MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Merayu Mama.


__ADS_3

Paginya.


"Mas, jadi kerumah Mama mirna?"


"Jadi, nanti Mas berangkat, setelah sarapan."


"By ikut, Mas. Mau ambil barang yang ketinggalan." sahut Rubby.


"Barang apa? Biar Mas ambilin. Mama mirna sedang tidak stabil, takutnya malah, aneh-aneh nanti," jawab Edra.


"Yaudah, nanti By kirimin fotonya aja," jawabnya.


Selesai sarapan, edra pun bergegas pergi, dan meninggalkan istrinya dirumah.


"Ada rahasia apa, Kak?" tanya Rubby dengan nada datar.


"Apa, By? Rahasia apa?"


"Iya... Kakak sama Mas edra punya rahasia apa yang By ngga boleh tahu?"


"Kakak ngga ada rahasia, By. Makin banyak tanya ya, sekarang."


"Oke... By ngga boleh nanya? Yaudah, By diem. Kayaknya emang Kakak udah ngga perlu perawatan dari By sekarang. " jawab Rubby.


"By kenapa? Jangan memperumit masalah. Kakak sehat, ngga sakit."


"Kakak lupa, kalau sebelum ini, By adalah perawat Kakak, Kakak ngga bisa bohong sama By. Hhh, memang bisanya memperumit. Masalah, By sadar itu. Tapi andai Kakak tahu perasa'an By gimana sekarang. By ngga tahu apa-apa dengan semua masalah ini."


"By... Tolong,"


"Kakak tahu posisi By sekarang? By berada dalam posisi serba bingung. Bingung harus berbuat apa, meskipun memang By tidak bisa berbuat apa-apa dengan masalah kalian. Kakak tahu? By terlihat sangat bodoh disini. By merasa buta, meskipun dalam keada'an terang benderang. Dan By merasa tuli, meskipun berada ditengah kalian semua. Mau nanya, ngga tahu nanya ke siapa. Bener-bener kayak orang bodoh," ujarnya, dengan berlinangan air mata.

__ADS_1


"By... Ma'afin Kakak, Kakak hanya mikir, agar kamu ngga ikut dalam permasalahan ini. Kakak takut kamu stres, dan bisa berpengaruh pada bayi mu, Kakak ngga mau itu. Kakak pernah ngetasain kehilangan, perih sekali rasanya." ucapku, menenangkanya.


"Kak, setidaknya By tahu. Agar By ngga terlalu buta dengan semua ini, agar By bisa mengerti akan keada'an."


Akhirnya aku goyah, aku menceritakan semua yang telah ku rencanakan, dan Ia mendengarkan dengan seksama.


"Oke... By sekarang mengerti, ma'fin By, kalau By hanya bisa mempersulit keada'an. By hanya khawatir dengan Kakak. Kakak pergi pagi, pulang udah sore, dan sa'at Kakak pulang, seperti membawa masalah berat dalam hati Kakak."


"By... Kakak hanya tak ingin menambah beban fikiranmu. Percayalah, kami semua menyayangimu." bujuk ku.


"By tahu, By faham. Ma'af, kita sama-sama benahi ini semua, jangan ada lagi rahasia sebesar ini diantara kita. Kakak janji," ucapku, lalu memeluknya erat.


Pov Edra.


Aku datang kerumah Mama dengan perasa'an yang tertahan. Antata marah, penuh tanya, dan kasihan karna kondisinya sekarang. Tapi, biar bagaimanapun, Ia bersalah dalam kasus ini.


"Ma... Mama dimana?" panggilku.


"Edra, tumben kesini pagi-pagi sayang. Ngga kekantor?" tanya Mama dengan ramah.


"Bagaimana Mama bisa sibuk, jika Mama masih terkurung disini? Tolong Dra, bebasin Mama."


"Ma... Sebenarnya ada yang ingin edra tanyakan. Mama mau menjawabnya dengan jujur?"


"Apa yang engga buat Edra? Semuanya bahkan mama lakuin buat Edra. Apa sayang?"


Aku meraih hp ku, dan memperlihatlan foto barang bukti itu padanya. "Tentang ini... Dan tentang kematian Papa."


