
Aku melihat Diana terdiam bingung menjawab tantangan dari Ku.
"Dee... Bagaimana?"
"By cerita ya, kalau Aku udah males kemo?" tanya Nya balik.
"By hanya khawatir dengan Mu,"
"Mas... Dee capek,"
"Dee... Mas janji juga sama Kamu, kalau kamu rajin kemo, bahkan Mas akan ajak By honeymoon untuk memeprcepat proses hamilnya, Kamu ngga cemburu 'kan?"
"Benarkah, Mas? Baik lah, tapi jangan rubby yang nemenin. Itu bahaya buat Dia, takutnya rencana kita gagal," rengek Nya manja.
"Iya... Besok Mas sendiri yang akan menemani Kamu."
"Baik lah... Makasih ya, Mas." ucap Nya dengan penuh harap.
"Maaf jika telah memberi banyak harapan padamu, Dee. Ini semua demi kamu. Mas juga hanya bisa berjanji, selebihnya biarlah Allah yang mengatur, kamu sabar ya sayang," ucap Ku dalam hati.
"Sekarang, kita temui Rubby yuk. Dia nyiapin makan malem," ajak Ku dengan menggandeng tangan nya.
Kami menuruni anak tangga dengan perlahan, dan melihat Rubby dibantu Bik Inah sedang mempersiapkan meja makan dengan rapi. Saat Ia melihat kami turun, Rubby langsung menyambut kami dengan senyum manisnya.
" Kak, Mas... Udah turun, ayo cepetan makan. By udah laper," ajak Nya pada Kami.
Kami pun menuruti nya, dan segera menyantap makanan yang Ia sediakam.
Suasana mendadak hening, karna kami menikmati makanan dipiring masing-masing.
"By..."
"Iya, Kak. Kenapa?"
"Mas Edra mau ajak Kamu honeymoon,"
"Uhuukk... Uhhukkk... Apa, Kak?" tanya Rubby dengan terbata.
"Iya... Mas Edra mau ngajak honeymoon," jelas Dee.
"Dee... Kenapa membicarakan itu disini? Kita 'kan lagi makan," tegur Ku, pada nya.
"Maaf... Dee cuma seneng. Jadi keceplosan," balas Diana, lalu menutup mulutnya.
"Bulan madu? Tapi kalau By sama Mas Edra pergi, Kak Dee gimana?" tanya Rubby.
"By... Sekali-kali, kamu harus pentingin diri kamu sendiri, jangan Kakak terus. Kakak sehat 'kok. Besok Kemo biar ditemenin Mas Edra aja, jangan Kamu." jawab Diana.
"Kak... Tapi, _"
__ADS_1
"By... Nurut, Ya. Nanti Mas jelasin dikamar," potong Ku.
"Iya..." balas Nya dengan wajah kesal.
Selesai makan, Rubby memberikan obat malam pada Diana, dan mengajak Nya kekamar.
Pov Rubby.
Aku kesal, dan jengkel saat ini. Kenapa mereka memutuskan sesuatu tanpa minta persetujuan dari Ku. Biarpun Aku hanya Madu, tapu bukan kah aku memiliki Hak untuk bicara dan mengemukakan pendapat. Entah Lah, hanya menunggu penjelasan Mas Edra sekarang.
"Kak... Istirahat, ya. By kekamar dulu," pamit Ku.
"Iya... Besok siapin aja yang mau dibawa kemo ya, By"
"He'em..." balas Ku singkat.
Aku segera keluar, dan menuju kamarku menemui Mas Edra yang memang sudah menunggu.
"By... Diana sudah tidur?"
"Udah... Sekarang, Mas jelasin, kenapa Mau bukan madu segala? Padahal Kak Dee sedang butuh perawatan ekstra." omel Ku.
"By... Tadi Mas bilang begitu untuk merayu Dia, agar mau di Kemo besok."
"Tapi ngga harus pergi, Mas. Janji yang lain kan bisa,"
"Karna yang buat Dia patuh hanya itu, By. Mas janji sama Dia, jika Dee patuh, maka kita akan mempercepat proses agar kamu cepat hamil," jelas Nya dengan menunduk kan kepala.
Aku memijati kening Ku, dan menahan kesal Ku. Aku tak bisa marah dengab nada keras, karna Aku takut, Kak Dee akan mendengar Nya.
