
"By... By ngga papa?" tanya Bang ramlan, dengan khawatir.
"By ngga papa, pegel dikit pinggangnya. Ngga harus dibawa kerumah sakit, Ibu aja yang pejitin." jawabku.
"Ngga boleh bilang begitu. Diana bilang kandungan mu rawan, jadi harus segera diperiksa." sahut Ibu.
"Kak Dee itu orangnya cemasan, makanya dia bilang gitu, udah deh... Pulang aja yuk," rengek ku.
"Ngga bisa... Periksa dulu sebentar," tegas Bang ramlan, yang membuatku langsung diam.
"Iya... Tapi jangan kasih tahu Mas saka Kak dee dulu, nanti belum apa-apa mereka udah cemas sana sini lagi," jawabku pasrah.
Sesampainya dirumah sakit, mereka membawaku ke IGD untk diperiksa. Para perawat dengan sigap membawakan kursi roda untuk ku, namun aku lebih memilih berjalan sendiri menuju ruangan.
"Bu... Ini kursi rodanya," teriaknya.
"Engga... Saya kuat jalan sendiri," sahutku.
"Lah... Terus ngapain ke Rumah Sakit kalau sehat?" gumam perawat itu.
"Ma'af ya, Sus. Anak saya tadi keserempet mobil, terus jatuh sedikit, jadi saya mau periksa'in." balas Ibu, pada Suster tersebut.
Akhirnya Suster pun mengangguk, dan kembali keruangan. Ia segera memeriksaku, melakukan USG, dan memeriksa keada'an perutku.
"Bu... Dokternya lagi ada Operasi, jadi saya wakilin aja atas arahan Beliau. Alhamdulillah ngga papa, semuanya sehat, memar juga ngga ada. Ibu ada pusing, mual?"
"Engga, Sus...."
"Oke... Sehat semua, aman. Vitaminya diminum terus 'kan?"
"Iya... Jadwal kontrol saya minggu depan lagi,"
"Oke... Ngga ada apa-apa, sakit pingganya itu hal yang wajar, karna abis jatuh juga, kasi aja koyok, atau diurut dikit sembuh," ujar Suster yang mengani ku.
"Kan, Bu... By ngga papa, kayak gini neyekolahin anaknya perawat, tapi giliran dikasih tahu malah ngeyel." omelku pada Ibu.
"Iya, Ibu kan hanya khawatir, tak salah 'kan?" jawab Ibu.
"Tak salah, Bu... Itu wajar. Baiklah, sekarang boleh pulang, tapi hati-hati dijalan, ya."
__ADS_1
"Baik Sus, kami permisi." jawabku, lalu keluar ruangan dengan menggandeng Ibu.
Pov Author.
Disisi lain Rumah sakit. Ternyata Diana sedang memeriksakan keada'anya sendiri. Iya, Ia telah berbohong pada semuanya dengan alasan akan kekantor, tapi nyatanya memeriksakan penyakitnya disana.
"Dee... Sudah sejak kapan B*B mu itu berdarah, sudah lama?" tanya dokter padanya.
"Sudah... Satu minggu ini, Dok. Bahaya kah?" tanya Diana.
"Kalau dibilang tidak berbahaya, itu juga salah. Ini mungkin faktor kamu mengkonsumsi obat-obatan dalam jangka waktu yang lama. Dan... Dosisnya selalu naik." balas Dokter.
"Dok... Berapa lama sisa umur saya?"
"Dee... Saya bukan peramal, yang bisa menebak usia orang, Dee. Saya hanya dokter. Dokter mengobati dan penyakit mu agar tak lebih parah lagi."
"Tapi kenyata'anya, tubuhku sendiri seolah menolaknya. Apa tidak ada kemungkinan lain, masih banyak yang harus saya selesaikan. Tak akan tenang jika saya mati dengan menggantungkan semua jawaban, dalam hati saya."
