
Pov Rubby.
Acara berlangsung sesuai rencana, aku duduk memperhatikan semuanya, penyambutan, penyerahan, hingga sa'at aku menandatangani semua dokumen penting yang diajukan untukku, ditemani Mas edra dan Mba Rara disampingku.
"By, selamat, ya. Semoga, apa yang menjadi keputusan Diana, menjadi yang terbaik untuk kita semua." ujar Mba rara padaku.
"Iya, Mba, Aamin." ucapku, sambil memeluknya.
Acara selesai, semua orang menyalamiku memberikan selamat, meski aku tak tahu, mana yang tertawa bersamaku, dan mana yabg sedang mentertawaiku.
Aku menggandeng Mas edra keluar ruangan, karna khawatir akan Maliq yang tiada kabar.
"Kita mau kemana sayang?" tanya Mas edra.
"Nyari Maliq sama Winda. Daritadi ngga ada kabar, menghilang kemana mereka?"
"Yang penting 'kan Maliq anteng."
"Justru By khawatir, kalau Maliq nangis terus, tapi Winda kerepotan dan ngga enak ganggu rapatnya."sanggah ku.
Pov edra.
"Kembali lagi dengan kecerobohanmu, terlalu fokus dengan hp, hingga tak melihat kanan kiri, bahkan apa yang ada didepanmu," batinku, dengan memperhatikan tingkahnya.
Sebuah tiang tepat ada dihadapanya, namun tak Ia perhatikan. Aku berjalan kr arah tiang itu, dan menempatkan tubuhky tepat didepanya, dan juga di arah dimana Rubby berjalan.
Bruuugh...! Aku memegangi dada ku yang sakit, karna dihantam oleh tubuhnya.
"Mas ngapain disitu? Nempel-nempel tembok?" tanya nya.
"Kalo Mas ngga nempel tiang ini, itu kepala mu bisa benjol. Mau?" omelku.
Rubby hanya tertawa menatapku, lalu menggandeng tanganku erat, kembali mencari Maliq dan Winda.
Akhirnya kami menemukanya, Maliq sedang manjadi bahan kegemasan para pegawai disna, dan sama sekali tidak rewel, justru begitu tenang dan tertawa lepas ketika bermain.
"Kan... Maliq ngga papa, By terlalu khawatir,"
"Wajar By khawatir, itu Maliq biasanya ngga mai sama siapa-siapa. Takut ngerepotin Mba winda juga 'kan?"
__ADS_1
"Ngga papa, Sekalian Winda belajar momong, Dia kan mau nikah." jawab ku padanya.
"Hah, Mba win mau nikah? Bakalan cuti dong?"
"Iya, tapi bentar, Bu. Sebenarnya peraturan perusaha'an ngga boleh, tapi karna kinerja saya alhamdulillah bagus, jadi dapet keringanan." jawab Winda, tersipu malu.
"Wah... Selamat ya, ditunggu lho undanganya."
"Undangan apa'an, kita malah diminta jadi saksi kok," sanggahku padanya.
Istriku tercinta itu, hanya terbelalak, dan menutup mulut dengan satu tanganya.
"Iya, Bu... Ma'af merepotkan," balas Winda.
*
*
*
"Mas, mampir ke makam Kakak ya,"
"Hmmm, sekarang?" tanyaku, yang masih fokus menyetir mobil.
"Okelah, kita mampir," jawabku, dengan mempercepat laju mobil.
Tiba di pemakaman, aku meminta Maliq dari tanganya.
"By saja, Maliq jangan dibawa. Sampai kan salam kami," ucapku padanya.
Pov Rubby.
Aku melangkah pelan menyusuri pemakaman itu, mencari makam Kak Dee, yang jujur saja, aku belum mengetahui tempatnya. Mas edra hanya menunjuk arahnya, dan aku mencarinya sendiri.
Tiba disebuah makam bertuliskan Namanya, aku duduk bersimpuh dan menlafadzkan do'a untuknya.
"Kak... Kakak kok mau ngasih perusaha'an ke By ngga bilang dulu? Kan By bisa belajar dari awal. Jadi, By ngga bego-bego amat waktu ketemu sama Colega Kakak yang kalangan atas itu. By malu tahu, waktu diajak ngobrol malah ngga nyambung, ongak ongok kayak apa aja gitu. Untung ada Mas Thomas sama Mba rara tadi. Eh iya, By minta ma'af, kalau By sekarang bisa nya nyela mulu. Sampai dihari terakhir aja, By ngajak Kakak debat tentang pengasuhan Maliq. By jahat banget ya?"
