
Pov Rubby.
Dikehamilan keduaku, Mas edra memang lebih protektif menjaga ku dan calon anak kedua kami. Ia selalu meluangkan waktunya untuk membawaku chek up, menemaniku jalan pagi, meskipun kehamilan masih di usia Dua bulan.
Aku bahagia, namun terkadang dimoment ini, aku teringat Kak De. Aku mengingat ketika hamil Maliq, Kakak lah yang selalu menemani ku dalam semua hal.
"Ah... Sudahlah, By. Kalau inget do'ain, jangan ditangisin." gumamku.
"Mas... Nanti, sepulang dari kantor, Kita ke restaurant langganan, ya. By pengen makan seafood." pintaku.
"Masih sabar sampai sore?"
"Masih, Mas. Ini cuma selera aja, ngga terlalu pengen banget. Pengen udang saus tiram, tapi dimakan ditempat gitu, panas-panas."
"Oke... Nanti, Mas usahain cepet pulang. Karna kebetulan, ada bererapa rapat. Do'akan cepat selesai, ya." ucapnya, dengan mengusap kepalaku.
Sampai dirumah, mas edra mandi, dan langsung sarapan. Ditemani aku tentunya. Aku tak selera makan, hanya mempermainkan makanan itu didalam piringku.
"Kenapa ngga dimakan, By? Ngga selera?" tegur Bik inah.
"Iya, Bik. Ma'af ya, kehamilan kali ini, agak aneh. Banyak ngga seleranya,"
"Iya, Bibik ngerti. Begitulah, namanya hamil, pasti beda-beda rasanya. Ngomong aja nanti, apa yang selera, biar Bibik masakin."
"Iya, Bik, makasih." balasku, lalu berusaha makan meskipun sedikit. Ngga ada yang bikinin roti, ngga ada yang bisa diajak tengkar, sepinya.
Mas edra pamit berangkat, dan aku menidurkan Maliq sebentar dikamar bawah, lalu merapikan kamar itu sedikit. Setelah itu, ku sirami berbagai bunga kesayanganya, meskipun hanya tersisa beberapa pot, dan ku ganti dengan yang baru.
"Kenapalah, hamil yang ini cepet banget capeknya. Hhh... Sabar, By. Harusnya kamu bersyukur, bukan malah mengeluh."
"By kenapa menggerutu terus?" tanya Bik inah, dengan membawakan segelas susu.
"By capek banget, baru Dua bulan. Rasanya kayak Lima bulan. Berdiri setengah jam aja udah pegel, sama gemeteran kakinya."
"Lah... Kemarin chek up, kata dokte4 gimana?"
"Sehat, baik semua. Mungkin, ini bawa'an aja. By istirahat dulu, ya. Bibi tolong ganti'in." pintaku, setelah meneguk susu yang Ia berikan.
Aku mengganti pakaian, dan segera menyusul Maliq dikamar, lalu berbaring disebelahnya.
"Aish... Kenapa, ngga bisa tidur? Gerah," keluhku lagi, lalu menghidupkan Ac.
Hari sudah mulai sore, Mas edra belum juga ada kabar akan pulang. Aku menunggunya dengan perasa'an yang tak bisa dijelaskan. Marah, kesal, lapar, dan terlalu meninginkan udang saus. Dan hanya udang saus yang ada dalam fikiranku.
Akhirnya, aku mendengar suara mobil Mas edra pulang. Aku segera berlari mengahmpirinya. Ia terkejut, namun tetap merentangkan tanganya untukku, dan aku menyambutnya.
"Ayo pergi," pintaku, dengan mendongakan kepala kearahnya.
"Maliq?"
__ADS_1
"Sama Bibik, kata Bibik ngga usah dibawa. Biar By makan puas-puas."
"Mas belum mandi,"
"Ngga usah.... Ayo, cepat." rengek ku, dengan menaiki mobilnya. Memintanya agar cepat berjalan menuju restauran yang ku inginkan.
Seampainya direstaurant itu, Aku segera mencari tempat duduk yang nyaman, sedangkan Mas edra memesankan makanan yang begitu ku inginkan.
"Sayang... Udah dipesenin makan malamnya, tinggal tunggu datang lagi. Ini, Bobanya,"
"By ngga minta Boba,"
"Daripada nanti, Mas udah duduk enak, By ngerengek minta Boba. Mas capek," keluhnya.
Aku hanya membalasnga dengan senyuman, dan menunggu makanan ku, yang tak lama kemudian datang.
