MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Warisan sifat Diana.


__ADS_3

Pov Rubby.


"Bu... Kita mau kemana?" tanya Maliq padaku.


"Maliq tidak lapar? Ayo, kita makan dulu, Maliq sama Bram, mau makan apa?"


"Ayam clispi Bu... Blam mau," pinta Bram.


"Maliq... Pengen nasi goreng, tapi kalau Bram mau ayam aja, ngga papa. Maliq ikut." sahutnya.


Sampai direstaurant ayam langganan kami, dan aku memesan kan keduanya menu yang sama, agar makan pun bersama-sama. Maliq yang melihat adiknya begitu lahap makan, lalu memotongkan bagian daging dan ditambahkan pada adiknya itu.


"Kok, dikasih adek?"


"Ngga papa, Maliq kan ngga suka ayam. Buat adek aja," jawabnya.


Aku menatapnya haru, dan terkesan dengan tingkah dewasanya. Padahal, di usianya ini, seharusnya Ia masih manja, dan ingin menang sendiri terhadap semua kemauanya.


"Kak... Tengoklah Maliq, anak kesayanganmu ini, benar-benar menuruni sifatmu. Berpendirian, namun penuh kasih sayang. Mau mengalah, tapi tak seketika mau disalahkan." batinku.


Aku yang diam-diam memesankan nasi goreng pavoritnya melalui delivery order, memberinya kejutan, dan membuatnya sangat gembira.


"Ibu pesanin ini? Emang boleh?" tanya nya.


"Boleh lah, Ibu kan udah izin. Kalau ngga boleh, nanti biar Ibu beli tempat ini, buat restaurant ayam sama nasi gorengnya bersatu." candaku pada mereka.


Mendapat makanan kesuka'anya, Maliqpun langsung lahap, dan tak menghiraukan sisa ayam yang terbengkalai.


"Satu sifat anak, sudah ku temukan. Tiga anak lagi, yang harus ku perdalam sifatnya. Maliq seperti Kakak, karna memang Ia yang pernah bertemu, dan puas dalam kemanja'anya, meskipun belum mengingatnya. Sedang yang lain, apakah membawa sifatku, atau Mas edra dalam kehidupan mereka."


Sepulang dari makan siang, aku segera membawa mereka pulang, dan mengajaknya istirahat, namun Maliq lebih memilih mengajak si kembar bermain, lalu tidur bersama.


Aku memberitahu Mas edra tentang penemuanku hari ini, dan Ia pun mengatakan wajar, karna Maliq lah yang bertemu Kak Diana dan merasakan pelukanya, dan begitu dimanjakanya ketika itu. Hingga mungkin ada ikatan batin tersendiri antara mereka.


Aku meng'iyakanya, dan memilih untuk lebih memperhatikan Maliq sekarang dan menggali sifat dasar dari yang lain.


Pov Edra.


"Bahkan, Kamu pun memberi Maliq salah satu sifat terbaikmu Dee, begitu banyak yang kau wariskan pada kami. Apakah, aku harus memanjakan Maliq sekarang, sebelum Dia benar-benar menjadi sepertimu, yang begitu mandiri?" gumamku, dengan menyandarkan bahu di kursi kerjaku.

__ADS_1


"Ma'af, Pak... Ada laporan yang harus dibaca dan ditandatangani." ucap Gusti yang masuk keruanganku.


"Oke... Berikan pada saya. Dimana Winda?"


"Mba Winda, mewakili Bapak untuk rapat dengan Colega dari semarang, Pak."


"Baiklah... Pertahankan kinerja dan kekompakan kalian." pintaku padanya.


Aku menatap kalender dimeja kerjaku, teringat sesuatu yang hampir terlupakan diseparuh hari ini.


"Loh... Ini bukanya, ulang tahun, By?Aku harus buat kejutan untuknya." gumamku, dengan begitu antusias.


Segera ku selesaikan pekerja'anku, dengan memikirkan semua rencana indah untuk keluarga kami. Hingga waktunya tiba, aku pulang dan membeli beberapa kejutan untuknya.


Malam ini, bucket besar mawar merah sudah ada ditanganku, berikut kue tart yang sengaja kupesan untuknya. Perjalanan ku penuh kebahagia'an kali ini, berhayal akan senyum istriku yang merekah, bagai bunga mawar merah yang kubawa.


