MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Harta Diana


__ADS_3

Pov Rubby.


Hari ini, kami memutuskan untuk menjalani hidup baru dengan labih baik, namun bukan berarti melupakan Kak Dee. Karna beliau nomor satu dihati kami.


Pagi ini, kiriman paketku datang. Paket besar, berupa foto Mas Edra dan Kakak yang naik perahu bersama. Meskipun terlihat sedikit takut, tapi mereka menggemas kan bagiku.


"Apa itu sayang?" tanya Mas Edra yang sedang menggendong Maliq.


"Lihat deh, Mas. Bagus, kan? Ini foto Mas sama Kakak waktu naik perahu kemarin. By fotoin diem-diem," jawabku.


"Kenapa dipajang disitu? Ngga dikamar aja?"


"Engga lah Mas. Kemarin kan... Mau nyuci fotonya belum sempet, kana lahiran, mana... Ah sudah lah. Sini Maliqnya. Mas mau kerja 'kan?" tanya ku dengan meminta Maliq dari gendonganya.


"Mas berangkat dulu ya, sayang. Baik-baik dirumah, sabar ngejagain Maliqnya."


"Iya, Mas, Mas yang hati-hati dijalan." jawabku dengan mencium tanganya.


Mas edra berangkat ke kantor nya, dan Aku mengajak Maliq keteras belakang, mengurusi tanaman Kakak yang beberapa hari tak terurus.


Hari ini Maliq begitu tenang diatas strollernya. Menunggu ku bermain dengan bunga-bunga dan dedaunan.


"Maliq suka sama taneman? Ini taneman Bunda. Kita rawat ya sayang," ucapku padanya, dan Ia hanya membalas dengan tawa cerianya.


Maliq Kumbara, itu nama yang diberikan Kak Dee padanya. Berharap, Ia akan menjadi orang yang kuat, berpendirian, dan bisa melindungi orang disekitarnya.


Kadang, aku sempat berfikir, andaikan Maliq tak lahir, Kak Dee pasti akan bertaha hingga sekarang, karna Memang, Ia lah yang ditunggu selama ini.


Tapi, aku tak bisa egois. Pergnya Kak Dee sekarang pun dalam keada'an tenang, dan bahagia. Aku hanya bisa bersyukur, dengan apa yang telah Ia tinggalkan pada kami.


Hp ku berbunyi, Mas Thomas menelpon ku.


"Hallo, Mas, Kenapa?"


"By... Bisa kekantor? Ada yang harus ditanda tangani olehmu?"


"Kantor siapa Mas?"


"Kantor Diana. Dee... Tidak memberitahu apa-apa padamu?" tanya nya.


"Apa? By ngga ngerti, Kakak ngga ada ngomong apa-apa," jawabkh dengan heran.


"Kekantor saja... Minta Mas Bima, agar membawamu kemari."


"Ba... Baik, By akan segera kesana." balasku.

__ADS_1


Aku segera bersiap, dan meminta Mas Bima mengantarku, bersama Maliq yang ku gendong. Maliq selalu ku bawa kemanapun, karna Ia tak mau dengan yang lain.


"Kemana Nyonya?" tanya nya lembut.


"Kekantor Kakak, tahu kan?"


Mas Bima hanya mengangguk, dan mulai menjalankan mobilnya.


*


*


*


"Sudah sampai, Nyonya." ucap Mas Bima, ketika memarkir mobil dihalaman kantor yang luas itu.


Aku perlahan masuk, dan mengagumi kemegahan kantor Kak Dee.


"By... Sudah sampai?" tegur Mba rara padaku.


"Mba... Kenapa By dipanggil?"


"By benar-benar ngga tahu? Kenapa bawa Maliq?"


"Iya, benar-benar ngga tahu, kalau Mas Thomas ngga nelpon. Dan Maliq... Dia ngga mau sama yang lain, makanya By bawa."


Aku semakin terpana melihat isi didalam kantor, yang melayani jasa pengiriman tersebut.


"Hay Mas. Ini, aku ketemu Rubby didepan," ucap Mba rara pada Mas Thomas.


"Oh, iya... Kemari By, silahkan duduk." pinta Mas thomas padaku.


