MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Kalutnya edra


__ADS_3

"By... Mana Kakak?" tanya Edra.


"Kakak, ditempat tidur. Terbaring dengan senyum manisnya," jawab Rubby.


Edra perlahan menghampiri tubuh Istrinya yang  sudah dingin itu. Air matanya mengalir deras, namun secepatnya Ia usap, karna takut mengotori tubuh Diana.


"Dee... Apakah sudah waktunya kamu pergi? Bahkan Maliq belum bisa menyebut nama mu, Dee. Tapi, jika ini memang sudah janjimu, Mas ikhlas." ucap Edra, dengan menciumi kening Diana.


Kabar sudah tersebar, para pelayat sudah mulai berdatangan.


"By... Tenang sayang, Ibu dan yang lain sedang dalam perjalanan." ucap Bu lilis dalam telepon.


Rubby tak sanggup keluar menatap jenazah itu, hanya diam menangis dikamar bersama Maliq, yang juga sedang rewel. Sepertiny, Ia merasakan kesdihan yang dialami oleh semua orang dirumah itu.


"By... Ngga usha ikut kemakam, ya. Biar Mas, Pak hadi sama Bik inah aja." ujar Edra.


Rubby hanya mengangguk dengan tatapan pedihnya.


Edra berangkat, memegangi ujung keranda paling depan, dengan menahan hatinya.


Perlahan Ia memasukan jenazah Diana ke dalam peristirahatan terakhirnya, megadzankan, dan menutupnya, sedikit demi sedikit, hingga tertutup rapat.


Satu persatu yang mengantarnya pulang, kecuali edra yang masih bertahan disana. Duduk disamping pusara yang terdapat foto Diana disana.


"Kenapa tak pamit, Dee. Ngga ada sama sekali tanda-tanda jika kamu akan pergi. Pagi ini, kamu masih seperti biasanya menyiapkan semua keperluanku, karna tahu jika By sedang sibuk. Pagi ini kamu masih memberi senyum ceria untuk ku, Rubby, dan Maliq. Kenapa tak ada felling jika itu senyum terakhirmu." ujarnya.


Ia mencium batu nisan itu, menahan air matanya meskipun begitu perih.


Edra pulang kerumah dengan perasa'an hampa, kosong, dan tahu perasa'an yang ada dalam hatinya. Meskipun Rubby datang mencium tanganya, tapi Ia merespon datar lalu masuk kekamar Diana.


"Mas... Mas kenapa?" tanya Rubby dari luar.


"Ngga papa... Mas lagi pengen sendiri aja." jawabnya dari dalam.

__ADS_1


"By, kenapa?" tanya Bik inah.


"Mas... Mungkin lagi butuh waktu sendiri Bik. Biarin deh, paling nanti kalau Bapak sama Ibu datang, Mas keluar." jawab Rubby, denga Maliq dalam gendonganya.


"Assalamualaikum,"


Bu lilis datang, bersama yang lainya. Dan langsung menangis dalam pelukan Rubby.


"Yang tabah sayang. Ngga ada yang tahu, bagaimana, dan kapan akhir dari hidup kita," ujar Bu lilis.


"Iya, Bu... By sabar, tapi Maliq rewel daritadi."


"Maliq pun merasakan kesedihan kita. Apalagi, Bundanya begitu menyayangi Maliq."


"By menyesal, karna sempat berdebat dengan Kakak mengenai pengurusan  Maliq tadi siang." ujar Rubby, yang rupanya didengar Edra


"Kenapa By debat dengan Kakak? Apa salah Kakak pada By?" tanya nya dengan nada tinggi.


Edra hanya menghela nafas, dan menyapa mertuanya namun mendiamkan By, menampakan kekesalan dan kekecewa'anya.


Mereka mngobrol, menenangkan Edra, sementara Bu lilis dan Bik Inah membantu By mengurus Maliq yang rewel.


"Bu... Mas marah sama By?"


"Mungkin edra hanya syok, makanya seperti itu. By yang sabar. Besok akan membaik By," jawab Bu lilis.


"Iya, By... Dia hanya syok. By diamkan saja dulu," imbuh Bik inah.


Rombongan beristirahat dikamar masing-masing. By menghampiri Edra dikamarnya.