"Assalamualaikum," ku buka pintu, dan ku lihat mereka sedang bermain.


"Ayah pulaaaaang..." teriak para punggawa ku kegirangan.


"Ibu mana?" tanya ku.


"Ibu shalat Isya, dikamar." jawab Maliq, yang mencium tanganku.


"Ini, hari ulang tahun Ibu. Ayah mau kasih kejutan, kalian disini dulu, ya. Nanti kita makan kue nya sama-sama. Maliq, ambil Pizza dimobil ayah," pintaku padanya.


Aku berjalan pelan menuju kamar, dan kubuka pintu perlahan. Ku lihat, Rubby sedang memanjatkan do'anya dengan linangan air mata, tapi aku tak tahu, apa isi do'anya ketika itu.


"Andai aku bisa membaca isi hatinya," gumamku.


Aku mengendap-endap, dan menutup matanya dari belakang. Ia terkejut, namun tahu pasti, jika aku yang menutup matanya.


"Mas... Apa'an sih?" tegurnya.


Mawar merah itu, kuletakan tepat didepanya, dan langsung Ia terimanya dengan begitu bahagia.


"Ya Allah, Mas... Bunga nya gede banget,"


"Yaummil milad sayang, terimakasih sudah menjadi istri dan Ibu yang baik buat para punggawa kita." kecupku dikeningnya.

__ADS_1


"Oh, iya, By ulang tahun hari ini. Kadonya mana?" ucapnya dengan mengadahkan tangan padaku.


"Mas... Ngga tahu mau kasih kado apa? Semua nya sudah Mas berikan, hati, jiwa, bahkan harta sekalipun. By mau apa lagi?"


"Mas... Mau kabulin? By cuma minta Satu aja, ngga banyak."


"Iya... Apa?"


"By... Rindu Kak Diana? Bahkan untuk mendo'akanya pun, By sampai menangis."


"Lantas, By mau bikin acara syukuran? Kan baru kemarin?"


"Bukan, Mas... By, pengen anak perempuan." jawabnya, lirih.


"By... Kenapa bahas itu lagi. Mas sudah bilang, cukup empat anak saja tak apa. Terlebih lagi, sejak melahirkan Bayu dan abi secara Caesar, Mas udah ngga tega lagi, melihat By menderita ketika mengandung."


"By, ngga menderita, Mas... Mang itu proses kenikmatanya, setiap anak itu prosesnya berbeda-beda."


"Lalu... Bagaimana jika yang terakhir lebih parah, atau lebih beresiko?"


"Mas... By janji, akan rajin chek up, lali mematuhi semua perintah Dokter. By akan benar-benar cuti kerja, jika Mas memintanya. By akan patuh," rengeknya padaku.


Aku menghela nafas, berfikir keras untuk jawaban ku kali ini.


"Mas... Dulu, selalu By yang dimanja Kakak. Dan sekarang, By ingin sekali memanjakan anak perempuan By, seperti Kakak memanjakan By. Tapi ini bukan terobsesi seperti dulu lagi, By dalam keada'an normal kali ini." ucapnya lagi, meyakinkanku.


"Hmmm... Baiklah, kita akan memprogramkan itu. Tapi ingat, jika ada sesuatu yang membahayakan, maka harus lekas ditindak. Mas ngga mau, menerima resiko apapun, jika itu buruk." ujarku.


"Iya... By janji," balas Rubby, dengan memeluk ku erat.


"Kue ultahnya mana?" tanya nya, dengan mendongakan kepalanya menghadapku.


Tukkk! Aku menyentil jidatnya.


"Kalau kue, inget terus... Ini suami ngga dicium dulu, apa gimana? Jangan diajak debat aja," omelku.


Ia hanya tersenyum, lalu mencium pipiku dengan waktu yang lama karna gemas. Lalu, ku gandeng tanganya untuk turun kebawah, menikmati kue yang telah kupesan.


"Ya Allah.... Brama Kumbara! Kenapa kuenya diacak-acak?" omelku, ketika tahu kue nya berantakan ditanganya.

__ADS_1


"Tadi Maliq udah bilang jangan, tapi Bram ngeyel. Maliq ngga salah kan, yah?"


Aku menghela nafas panjang, memijat kepalaku. "Rusak sudah kejutan indahku malam ini. Untung anak, kalau tidak, sudah aku... Eeeeeergggghhhh!" gemasku.


__ADS_2