itu dengan ramah.


"Ya... Seperti ini lah keadaan ku, mau tidak mau, aku harus nampak seperti sehat." Jawab Kak Dee. "Oh iya, Dian. Perkenalkan, ini adik ku Rubby. Hari ini, Kamu khusus saya booking untuk Dia ya,"


"Mau diapain? Udah cantik gini, apa yang harus dipermak coba?" Balas Dian.


"Kakak, mau kemana?" tanya Ku, dengan menggenggam baju nya.


"Kakak, mau langsung pulang ya By, Capek." Balasnya.


"Aaaah, jangan takut. Nanti saya sendiri yang akan mengurus kamu, By." Sahut Dian.


"Nah, itu Dian udah ngomong... Ngga papa lah, supaya kamu berani nanti nya. nurut sama Dian ya, By... Kakak pulang dulu," ucap Nya, dengan melepaskan genggaman ku, lalu pergi.


"Ayo, By. Saya ajak kamu milih baju," ucap Dian dengan menggandeng tanga ku, menuju butiknya.


Aku mengangguk kan kepala, dan mengikuti nya. Dian memilihkan beberapa dress dan setelan pakaian untuk ku, banyak sebenarnya. Tapi, itu lah perintah Kak Dee padanya.


"Mba, banyak banget. Mahal-mahal juga." Ujarku bingung.


"Tenang By, itu ngga seberapa bagi Diana. Biasanya, Diana menghabis kan puluhan juta hanya untuk sekali belanja." Balas Nya. Dan, Aku hanya bisa meneguk ludah, mendengar perkataan itu.


"Ayo, By... Sekarang kita ke salon, biar saya facial supaya wajahmu yang cantik itu semakin cerah." Ajak nya padaku. Aku kembali menuruti nya kali ini. 


Beberapa perawatan mulai ku terima dari nya. Mulai dari facial, massage, lulur dan lain-lain. Itu membuatku lumayan rileks.

__ADS_1


Tak terasa, Tiga jam sudah kami melakukan perawatan. Aku hanya tinggal menunggu jemputan untuk pulang.


"Lama banget ya, bosen,"ujar Ku dengan melipat tangan di kursi tunggu. Dan tiba-tiba, Kak Dee menelpon.


"Haloo, Kak,"


"Iya, By... Nanti Mas Edra yang jemput ya, sekalian pulang kantor. Tunggu aja bentar lagi," ucap Nya lembut.


"Iya, Kak. By tunggu," jawab Ku, dan langsung menutup telpon.


Lima menit kemudian Mas Edra pun datang dengan mobil Toyota Rush hitamnya. Aku langsung berdiri untuk menyambutnya.


"Mas, By udah nunggu daritadi," ucap Ku dengan mencium tagan nya.


Mas Edra menatap ku tajam, tersirat wajah raut aneh dimata nya saat melihatku.


"Mas... Kenapa? By, aneh ya?" tanya Ku, membuyarkan lamunan nya.


"Haaah... Engga By, kamu cantik, " puji Nya padaku. Meskipun aku tahu, jika itu tidak sengaja, namun aku senang mendengarnya. 


"Ehh, yaudah... Yok, kita pulang. Dee, sudah menunggu dirumah," ucap Mas edra, dengan menggandeng tangan ku masuk ke dalam mobil.


Kami berdua saling diam selama perjalanan pulang. Tapi aku tahu, jika sesekali Mas Edra mencuri pandangan ke arahku.


"Kamu... Tumben ke salon By,"


"Kak Dee, yang suruh sama belanjain baju. By ngga ngerti sama yang begituan, Mas." Jawab ku.


"Oh... Dee, perhatian banget sama Kamu. Sayang banget juga sama Kamu, By."


"Iya, Mas. By bersyukur banget ada Kak Dee, disamping By."


"Iya... Dia memang selalu baik dan tulus, dua belas tahun, Dee bersama saya dari masa pacaran hingga sekarang."


"Wah... Begitu lama ya, Mas. Pantas saja, Mas ngga pernah bisa menduakan Kak Dee, meskipun dipaksa Nyonya mirna," jawab Ku, seraya menatap nya.


"Iya... Begitu berat, By. Jadi saya harap, kamu bisa memaklumi semua sikap saya terhadap kamu."


"Iya, Mas. By ngerti, begitu juga dengan posisi By saat ini."


"Terimakasih ya, By." Balasnya pada ku.

__ADS_1


__ADS_2