MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Menyakiti dengan kelembutan


__ADS_3

Disebuah restaurant mewah berbintang lima itu, Mas Edra mengajak ku menemui semua rekan kerjanya. Jejeran mobil mewah yang tersusun rapi, menandakan betapa high class nya pertemuan itu.


Aku sempat insecure terhadap diri sendiri. Pantaskan Aku, yang hanya seorang perawat bergabung dengan mereka, sekelompok orang dengan pendidikan tinggi dan pandangan borjuis.


Tapi Mas Edra meyakin kan ku, bahwa selama aku menggenggam tangan nya, maka tak akan ada yang berani menyentuhku.


Langkah demi langkah ku ayun kan, memasuki ruangan yang sudah dipesan. Mas Edra membuka pintu itu, dan benar saja, semua mata tertuju pada kami.


Mata yang penuh tanda tanya, mata mereka yang seolah menatapku sebagai sorang penjahat. Meskipun, ada beberapa yang menyambutku dengan senyuman.


"Ehh, Mas Edra. Kali ini ngajak Rubby?" tanya Seorang teman.


"Iya, Ra, Diana masih ngga enak badan. Ngga papa kan ajak Dia?"


"Ngga papa lah, Mas. Sama aja. Hay By, kenalkan saya Rara rekan bisnis Mas Edra," sapa Wanita itu dengan ramah.


"Saya, Rubby... Mba," jawab Ku, dengan membalas jabatab tangan nya.


"Iya, saya tahu kok. Saya kemarin dateng ke pernikahan kalian. Tapi, saya buru-buru, jadi cepet pulang."


"Oh, iya terimakasih, Mba."


"By, Mas, nikmatin aja hidangan nya, ya. Saya mau nyambut tamu yang lain," pamit Rara, pada kami.


Mas Edra mengajak ku untuk mengambil minuman, dan duduk dikursi yang telah disediakan. Setelah itu, beberapa pelayan datang, dan memberi kami makanan untuk disantap.


" By...."


"Iya, Mas?"


"Kamu bersikap biasa aja, ya. Jangan canggung, nanti Mas tinggal sebentar untuk menemui beberapa rekan,"


"Iya, Mas. Ngga papa. By tunggu disini sambil makan," jawab Ku.


"Oke... Eh, itu temen Mas dateng. Mas pergi dulu, ya," pamit nya, dengan mengelus rambutku.


Selepas pergi nya, mas Edra. Aku mulai menikmati beberapa makanan yang sudah terhidang di mejaku dengan lahap. Aku lapar, karna memang belum makan sedari tadi.


Sedang asyik menikmati makanan, sepertinya beberapa wanita disebelah sedang menggunjingku.


"Eh, tau ngga. Itu si Edra, bawa istri muda nya,"


"Iya? Kok bisa ya, Diana nya mana. Mentang ada yang baru, yang lama ditinggal."


"Katanya si Diana sakit, makin parah."

__ADS_1


"Waah, kasihan. Lagi sakit begitu, ditinggal nikah lagi. Lagian mau-maunya sih dimadu."


"Mana katanya, ya. Itu madu nya adalah perawat pribadinya Diana loh."


"Aduh... Miris, saya aja dengernya sakit hati loh,, Mba. Kalau perawat pribadi itu kan, orang kepercayaan ya seharusnya. Tapi kok, malah nusuk dari belakang."


"Makanya, Jeng. Kita harus hati-hati, jangan kasih kepercayaan penuh sama orang luar. Itu, buktinya. Katanya gadis lugi dari kampung. Tapi, ngga selugu kenyataanya."


"Iya lah... Mas Edra itu kan, ganteng, tinggi, sukses dan tajir mlintir. Siapa yang ngga kesengsem. Gadis lugu aja bisa jadi pelakor, ngga habis fikir."


Hati ku sakit mendengarkan mereka yang saling berbicara sesuai versi mereka. Karna tak tahan, aku kemudian berdiri, ingin meninggalan pesta tersebut. Tapi, akj menabrak seseorang.


BUUUGH!


" Oh... Maaf, " ucap Ku.