"Dee, Jujur saja... Dalam beberapa kasus yang sama, yang pernah saya temui, bahkan saya tangani. Kamu adalah yang paling beruntung menurut saya. Karna kamu bisa bertahan sejauh ini, dari awal diagnosa itu. Kamu harus bersyukur,"
"Bersyukur? Ya... Setidaknya di sisa umur ini, aku sudah merasa memiliki keluargaku secara utuh. Semoga masih bisa menunggu hingga Bayi itu lahir," jawab Diana, yang mulai mengeluarkan bulir-bulir airmata dipipi.
Diana mengusap air matanya, dan menunjukan senyumnya kembali.
"Baiklah... Kalau begitu saya pamit. Mengenai pertemuan ini... Tolong jangan bicarakan pada Mas edra."
"Baiklah... Selamat jalan, do'aku menyertaimu, Dee."
"He'emh...." ujar Diana. Lalu keluar dari ruangan itu.
Dengan langkah gontai, Diana menyusuri lorong Rumah Sakit, menuju keluar, dan pulang. Tapi, melewati Ruang IGD, Ia melihat Halim sedang duduk diruang tunggu.
"Halim? Kenapa disini?" tanya Diana.
"Hah... Kak, Dee... Ehmm anu, By tadi keluar dari Lapas, keserempet mobil, jatuh dikit sih, tapi katanya ngga papa."jawab Halim.
Diana lalu menghampiri Rubby diruangan perawatanya, dan mulai memberondongnya dengan berbagai pertanya'an.
"By... Gimana bisa keserempet? Semuanya ngga papa 'kan?"
__ADS_1
"Loh... Kok Kakak tahu, By disini? Siapa kasih tahu?"
"Kakak tadi... Ada nengokin temen, terus lihat Halim duduk. Ini tadi kejadianya dimana?"
"Di Lapas, Dee. Ngga tahu, tadi tiba-tiba aja, ada mobil datang terus nyerempet Rubby. Abis itu, mobilnya langsung pergi gitu aja." jelas Bu lilis.
"Hah? Langsung pergi, adakah unsur kesengaja'an? Atau........."
"Kak... Udah deh, ngga usah kebanyakan suudzon gitu. By juga ngga papa, sehat nih."
"Yaudah... Kalo gitu, By langsung pulang, dan jangan kemana-mana lagi. Kakak mau kekantor."
Rubby meng'iyakan nya. Dan pulamg setelah perawatan selesai.
"Hallo, Mas.... By keserempet mobil tadi, Dee takut itu ulah Mama. Ma'af ya," ujar Dee pada edra melalui telepon.
"By baik-baik saja 'kan?"
"Baik... Dia sudah pulang kerumah."
"Oke... Aku akan menelpon Mama."
Mereka menutup telpon masing-masing, dan Edra menelpon Mamanya.
"Hallo sayang, akhirnya menelpon Mama. Ada apa?"
"Ma... Rubby kecelaka'an....."
"Hah? Terus.... Kamu mau bilang kalau Mama yang rencanain? Edra... Kamu jangan keterlaluan. Mama sudah tersiksa kamu kurung disini tanpa pegangan apapun. Bagaimana Mama bisa melakukan itu. Mama tidak suka Rubby, tapi tak mungkin mencelakakan calon cucu Mama. "
"Kali ini... Omongan Mama benar. Dan aku mempercayainya. Sebenci apapun Mama, Ia tidak akan membunuh Cucunya sendiri dengan cara seperti itu." batin edra.
Ia lalu menutup telpon nya, dan berfikir lagi, kira-kira apa yang terjadi sebenarnya. Masib adakah orang lain yang ingin mencelakai Rubby saat ini.
*LAPAS.
"Hay sayang, bagaimana keada'an hari ini?" tanya Bu Rina, yang menemui Ramlan dengan senyum ceria.
"Bu... Bukan Ibu 'kan, yang menyerempet Rubby tadi pagi didepan itu? Jika iya, Ramlan ngga akan pernah mema'afkan Ibu sampai kapan pun, Bu." tanya Ramlan, dengan tatapan tajam pada Ibunya.
__ADS_1
Bu Rina sedikit gugup, namun tetqp berusaha menunjukan wajah tenangnya, pada putra kesayanganya itu.