MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Restu


__ADS_3

"Assalamualaikum... Kak," panggil Ku, setelah masuk kerumah, dan segera melangkah kan kaki ku, kekamar Kak Dee.


"Kak... Udah minum obat?"


"Eh... By. Udah, tinggal minum kok. Kan udah kamu yang siapin," ucap Nya, dengan membuka mata perlahan.


"Kak... Aku punya ini, buat Kak,"


"Apa ini, By?" tanya Kak Dee, dengan menerima pemberian Ku.


"Maaf, By bukan mau ngeledek Kakak. Tapi, By cuma pengen bisa jalan berdua lagi. Malah bertiga kalau bisa."


"Ya Allah, By. Makasih ya, Kakak suka."


Aku lantas mengajak nya mencoba berbagai model rambut yang ku belikan tadi.


"Cantik, Kak. Kakak cocok pakai rambut pemdek begini, kelihatan lebob fresh. Pakai lipstik merah, ya?" tawar Ku pada nya, dengan memakai kan lipstik.


"Nah, sempurna. Mas pasti suka,"


Aku segera menyeretnya keluar, dan memperlihatkan penampilan baru nya, pada suami kami.


"Mas, By punya kejutan," ujar Ku dengan menghampiri Mas edra.


"Apa, By?" tanya Nya dengan heran.


"Taraaaaa,," ucap Ku dengan menunjuk kearah Kak Dee, yang kekuar dari kamar.


"Dee, kamu... Cantik sekali," kagum Maa edra.


"Benar, Mas? Ini semua kerjaan Rubby," jawab Kak Dee, tersipu malu.


"Iya, lebih fresh. Semoga seterus nya begini ya, sayang. By, makasih," ujar Mas Edra, dengan memeluk kami berdua.


Pov author.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengawasi dan memotret mereka, lalu mengirim nya pada Mama Mirna.


"Brengsek kalian! Akan ku buat, rumah tangga kalian hancur secara perlahan. Dan kamu, Diana. Barang rusak yang ngga akan pernah bisa pulih. Akan ku buat kamu mati pelan-pelan," ujar Mama Mirna, dengan meremas hp nya.


Pov Aledra.


"Rubby, terimakasih. Kamu sudah menghidupkan kembali cahaya dalam hidupku. Aku, berhutang budi padamu," batin Ku.


Aku begitu bahagia melihat keceriaan Diana hari ini, meskipun ku tinggal belanja sebentar dengan Rubby, tak lantas membuatnya bosan.


Rubby seperti semangat baru bagi Diana. Mereka saling bergantung satu sama lain, itu yang membuatku semakin ingin melindungi Rubby, seperti Diana melindungi nya.


"Aku janji, selama kamu menjadi istriku, semua kebahagiaan juga milik mu, By." gumam Ku.


"Mas... Kita ngga akan pernah terpisah kan?" tanya Diana.


"Tidak akan, Dee. Kalian milik ku," meskipun, Aku masih belum sanggup menyentuh Rubby.


Dengan erat, ku peluk mereka berdua dalam dekap hangat ku.

__ADS_1


Pov Rubby.


Selepas maghrib menuju makan malam, Aku ke kamar Kak Dee untuk mempersiap kan obat malam nya.


"Kak," Sapa ku.


"Iya, By. Mau ngeracik obat?"


"He'em," jawab Ku, mengangguk kan kepala.


"Baik lah, Kakak siapin makan malam, ya," Kak Dee lalu meninggal kan ku dikamarnya.


"Dee, hari ini Aku-. Loh, By."


"Iya, Mas. By lagi nyiapin obat malam buat Kak Dee," jawab Ku.


"Oh, iya. Cuma mau bilang, Mas malam ini ngga bisa makan malam bareng kalian," ucap Mas edra, dengan memilih baju dilemari.


"Kenapa, Mas?"


"Mama mirna, minta Mas kesana."


"Iya, Kak Dee didapur," balas Ku, dengan menghampiri nya, dan membenarkan kerah baju nya.


"Makasih ya, By," ucap Nya, dengan mengecup keningku, lalu meninggalkanKu.


