
"Ramlan... Jangan sembarangan kamu menuduh Ibu. Kalaupun By celaka, itu karna dirinya sendiri memang Sial. Apalagi telah memenjarakan kamu, hanya karna masalah kecil." balas Bu Rina.
"Masalah yang Lan buat ini bukan masalah kecil, Bu. Ini tindak kriminal, yang pantas mendapat hukuman. Dan jangan pernah Ibu bilang By pembawa sial lagi. By kemari bukan untuk menuntut Lan. Tapi ingin membebaskan Lan dari sini. Rencananya, setelah ini Ia akan membujuk suaminya. Tapi entah lah, Ia malah Ibu tabrak begitu, maka gagal pula Lan bebas secepatnya. Ibu lah yang membawa sial." ujar Ramlan.
"Berani kamu bilang begitu sama Ibu? Kamu baru beberapa minggu dipenjara saja sudah stres, otak mu neglantur Lan."
"Tidak... Lan tidak stres. Jujur, Lan lebih tenang disini, lebih damai. Damai dari semua aturan Ibu, damai dari semua kekangan Ibu. Lan sudah cukup tersiksa dengan itu. Sampai-sampai, Lan merasa akan gila dengan itu semua. Disini adalah tempat dimana Lan bisa mengekspresinkan diri Lan sesuai dengan apa yang Lan mau."
"Jadi kamu mau tetap dipenjara, jangan bodoh. Pulang sama Ibu,"
"Lan akan pulang, sa'at By sudah mengurusnya. Mau Ibu sewakan pengacara sanpai uang Ibu habis. Itu ngga akan ada artinya buat Lan, Percuma saja. Ibu sekarang pulang, jangan pernah ganggu By lagi. Jika tidak, bukan hanya Lan yang dipenjara, tapi kita sekeluarga. Jangan main-main dengan suami Rubby. Sekaya apapun Ibu dikampung. Tak ada seujung kuku bagi nya. L" ujar Ramlan. Dengan nada tinggi.
Bu Rina, Sang mantan Ibu lurah itu langsung terbelalak. Matanya memerah, Ia takut sebenarnya dengan ucapan Ramlan itu.
"Apakah benar yang dikatakan Ramlan. Jika, Aku tak ada seujung kuku pun bagi suami Rubby dan Istri pertamanya? Mati aku.... Kalau kejadian tadi pagi diusut, bagaimana?" gumamnya sendirian, pasca ditinggal Ramlan kembali keruanganya.
Pov Diana.
"Thom... Bagaimana dengan perkembangan kenaikan kasusnya?"
"Sabar Dee, semuanya sedang diproses, tak bisa terburu-buru. Kamu fokus saja ke saksi nya. Jika semua beres, makin cepat pula persidanganya nanti."
"Benarkah? Jujur, aku takut tak bisa menunggu lama."
"Ada apa lagi, Dee? Ada apa lagi denga Leukimia mu itu?"
"Hmmm... Dia ternyata lebih kuat dari ku, Thom. Sel-sel kecil itu sudah mengalahkan ku, menggerogoti semua amggota tubuhku hingga yang terdalam."
"Dee... Edra dan Rubby sudah tahu?"
"Jangan beri tahu mereka. Terutama By, dia stres nanti, bahaya. Biarkan saja, toh reaksinya sudah tidak terlalu mengagetkan bagiku."
"Dee......."
"Sudahlah... Aku masih mempunyai Tiga kali jadwal kemo lagi. Semoga saja ada keajaiban untuk ku."
"Aamiin... Do'aku menyertai mu, Dee."
__ADS_1
Seharian Aku dan Thomas menyusun semua berkas untuk menaikan kasusku ke pengadilan. Setelah semua pemberkasan selesai, kami berpisah lagi. Aku pulang, dan Thomas menuju ke pengacaranya untuk memberi berkas itu padanya.
" Tugasku kini, hanya merayu Bik Inah. Tapi, bagaimana caranya. Mengingat nama Rahmat dan Pak hadi saja beliau begitu trauma." gumamku selama perjalanan.
Aku berfikir, dan terus berfikir cara untuk membujuknya. Hingga terfikirkan sebuah ide sa'at sudah dekat dengan rumah.
Mas Bima memarkirkan mobil, dan aku keluar lalu masuk menemui Rubby."Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam... Kakak udah pulang, kok lama?" tanya nya.