Air mata mulai mengalir dipipi ku, mengusap batu nisan nya yang berdebu.
__ADS_1
"Kakak kedinginan ngga? Eh, tapi Kakak lebih suka dingin daripada panas kan ya? Jadi aman kan disana? Maliq udah mulai tenang sekarang, udah ngga rewel lagi nyari'in Bundanya. Terlebih lagi, perhatian Mas udah mulai berubah sama By. Meski kadang, By masih ragu, itu benar-benar dari hatinya, atau hanya sebatas.... Ah, sudah lah. Nanti Kakak ngomel lagi, kalau By ngomong itu. " senyumku, tertahan.
Aku melihat beberapa mawar putih yang mengering yang tergeletak disana. Bertanya-tanya dalam hati, itu dari siapa.
"Kak... Mas kasih ini kah? Kok Mas jahat, kan Kakak alergi bunga," gerutuku. "Eh iya, Kakak udah ngga ngerasin alergi lagi sekarang. Jadi bisa nerima bunga dari Mas. Udah dulu ya, Kak. Kasihan Maliq nungguin,"
Aku mencium batu nisan tersebut, dan kembali mengusap air mataku, berdiri, dan melanjutkan perjalananku.
"Mas kirim bunga ke Kakak?" tanya ku.
"Hmmm? Iya, ngga papa kan?"
"Ya ngga papa lah, Kakak udah ngga alergi lagi. Jadi bebas aja sekarang. Makamnya jadi wangi sama bunga." jawabku.
"Sadar By, kamu akan tetap menjadi yang kedua. Meskipun posisimu berubah sekarang. Tak ada yang menggantikan Kak Dee dihatinya."
"Mas..."
"Iya sayang?"
"By lihat tadi, mobil para colega keren-keren. Lamborghini, Hamer, pokoknya apalah itu. Kenapa Mas bertahan sama Rush? Dikira orang ngga mewah loh."
"Harus terlihat mewah kah, atau memang mewah? Kadang hidup tak harus menuruti nafsu, By. Bisa jadi, mereka bermewah dengan beberpa keterpaksa'an yang menjerat."
"Hmmm... Ada kenangan khusus kah dengan mobil ini?"
"Ya... Mobil ini, adalah hasil pertama ketika Mas mengelola perusaha'an yang dipegang Kakak. Kakak yang menemani Mas berjuang mendirikan semuanya, menabung, dan membantu Mas hingga mendapatkan mobil ini, Mobil ini legend tau.... Kenapa emang?"
"Ya... Ngga papa sih, sebagian banyak membicarakan. Kenapa sang pemilik perusaha'an hanya menggunakan mobil ini dikeseharianya, katanya mobilnya ngga beda jauh sama mobil rakyat biasa." ledek ku.
"Ah... Biasa saja. Mereka hanya bisa berbicara tanpa tahu perjuangan kita. Tutp kedua telinga, tetap jalani hidup, sebagaimana yang membuat kita nyaman. Atau... By mau mobil baru? Nanti kita beli," tawarnya padaku.
"Ah... Engga, By cuma nanya, ngga minta dibeli'in."
"Hmmm.... Mas hanya ingin, Mas tak lupa dengan asal, karna dengan mobil ini, Mas ingat dengan perjuangan Mas dulu. Karna jujur, mempertahankan itu sulit, tak seperti sa'at meraih, By faham kan?"
"Iya, faham... Kadang memang perlu mempertahankan sesuatu yang mungkin itu jelek, untuk mengingat dari mana kita berasal."
"Ya... Bagi Mas, mas hanya meneruskan perusaha'an keluarga, sedang perusaha'an Diana, itu lah milik Mas sebenarnya."
__ADS_1
"Iya Mas... By inget cerita Kakak dengan perusaha'an itu." senyum ku padanya.
Kami berbalas senyum, dan si kecil Maliq pun ikut andil didalamnya. Bayi kecilku yang semakin menggemaskan. Menjadi kekuatan terbesarku sekarang.