
Pov Author.
Ke'esokan harinya, Edra berangkat pagi-pagi, ditemani Gusti.
"Mas... Hati-hati, ya. Kerjanya yang fokus, By disini aman. Lagian, Ibu nanti sampai." pesan Rubby. "Ma'af, By ngga bisa nganter kebandara."
Edra memeluk Rubby erat, tak terasa air matanya mengalir.
"By, yang harusnya jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa, hubungi Mas ya, sayang."
"Iya... Yaudah, berangkat lah. Nanti ketinggalan pesawat."
Edra melangkah berat, setelah mencium kening Rubby, dan Maliq, yang berada dalam gendongan Istrinya itu.
Rubby melambaikan tangan, dan Makiq kecil memberikan kissbye pada sang ayah.
"Berat, ya, Pak... Mau ninggalin keluarga?"
"Iya, Gus. Biasanya, kemanapun saya pergi, mereka ikut."
"Iya, Pak... Mba Winda, juga bilang begitu. Sabar, ya, Pak. Siapa tahu, dengan berpisah sementara, cinta keluarga ini semakin erat."
"Pandai juga kamu menasehati saya, Gus," ledek edra padanya.
Pov Rubby.
Dua hari Mas edra pergi, aku bersama Ibu dan Kak fitri dirumah, menemani ku, dan menjagaku agar tak kesepian.
"Bu, By kontraksi," ucapku pada Ibu malam itu.
"Ya Allah... By sudah yakin?"
"Yakin sekali, Bu." jawabku.
Aku sadar, kali ini aku sendirian. Tak. Ada Kakak, bahkan suamiku pun, sedang berada diluar negri. Jadi, aku mengatur diriku sendiri agar lebih tenang dalam persalinan kali ini.
Bang Halim segera memanaskan mobilnya, lalu mengangkat beberapa barangku yang akan ku bawa.
"Kak Fit, jagain Maliq, ya? Sama Bik inah juga, tolong jaga Maliq." pesanku pada mereka.
__ADS_1
"Bibik... Ngga usah ikut, By?"
"Udah... Ngga papa. Semua sudah siap, By tinggal masuk, dan opname aja." balasku.
Aku masuk kemobil, dan menikmati detik tiap detik kontraksi yang mulai kurasakan. Semakin lama, semakin sering.
Setibanya di Rumah Sakit, aku langsung dibawa masuk kedalam ruangan. Tapi, karna suatu hal, aku harus kembali diinfus, dan dioasang selamg oksigen untuk kelahiran kali ini. Prosesnya pun cukup lama, sempat membuatku ingin menangis, namun Ibu menguatkanku.
"By, Mas nelpon," ucap Bang Ramlan, dengan memberikan Hpnya padaku.
Telepon, kurubah menjadi Video Call.
"Mas," sapa ku pada Mas edra.
Wajahnya begitu terkejut, melihatku yang memakai selang oksigen, karna sangat berbeda dengan sa'at kelahiran Maliq, dimana semuanya normal dan baik-baik saja.
"Ya Allah, sayang, By kenapa sampai dioksigen?"
"Ngga papa, Mas. Buat jaga-jaga aja, semuanya baik 'kok, Mas ngga usah khawatir." jawabku, berusaha menenangkan.
"Bagaimana Mas bisa tenang? Mas pulang sekarang, ya?"
"Disana malam, sedang disini siang, Mas baru saja selesai rapat, hanya tinggal menunggu keputusan. Jangan matikan Hpnya, Mas mau menemani, By, meskipun lewat Video." bujuknya padaku.
"Iya... Ganti Hp By aja, ya. Nanti By taruh Hp nya dimeja, supaya Mas bisa nemenin." bujuk ku padanya.
Mas edra mengangguk, meskipun deraian air mata mengalir dipelupuk matanya.