"Iya... Banyak urusan soalnya. Mana Ibu sama yang lain?"
"Mereka jalan-jalan. By diajak, tapi males, males jalan, males rame-ramean, males ngapa-ngapain, Tidur aja males." jawabnya.
"Terus... Mau nya apa? Mas belum pulang juga?"
"Belum, Kak... Katanya lembur. Tadi mau pulang pas tahu By kecelaka'an, tapi By bilang ngga usah. Orang By juga ngga papa."
"Oke... Bagus lah. Kakak mau mandi dulu ya, sambil shalat isya."
"Oke... By tunggu disini. Temenin ngobrol," ucapnya.
"Apa sekarang waktunya aku merayu Bik inah menggunakan Rubby. Mereka sama-sama pernah kehilangan orang yang begitu mereka sayangi. Mungkin kalau mereka saling bertukar cerita, Bik inah akan membuka hatinya untuk ku." gumam ku dengan antusias.
Aku lalu bergegas kembali ke depan menemui By, dan memanggil Bik Inah. Aku memancingnya mengobrol bersama. Meski harus sama-sama mengenang masa lalu.
Aku duduk didekat mereka berdua, dan memulai pembicara'an.
"Bik inah... Kalau dihitung-hitung, umur Rahmat sama dengan By, ya sekarang."
Bik inah langsung menatapku nanar, seolah ingin langsung menghindari pembicara'an, dan pergi dariku.
"Eh... Bik Inah punya anak?" sambung By.
"I... Iya, By. Tapi udah meninggal, kecelaka'an." jawab Bik inah.
"Walah... Kasihan, By turut berduka cita ya, Bik."
__ADS_1
"Iya By," jawab Bik, inah.
"By... Bagaimana cara mengikhlaskan Bagas,?" sambungku lagi.
"By hanya mengingat suatu kata. Bahwa jika ingin Abang bahagia di alam barunya, maka By harus ikhlas melepasnya, dan mencari kebahagia'an By sendiri. Kenapa Kak?"
"Bik inah? Benar-benar sudah ikhlas?" lirik ku pada Bik inah.
"Bibik sudah ikhlas." jawabnya. Tapi aku tahu, jika itu bohong.
"Benar-benar mengikhlaskan semua, atau Bibik masih menyimpan kemarahan?"
"Dee.... Tolong jangan pancing lagi."
"Bik... Bibik masih tertekan hingga sekarang? Kenapa? Karna masih belum menemukan kejelasan. Bahkan, telah difitnah mengenai kecelaka'an itu."
"Sudah Dee, cukup... Bibik tak mau lagi membahasnya!"
"Bagaimana jika... Dee, telah menemukan pak hadi?" ucapku padanya.
Bik inah semakin tegang, air matanya mengalir dipelupuk mata. Ia berlari kembali kekamarnya, dan memgunci pintunya.
"Kak... Kakak kenapa sih, jahat banget? Lihat Bik inah nangis tuh." omel Rubby.
"Tenangkan dia By, katakan tentang Pak hadi yang kita temui di Rumah Sakit Jiwa kemarin, dan jelaskan keada'anya. Dan satu lagi, katakan sama Dia, jika besok pagi, Kakak mengajak nya pergi kesuatu tempat."
"Kemana?"
"Udah... Bilang aja sama dia, dia pasti ngerti. By tolong Kakak ya?" bujuk ku padanya.
"Hhh... Okelah, By akan bujuk Bibik, tapi ngga gratis. By mau, Kakak tiap pagi bikinin roti, siang juga, malam juga. Bahkan, kapan By mau, Kakak harus bikinin, gimana?"
"Heewh... Iya bawel... Udah sana. Mupung Bibik masih labil, dia kalau labil, mudah dibujuk."
"Okelah, By masuk." balas By, lalu berdiri dan melangkah menuju kamar Bik inah.
Aku tahu, dengan cara ini, By perlahan akan tahu masalahnya. Tak apa, daripada Ia tak tahu sama sekali. Itu justru akan membuatnya dimanfa'atkan Mama, dengan cerita versinya sendiri nanti.
__ADS_1
"Ma'af By... Perlahan, Kakak melibatkan mu dalam permasalah lawas ini."
Aku menatapnya merayu dan mengetuk pintu, hingga Bik inah mebukakan pintu kamarnya untuk Rubby.