"By... Dalam keadaan seperti ini, harapan indah lah yang bisa merayu Diana. Mas tahu Kamu marah dan kesal, tapi hanya itu yang bisa Mas janjikan pada Nya."
"Tapi, Mas...."
"By... Yang penting sekarang, Dia menurut dulu dan mau di Kemo,"
"Lantas, harus kah By tinggal dirumah besok?"
"Iya... Kamu tahu Kakak Mu bagaimana. Biar Mas saja yang menemaninya. Dikantor tidak terlalu sibuk, dan Winda sudah mengatur jadwal ulang, untuk lusa."
"Mas hari ini sama By?" tanya Ku balik.
"Iya... Salah satu isi perjanjian nya seperti itu. Mas Janji akan lebih sering bersama By sekarang. Kenapa? By tidak suka?"
"Ehmmm... Suka sih. Tapi,"
"By tidak rindu sama Mas?" tanya Mas Edra dengan merentangkan tangan Nya.
"Rindu...." ucap ku manja, dan menghampiri nya.
__ADS_1
Perasaan itu memang muncul dengan sendirinya, menyesuaikan dengan kebiasaan. Seperti perasaan Ku pada Mas Edra sekarang.
Dulu Ia begitu dingin pada Ku, begitu juga Aku yang kikuk saat berdekatan dengan Nya. Tapi, seiring berjalan nya waktu. Benih-benih Cinta itu seperti sudah mulai tumbuh. Terlebih lagi, kami sama-sama mempunyai keinginan besar untuk menjaga dan melindungi Kak Dee. Meskipun, lebih banyak Kak Dee yang selalu pasang badan untuk melindungi Ku.
.
.
.
Pagi datang, Ku bangun Kan Mas Edra untuk mandi dan bersiap mengantar Kak Dee ke Rumah Sakit hari ini. Sedangkan Aku, kekamar Kak Dee dan mempersiapkan Dia untuk berangkat.
"Mas... Pakaian nya udah By siapin. By mau kekamar Kakak dulu," pamit Ku.
Mad Edra hanya berdehem, dengan masih berbalut selimut tebal.
Aku masuk ke kamar Kak Dee, dan melihat Ia sedang shalat subuh, dan memanjatkan Do'a dengan tangis dipipi nya. Tapi, Aku tak tahu dengan apa Do'a yang Ia lantun kan.
" Kak... Udah shalatnya?"
"By... Udah kok, Mas Edra udah bangun?" tanya Nya.
"Belum... Tadi udah By bangunin, tapi cuma ngulet aja," jawab Ku.
"Keramas, By?" ledek Nya.
Aku hanya tersenyum tersipu malu, mendengar ucapan Nya.
"Ngga papa, ngga usah malu sama Kakak. Kakak malah seneng, siapa tabu cepet jadi," ledek Nya lagi.
"Kak... Jangan ngeledek terus," tegur Ku.
"Iya... Maaf," senyum Nya.
"Yaudah, yuk Mandi." ajak Ku pada nya.
"Kakak mandi sendiri aja, bisa kok,"
Aku mengangguk dan kubiarkan Ia masuk kekamar mandi, dan mandi sendiri dan Aku menunggu nya dengan duduk dikursi rias nya.
Setelah mandi dan ganti pakaian, Ia duduk dimeja rias, dan ku sisir rambutnya yang semakin menipis, bahkan nyaris habis. Ku pasangkan Wig panjang warna brown untuk Nya, agar terlihat lebih cantik.
"Kak... Pake lipstik merah, ya. Biar kelihatan seger,"
"Sekarang seger. Nanti balik kemo ya pucet lagi, By."
"Ngga papa, lah. Yang penting cantik," goda Ku.
Setekah semua siap, dan kamu semua sudah sarapan. Kak Dee dan Mas Edra Pun berangkat menuju Rumah Sakit untuk menjalani kemo nya.
__ADS_1
"Semoga saja, Kak. Kemo kali ini tidak separah kemarin efeknya. Semoga saja, tubh Kakak menerima dengan baik semua pengobatan yang diberikan, Kak." Do'a Ku, dalam Hati. Saat melihat mereka pergi dari hadapan Ku.