"Pesen nya, cuma buat By? Mas ngga makan?"
"Tadi, pas rapat ada yang nraktir. Jadi makan sekalian." jawabya.
Aku yang mengidamkan makan berdua bersamanya, serasa patah hati, dan kehilangan selera makan. Tapi, melihatku yang cemberut, Mas edra menarik makanan itu, mengupaskan udangnya untuk ku, dan menyuapiku. Tak perduli, jika orang lain melihatnya.
"Enak, ngga?" tanya nya.
"Hmmm, Enak. Apalagi disuapin gini, berasa lebih nikmat."
"Makin terasa nikmat, apalagi, lihat kegantengan Mas. Iya ngga?"
"Lah, kan by sendiri yang buat penampilan Mas gini. Kata para karyawan dan Colega, Mas makin ganteng, dan makin fresh."
"Besok ganti lagi, ya, warna rambutnya?"
"Ogah ah, ini aja. By lagi ngga boleh, mainan bahan kimia dari pewarna rambut." ucapnya.
Aku hanya mengangguk, dan meng'igakan perkata'anya, sembari menyelesaikan makanku.
Selesai makan, dan aku sudah begitu puas dengan apa yang ku dapat malam ini. Ku lihat, Mas edra sudah begitu lelah, sehingga langsung ku ajak pulang.
*
*
*
Tiba dirumah, Maliq ku ambil dari Bik inah, tapi membangunkan Bibik yang sudah tertidur.
"Ngga usah diambil, biarin sama Bibik aja. By butuh istirahat, jadi biar Maliq sama Bibik aja."
Aku berfikir sebentar, lalu kembali menaruh Maliq didekatnya.
__ADS_1
"Nanti, kalau rewel kasih ke By aja, ya Bik."
"Iya... Istirahatlah, edra juga kelelahan." ucapnya padaku.
Aku naik kekamarku, lalu tidur disamping Mas edra.
"Maliq mana."
"Sama Bibik,"
"Kenapa ngga diambil?"
"Kata Bibik, ngga usah. Biar By tidurnya nyenyak. Tapi, rasanya kalau ngga ada Maliq, hambar."
"Kan ada Mas disini. Sini, Mas peluk, bila perlu Mas dongengin." bujuknya.
Aku mendekatinya, namun terasa geli jika dipeluk, sehingga aku menyingkirkan tangan itu dari pingganku.
"Kenapa?" tanya nya.
"Ngga tahu, geli. Mas agak jauh, deh." pintaku, dengan menyingkirkan bantal untuknya.
"Kemaren, lagi ngga bisa perhatian, manja nya minta ampun. Sampai aby keringet aja mau dilaminating. Sekarang, giliran bisa perhatian, malah disuruh jauh-jauh. Maunya aoa sih?" omelnya.
"Ya... By ngga tahu, ini maunya Baby, Mas."
Mas edra tak menghiraukan lagi, justru membelakangiku, tapi aku tak sedih, justru gembira dengan sikapnya yang memggemaskan itu.
Paginya, aku menatapnya sedang mempersiapkan cukuran.
"Mas, mau ngapain?"
"Mas mau cukur, ini jenggotnya udah panjang, sekalian kumisnya. Ngga kayak Oppa korea lagi nanti," jawabnya, melirik ku.
"Bisa?"
"Ngga tahu, biasanya ke salon. Kak Dee ngga berani nyukurin, karn pernah luka dan berdarah, jadi trauma."
"Sini, By yang cukurin." ucapku, dengan meminta pisau Gillete nya.
Aku mulai pada aksiku, dan mencukurnya secara perlahan. Inci demi inci, hingga bersih, dan terasa nyaman untuk nya.
"Udah, Mas."
"Beneran? Kok cepet, bersih ngga?"
"Ya... Rasain aja sendiri. By, kalau nyukur ngga bersih, bisa ngga jadi orang mau operasi." jawabku.
"Sebenarnya yang dicukur apa'an sih, sayang? Dari kamareb yang dibandingin itu mulu?" tanyanya heran.
__ADS_1
"Engga, ah. Cepetan mandi, By mau mandi'in Maliq. Ketemu dimeja makan, ya." ajak ku, dengan menciumĀ pipinya yang sudah bersih.
*Ma'af, hari ini cuma up satu bab, insyaallah sore ya. Lagi kurang semangat, gara-gara statistik turun terus. Bantuin promo dong gaes, huhu... Ingin menangis rasanya..