Aku menurutinya, dengan menimang Maliq yang tertidur digendonganku.


"Ada apa, Mas? Kenapa, penting sekali sepertinya?"


"Begini... Sebenarnya, Diana sudah merencanakan ini jauh dari sebelum kamu hamil Maliq. Bahwa... Ia ingin memberikan semua asetnya padamu, jika kamu benar-benar hamil suatu sa'at nanti."


Aku tersentak kaget dengan ucapan itu, tak menyangka, jika Kakak akan bertindak sejauh ini untuk ku dan Maliq.


"Kenapa By, Mas? By ngga tahu apa-apa tentang perusaha'an. Apalagi, perusaha'an sebesar ini. By hanya lulusa D3 keperawatan." jawabku.


"By... Kami disini hanya menjalankan tugas yang diberikan Almarhumah. Ini semua untuk Maliq dan kamu, kamu tidak bisa menolak."


"Astaghfirullahaladzim," aku menundukan kepalaku, lalu menangis dihadapan mereka.

__ADS_1


"By kenapa?" tanya Mba rara, mengelus pundak ku.


"Mba... By ngga tahu harus apa dengan ini semua. By hanya bisa menitipkan kembali dengan kalian. By takut, takut ngga benar mengemban amanat ini." jawabku.


"By tenang. Kami akan membantu mengelolanya, seperti waktu kami membantu Diana. Kami akan jaga amanat itu, karna Diana pun memintanya pada kami." jawab Mba rara.


Aku menagis tersedu-sedu, untung saja Maliq tetap tenang dipangkuanku.


"Boleh By minta sesuatu?"


"Apa, By?"


"Bolehkah, perusaha'an ini menjadi Donatur tetap ke Yayasan Perduli Kanker? Seperti yang Kak Dee inginkan. Hanya itu, yang By bisa buat atas nama Kakak. Sebagai amal jariyahnya."


"Sangat bisa... Besok kita urus ya, Mba sendiri yang akan ngantar By kesana." jawabnya.


"Besok... Kita akan adakan rapat dewan direksi. Mas harap, By bisa hadir disana untuk menandatangani semuanya. Bagaimana?"


"Insya allah. Mas edra boleh datang 'kan? Karna jujur, By ngga ngerti dengan itu semua. Ma' af, bukanya ngga percaya sama Mas dan Mba."


"It's okay... Bicarakan saja padanya baik-baik. Karna memang, semua perlu kejelasan." jawab Mas Thomas.


"Baik... By boleh pulang? Kasihan Maliq kalau diluar kelama'an,"


"Iya, ngga papa. Mari, Mba antar." ucap Mba rara, lalu berjalan didepanku.


Sepanjang jalan, aku melamun. Menyesali semua yang terjadi, ketika aku menyanggah kata-kata Kakak, dan melarangnya memanjakan Maliq.


"Andai saja aku tahu, jika itu hari terakhirnya.... Semua yang Ia lakukan tak akan pernah aku sanggah. Andaikan aku tahu, Ia tak akan bangun lagi. Maka akan ku ajak berjama'ah bersama untuk terakhir kalinya. Sayangnya, aku tak tahu semua itu akan terjadi. Ma'af Kak, By tidak bisa manis, dan menberi Kakak senyum dihari itu." gumamku.


Maliq menangis, lalu aku menyusuinya dibelakang, dengan tirai yang sudah disediakan dalam mobil.


"Mas Bima..."


"Iya?"


"Kekantor Mas, ya? Belum lewat 'kan?"


"Belum Nyonya."


"Baik... Tolong antar kesana, ya." pintaku padanya.


Mas Bima sampai, dan aku segera turun, mencari ruangan Mas edra. Ketika masuk, agenda seperti biasa pun dilakukan, Merentangkan tanganya, lalu memeluk ku, bersama Maliq diantara kami.


"By darimana?"

__ADS_1


"By... Tadi dipanggil Mas Thomas kekantor. Mereka bilang, Perusaha'an itu dihibahkan pada By dan Maliq. Mas tahu?"


"Ya... Mas tahu, hanya saja, Mas pura-pura tak tahu dihadapan Diana. Ma'af, Mas ngga memberi tahu By dari awal."


__ADS_2