"Mas... Marah sama By?"


"Engga... Hanya kecewa. Kenapa By sekarang sering menyanggah omongan Kakak. By selalu melawan, apalagi dalam pengurusan Maliq. Bukankah Kakak sangat menyayangi Maliq seperti anak kandungnya, wajar kalau Kakak memanjakanya,"

__ADS_1


"Mas... By hanya meminta Kakak agar tidak terlalu memanjakan Maliq, itu saja. By juga ngga tahu, kalau itu... Sa'at terakhir Kakak. Kalau By tahu, By akan biarkan semuanya, sesuka, dan sepuas hatinya. Ngga akan By lerai. Ma'af, By salah." ucapnya dengan air mata menganak sungai.


"Biarkan Mas sendiri untuk sekarang, By. Mas mohon, malam ini saja." ucap edra.


"Iya... By pergi, menemani Maliq. Dia rewel daritadi, mungkin... Merasa kehilangan Bundanya." ujar Rubby, lalu pergi, tanpa edra menoleh padanya.


Edra melepas baju koko yang sedari tadi Ia pakai, menggantungkanya, dan meletakan peci didalam sakunya.


"Baju ini? Baju baru? Sepertinya ngga pernah punya baju ini," ucap edra, yang baru tersadar dengan semuanya.


"Jangan-jangan, ini memang baju yang dipersiapkan Diana untuk ku, Ya Allah, Dee."


Ia membelai baju itu, untuk kembali mengenang Dee dan mendapatkan sebuah kertas didalam saku tersebut.


"Apa ini? Surat dari Diana?" gumamnya, lalu Segera membuka, dan dibacanya.


"Mas... Semalam Dee bermimpi, Ibu dan Ayah menghampiri Dee dengan pakaian putihnya. Mereka mengajak Dee pergi, menggandeng Dee dengan hangat dalam genggamanya. Tapi Dee bilang. Bisa kah Dee tinggal sebentar? Karna Dee belum berpamitan dengan Maliq, anak kesayangan Dee. Dan mereka mengangguk. Lalu meninggalkan Dee menuju cahaya yang terang diujung jalan. Maaf Mas, jika Dee tak bisa berpamitan. Terimaksih karna Mas dan By sudah memberi hadiah terindah di hari-hari terakhir Dee. Titip Maliq ya Mas. Katakan ke Rubby, perbanyak sabar dalam mengasuh anak. Mas juga, bantu By, jangan sibuk legi dengan pekerjaan. Karna pada sa'at ini, By pasti dalam keada'an labil dan bingung. Mas, sebagai suaminya harus mensuport Dia. Dee pamit, Mas."


Edra kembali menangis sejadi-jadinya, dan menggenggam surat itu ditanganya.


" Dee... Ma'af, Mas sudah berusaha tidak menangis. Tapi, Mas tak bisa menahanya. Akhirnya air mata ini tumpah setelah membaca surat darimu. Ma'afkan Mas yang cengeng ini. Pasti kamu akan marah sama Mas, karna Mas cengeng meskipun sudah memiliki anak, Dee. Ma'af.... " edra mengusap air matanya.


Malam ini, Ia tertidur dikamar Diana, tanpa menghiraukan apapun yang  ada disekitarnya. Perasa'anya amat terpukul, begitu juga dengan Rubby. Terlebih lagi, Maliq yang begitu rewel malam itu, dan tak mau digantikan dengan yang lainya. Sehingga semakin memperkeruh suasana.


"Maliq, sayang, jangan rewel gini sayang. Ibu tahu Maliq sedih, tapi kalau begini, Maliq bisa sakit. Tidurlah nak," bujuk Rubby.


Namun itu tak merubah apapun, Maliq justru menangis semakin kencang, dan membuat Rubby semakin bingung.


"Sabar, Nak... Maliq hanya rindu dengan bundanya." bisik Bu lilis pada Rubby.


"Maliq rewel... Mas edra ndiemin By. By stres banget rasanya Bu, By harus gimana?" tangisnya.


"By... Edra perlu sendiri dulu, biarkan semalam saja. Jika hingga beberapa hari begitu terus, baru Ibu dan Bapak akan membantu mu bicara." ucap Bu lilis, menenangkan Rubby.

__ADS_1


__ADS_2