Aku terdiam, membisu memegangi keningku yang dikecup olehnya barusan. Jantung ku berdebar kencang, kaki ku lemas hingga rasanya ingin terjatuh ke lantai.


"Perasaan apa, ini?" gumam Ku.


"Kak,"


"Iya, By."


"Apakah Mas edra selalu memperlamukan wanita selembut ini?"


"Mas edra cenderung cuek dengan wanita, By. Kecuali, Ia benar-benar sudah menyayangi wanita tersebut. Kenapa?"


"Aah, tidak. Jujur, Kak, Mas edra mencium keningku tadi, dan Aku langsung berdebar."


Kak Dee tertawa terbahak-bahak, ketika mendengar perkataan dan tingkah ku yang menurutnya, konyol.


"Kakak, kenapa tertawa?"


"Kamu lucu, By. Wajar saja jika Ia mencium mu. Kamu istri nya. Jangan-jangan kalian? Katakan pada Kakak yang sebenarnya, By!"


"Apa, Kak?" tanya Ku dengan gugup.


"Kalian... Tak pernah tidur bersama? Jujur, By!" gertak Nya. Dengan nada marah.


"Maaf, Kak. Mas Edra belum siap menyentuh ku, karna takut menyakitiku. Dia takut, jika masih berada dalam bayang-bayang Kakak, meskipun sedang bersama ku," ucap Ku.


"Astaga, By. Kenapa begini? Pantas saja, kamu... Ah, sudah lah. Kakak pusing."


"Tapi perlakuan nya pada ku. Sudah mulai berubah, Kak. Terlihat sudah perhatian, dan perlindungan nya padaku, bahkan dari hal yang kecil sekali pun," jelas Ku pada nya.

__ADS_1


"By, ambilkan inhaller Kakak," pinta Nya.


"Iya, Kak."


Aku segera melangkah mengambil inhaller nya, dan memberikan padanya.


"Kakak... Marah sama By?"


"Kakak ngga busa marah, By. Yang terjadi yasudah lah. Sekarang, kamu Makan. Nanti, Kakak nyusul."


"Iya, Kak," balas Ku.


Aku menuju ruang makan dengan perasaan gelisah.


Pov Aledra.


"Assalamualaikum, Ma," teriak Ku, saat memasuki rumah Mama.


"Hey, sayang. Akhirnya, datang juga."


Aku menghampiri nya dimeja makan, dan mencium tangan nya. Dan, ternyata disana ada Maya, yang juga menunggu ku.


"Kok, ada Maya, Ma?" tanya Ku, dengan duduk disamping Mama.


"Sengaja, sayang. Mama kesepian, jadi Maya, Mama ajak kesini buat nemenin."


"Kalau udah ada temen, kenapa panggil Edra?"


"Sayang, Mama kangen sama Kamu, ngga boleh?" tanya Mama, Merayu.


"Mas edra, lucu ya. Meskipun udah dewasa, tapi masih dimanja sama Mama." Sahut Maya.


"Iya, dong Maya. Edra ini anak Mama satu-satu nya. Iya, kan sayang."


"Iya, Ma," angguk Ku pada Nya.


Kami mengobrol sambil makan saat itu, dengan ceria. Aku membaur pada pembicaraan mereka, karna memang tak ada bahasan tentang istri atau pun anak, sehingga aku lebih santai.


"Mas, mau teh?" tanya Maya.


"Boleh, May. Tapi, jangan terlalu manis, ya." Balasku.


Maya mengangguk, dan menuju dapur.


"Diana baik, Dra?"


"Iya, Ma. Alhamdulillah, kemo, dan obat rutin yang diberikan Rubby, memberi efek baik, untuk kondisi nya."


"Kamu yakin, Rubby tulus?"


"Ngga ada yang setulus Rubby, Ma."


"Baiklah, Mama hanya bisa menyaksikan kalian dari kejauhan," ucap Mama dengan meminum air yang ada disampingnya.


Mama tetap terlihat begitu tenang. Tapi jujur, aku tak tahu apa yang sedang Ia fikirkan, dan Ia rencanakan.

__ADS_1


Semoga saja, Mama ngga berbuat yang aneh, Ma.


__ADS_2