" Rubby? " ucap Nya dengan datar.


" Hah... Mama Mirna," jawab Ku, terkejut.


"Sudah berani, ikut Edra pertemuan?" tanya Mama Mirna, dengan tetap menjaga keanggunan nya.


"Kak Dee, yang minta, Ma," jawab Ku, gugup.


"Kenapa kamu patuh? Cari muka?"


"Ngga usah nangis, sana, ambilin Mama minuman."


Perintahnya halus. Namun, menyimpan sejuta makna menyakitkan.


Segera ku ambilkan minuman untuk nya, lalu ku berikan.


"Ini... Ma,"


"Memang kalau udah ada jiwa pembatu nya, mau dibawa kemana aja ya nempel. Mau didandanin secantik apa juga, itu lebel udah terlanjur melekat sama Kamu," ujarNya lembut, namun menusuk tepat ke ulu hati.


Semua orang menatap kami. Aku hanya bisa terdiam, sebisa mungkin menahan tangis ku. Tapi, akhirnya pecah juga.


" Nangis, By? Kenapa nangis? Mama hanya bilanga yang sebenarnya, kan, "


Aku hanya mengangguk dan tak mampu menjawab lagi.


" Kamu, jangan merasa sudah naik kasta hanya karna Edra, mengajak mu kemari." ucap Nya dengan tenang.


"Apa, mau Mama terhadap saya?"

__ADS_1


"Tidak ada, hanya ingin membuat kamu sadar dengan posisi kamu saat ini, kamu sudah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga anak saya,"


"Ma... Saya bukan pelakor," balas Ku, sambil menyeka air mata.


Tapi, Mama mirna justru marah dan menyiram ku dengan air yang ada digelasnya dengan perlahan. Mengguyur dari kepala hingga kewajah Ku. "Terus apa, sebutan yang pas buat kamu?"


"MA!!!" teriak Mas Edra.


"Mas...." ucap Ku pelan.


Mas Edra menghampiri ku, Ia melepas Jas nya, dan memasangkan nya padaku, serta membersihkan wajah ku dengan tisu.


"Edra... Apa kabar, sayang?"


"Ma, sudah. Jangan buat Edra marah."


ujar Mas Edra, dengan menyembunyikan wajahku dalam dekapan nya.


"Kenapa marah? Bukankah, perkataan Mama itu benar? Dia itu,"


"Ma, Rubby bukan pembantu, dan Rubby juga bukan pelakor. Mama dengar?"


"Sayang, Mama hanya-"


"Stop, Ma. Cukup, Edra pulang. Edra ngga mau ngelawan Mama disini,"


Mas Edra melangkahkan kaki nya keluar dari lingkungan itu, dengan aku yang tetap dalam dekapan nya.


"Masuk mobil, By," pinta Nya padaku.


Setelah itu, Ia pun masuk ke mobil nya, dan mengajak ku bicara. Ia menggenggam tangan ku, dan menatapku tajam.


"By..."


"Ini resiko By, Mas. Sakit memang, tapi kenyataan jika By adalah wanita kedua dalam kehidupan Mas Edra, dan orang ketiga dalam rumah tangga kalian. By sadar itu,"


"By, tapi kamu tidak menyakiti siapapun dengan keputusan itu. Diana yang meminta nya, dan kita hanya bisa menuruti nya, karna takut jika itu keinginan terakhir."


"Iya, Mas. Maaf, By masih lemah. By belum bisa kuat hati menahan amarah, dan tangis By, karna perkataan mereka."


"Iya, sayang. Terimakasih, karna sudah megerti. Tentang Mama,"


"By udah maafin Mama kok, Mas. By udah tahu watak Mama sejak pertama kali bertemu. By akan semakin terbiasa nanti nya, seiring dengan lama nya kita bersama."


"Mama memang menyakiti dengan lembut, By. Kamu harus bisa mencerna setiap kata-kata manis yang keluar dari bibirnya,"

__ADS_1


"Iya, Mas. By tahu,"


Mas Edra mencium tangan ku dengan mesra, dan mengajak ku segera pulang kerumah.


__ADS_2