Mama menatap tajam foto itu. Raut wajahnya berubah tegang, matanya Nanar. Namun Ia tetap berusaha tenang.


"Siapa yang memberi edra foto ini? Diana? Darimana dia dapat, bisa-bisanya sakit tapi ngurusin beginian." ucap Mama dengan nada tenang.

__ADS_1


"Edra hanya minta penjelasan. Karna Diana, akan mengangkat kasus ini kembali, dan menjadikan Mama tersangka utama disini."


"Edra! Kamu anggap Mama pembunuh? Mama udah sering bilang, kalau itu semua kecelaka'an. Istri kamu itu depresi karna sudah terobsesi dengan kasus keguguran anaknya. Dia sa'at itu terjatuh, dan sayangnya, karna Papamu berniat ingin menolong, Papa pun jatuh dari tempat tidur dan meninggal. Ia depresi Dra karna melihat semua kejadian menyakitkan itu sendirian. Bahkan Mama tidak ada disana. Mana mungkin, Mama jadi tersangka utama. "


"Edra bertemu Pak Hadi,"


"Dimana kamu bertemu dia? Dia itu gila karna sudah kehilangan anaknya. Tak perlu percaya, pada orang yang suka mengkambing hitamkan orang lain dalam masalahnya sendiri."


"Ma... Semua bukti sudah jelas, Mama tidak bisa mengelak lagi. Jadi, Edra mohon dengan Mama, agar mau mengikuti semua proses yang berlaku. Agar nanti, hukuman Mama tidak semakin berat, Ma. Edra sendiri yang akan menemani Mama, edra janji."


"Edra tidak memberi Mama kesempatan membela diri? Edra tidak mau mendengarkan penjelasan Mama lebih jelas lagi?"


"Untuk apa lagi, Ma. Semua bukti dan saksi sudah lengkap. Hanya tinggal menunggu waktunya lagi. Please Ma, demi ketenangan kita semua. Edra tahu Mama sedih, tapi ini berurusan dengan hukum. Mama patuh ya, sama Edra?" bujuk ku dengan halus.


"Edra... Tidak malu jika Mama dipenjara?"


"Tidak, Ma... Mama sudah mau mempertanggungjawabkan semuanya, Edra senang. Mama mau nya Edra bahagia 'kan?"


Mama tak menjawab lagi, hanya diam dengan tatapan kosong yang entah mengarah kemana. Aku hanya mendiamkanya, lalu naik keatas untuk mengambil barang Rubby.


"Edra ambil barang Rubby yang ketinggalan, Ma. Mama disini aja, nanti kita ngobrol lagi."


Beberapa menit setelah aku mengambil semua barang Rubby, aku kembali ke Mama. Namun, Mama sudah tak melamun lagi. Mama terlihat biasa saja, seperti tak ada aoa-apa sebelum ini.


Mama mengajaku makan siang, melayani ku seperti biasanya, bahkan sempat menyuapi ku beberapa suapan, seperti dulu, sa'at aku masih kecil.


Pov Mirna.


"Diana... Diam-diam menjebak ku, dan menaikan kasus ini. Aku terkejut, aku salut akan keberanian dan kakuatanmu. Bahkan, kamu tak memberiku kesempatan untuk membela diri dan melawanmu. Baiklah, aku ikuti permainan mu. Demi Edraku."


Aku bergumam dalam hati, seraya menyuapi anak kesayanganku, Aledra. Ia yang sudah ku besarkan dan ku rawat dengan penuh cinta selama Tiga Puluh Tahun ini. Tanpa perlawanan, tanpa bantahan. Ia anak penurut, Ialah anak kesayangan ku. Dan hingga kini, tetap anak kesayangan ku.

__ADS_1


Akan ku lakukan, apa saja yang membuatnya bahagia, meskipun dengan itu, aku tak sengaja membunuh anak pembantu, bahkan suami ku sendiri. Itu semua karna Diana. Dialah sasaran ku sebenarnya. Tapi kenapa, Dia selalu lolos dan justru tetap bertahan dan kuat hingga sekarang.


Aku membencinya, sangat membencinya!


__ADS_2