Kontraksi sudah semakin sering kurasakan, pembuka'an pun sudah lengkap. Dokter mulai menginstruksi ku untuk mengejan, ketika dirasa sudah siap.
Berkali-kali aku mengejan, dan berkali-kali pula, Bang halim mewakili Mas edra mengelap keringatku.
Kuihat sekilas di layar Hp, Mas edra berdo'a sambil bestasbih, dengan air mata yang membanjiri pipinya. Itu kekuatanku, itu yang membuatku semakin semangat, dan mengerahkan seluruh tenagaku untuk yang kesekian kali.
Dan akhirnya, pukul 03.00 pagi suara Bayi yang dengan lantang menangis diruangan ku. Ya, itu anak keduaku, yang lahir tanpa ditemani Bunda, bahkan ayahnya sendiri. Tapi, aku bahagia, Mas edra pun begitu bahagia melihatnya.
Bayiku dibawa untuk dibersihkan dan dibedong, sedangkan Dokter sedang membereskanku di tempat tidur.
Ibu menggendong Bayiku, dan Bang halim menempelkan Hp ku ke ketelinganya, lalu mengadzani nya. Setelahnya, Ibu memberikan Bayi itu padaku, dan kami berbicara.
__ADS_1
"Cowok, Mas... Mau dikasih nama siapa?" tanya ku dengan semangat, meskipun lemah.
"Semoga menjadi anak yang kuat, dan Mas mau beri nama Bram, Brama Kumbara."
Aku menyunggingkan senyum ku, "Bagus, Hay, Bram. Brama kumbara, selamat datang kedunia, dan menjadi teman Mas Maliq, ya."
"Andaikan sa'at ini bisa memelukmu, Mas. Dan melihat senyum Kakak, walau dalam mimpi," harapku.
Ke'esokan harinya, karna kondisi ky sudah membaik, aku di izin kan pulang cepat. Karena jujur, aku taj betah berlama-lama dirumah sakit.
Ibu membantuku bersiap, dan aku memegang Bram dalam gendonganku, dan tiba-tiba pintu terbuka.
"Assalamu'alaikum...."
Mataku terbelalak, menatap seseorang yang masuk kedalam ruangan, bahagia, terharu, namun aku tak bisa berlari seperti biasa, ketika Ia merentangkan tanganya untuk ku.
Pov Edra.
Cukup di sana, diam dan tersenyum manis, aku yang akan menghampirimu, bukan kamu, yang menghampiriku.
Ku peluk tubuh lelahnya, ku cium keningnya, dan ku belai rambutnya yang belum tertutup hijab itu.
"Terimakasih, sayang... Ma'af, Mas datang telat. Mas sudah berusaha mencari tiket paling cepat. Tapi, By tahu sendiri, pagi disini, disana malam." ucapku padanya.
"Ngga papa... Yang penting, Mas sudah disini sekarang. Ngga bisa nemenin berangkat, jemput pulang pun, By sudah bersyukur." jawabnya.
Aku semakin mencintaimu, bahkan terlampu mencintaimu, tanpa pernah melupakan cinta pertamaku.
Ku dorong kursi rodanya, keluar Rumah Sakit, dengan Bram digendong Ibu. Lalu, kami masuk kemobil dan berjalan pulang.
Sesampainya dirumah, sudah ku persiapkan sebuah pesta menyambut kepulanganya dengan meriah, bersama Rara, Thomas, dan rekan lainya, tanpa terkecuali, Ramlan dan Maya.
Semua memberi ucapan selamat atas lahirnya Brama kumbara kami,
Memberinya berbagai macam hadiah dan mendo'akan yang terbaik untuknya. Bahagia tiada tara, itu yang kurasa hari ini.
Aku yang baru datang, begitu merindukan Maliq, dan menggendongnya yang sedang bermain diruang bermainya, mengajaknya menatap semua kebahagia'an ini.
"Dee, apakah... Kamu melihatnya? Kami bahagia sekarang."
__ADS_1