
"Pak, bisa bicara nya nanti saja? bapak kan capek kita istirahat dulu yuk Pak." Bujuk ku pada bapak.
"By, bapak ingin bicara dengan nya sekarang."
"Pak... Jangan."
"Nggapapa By, Mari duduk dulu Pak... By buatin teh ya " Pinta Kak diana padaku.
"Iya kak." Segera ku beranjak dan pergi kedapur untuk membuatkan mereka teh hangat.
"Pak, maaf sebelumnya jika saya lancang telah meminta anak bapak menjadi madu saya. Tapi jujur, dalam hati saya hanya Rubby yang saya ingin kan untuk menjadi madu saya, yang nanti nya bisa menjadi istri yang baik untuk suami saya." Jelas nya.
"Bagaimana maksud anda, apakah anda bukan istri yang baik?"
"Ya Pak, saya merasa jika saya adalh istri yang tidak bertanggung jawab karna tidak bisa melayani suami saya dengan baik."
"Jadi, Anda berniat membebankan tanggung jawab itu pada anak saya?"
"Pakde, tenang dulu pakde." Ucap Bang halim berusaha menenangkan.
"Pak, kenapa seperti ini?" Tanyaku dengan memberi kan teh yang ku buat.
"Bapak hanya tidak terima. Jika kamu dimanfaat kan mereka By." Jawab Bapak.
Kak Diana terlihat memegangi dada nya yang mulai sesak, dan kepanya mulai berat lagi.
"Assamamualaikum." Mas edra pulang dari kantor.
Mas edra pun terkejut melihat Kak diana yang kembali drop.
"Loh Dee, kamu kenapa?"
"Ngga papa Mas, kamu ajak ngobrol aja Bapak sama Ibu nya Rubby. Aku mau ke kamar." Ucap Kak diana dengan meninggalkan kami.
"Kalian menikah atas dasar apa?" Tanya Bapak lagi.
"Ehm, atas dasar...."
"Kalau bukan karna cinta, atau hanya karna kalian mau memanfaat kan anak saya, maka saya tidak akan merestui nya." Ucap Bapak memotong pembicaraan.
"BAPAK! Bisa ngga sih dengeri Rubby dulu, Rubby mau jelasin semua ke Bapak, tapi ngga bapak kasih kesempatan." Bentak ku dan kembali ke kamar.
"Pak, sebenarnya saya dan Rubby memang belum saling mencintai. Untuk saat ini, kami menikah karna diana yang meminta nya."
"Kan benar, kamu hanya mau memanfaat man Rubby untuk menanggung tugas istri mu, apa saja itu, melayani mu dan istrimu? Memberi anak pada kalian? Lalu apa. Rubby akan kamu tinggalkan setelahnya.?"
__ADS_1
"Aaah tentu tidak Pak, demi tuhan saya tidak akan melakukan itu pada Rubby."
"Kalian orang kaya memang hanya bisa memanfaat kan orang miskin seperti kami untuk kepentingan sendiri." Ucap Bapak.
"Pakde, biarkan saya bicara dulu ya." Sela Bang halim.
Bapak hanya mengangguk dan menggaruk kepalanya serta menyerahkan semua pada Bang halim.
"Maaf Pak Aledra. Kami disini masih belum mengerti bagai mana maksud dari rencana pernikahan ini. Ehm, ini pernikahan kontrak kah atau bagaimana?" Tanya Bang halim
"Maaf Mas... Itu, hanya Rubby yang bisa menjelaskan."
Belum lagi sempat Bang halim menyambung pembicaraan. Kak diana berteriak dari dalam kamar, seperti terjatuh.
"By... Mas, tolong."
Aku yang mendengar itu spontan berlari menuju kamarnya.
"Ya allah Kak, kenapa?"
"Dee, kenapa?" Tanya Mas edra yang langsung menggendongnya ke ranjang.
"Pusing, lemas. Tadi kayak ngga punya tenaga."
Aku segera mempersiapkan alat infus untuknya, dan bersiap memasangjan nya.
"By, engga By, Capek sama jarum infus. Baru aja kemarin dilepas. Bekasnya aja belum hilang, dua hari lagi juga mau kemo." Ucapnya padaku dengan gelisah.
"Kak, ini demi kebaikan Kakak kalau engga nanti makin lemes."
Setelah perdebatan itu, akhirnya Kak diana pun mengalah dan menuruti ku. Infus sudah ku pasang dan sudah ku berikan obat pada nya, begitu juga oksigen karna nafasnya sesak.
Bapak, Ibu dan Bang halim perlahan menyaksikan semuanya dengan perasaan Iba.
Setelah semua nya selesai, Ku gandeng Bapak menuju kamar mereka dan berbicara disana.
"Diana separah itu By?" Tanya Ibu.
"Iya Bu, Leukimia nya sudah stadium tiga, bisa lebih cepat naik atau bahkan ngga akan naik lagi."
"Dalam artian, beliau akan meninggal?" Tanya Bang halim.
Aku mengangguk kan kepalaku sedih.
"Sebenarnya, Kami menikah untuk menyenang kan Kak diana Pak. Karna kami takut hari terakhirnya sebentar lagi datang. Dan beliau dalam tekanan mertuanya agar suaminya menikah lagi. Tapi Kak diana ngga mau jika Mas edra menikah dengan orang lain."
__ADS_1
Aku menjelaskan semua nya secara mendetail agar mereka lebih faham bagaimana posisiku sekarang.
" Tapi Bapak ngga mau kalau kamu menikah karna terpaksa By. "
" By ngga terpaksa Pak, By ikhlas. Sekarang hanya restu Kalian yang By butuhkan. "
Bapak menarik Nafas panjang dan terlihat memikirkan sesuatu.
"Kamu siap menerima resiko nya nanti. Bukan hanya sekarang, tapi jangka panjang selama pernikahan ini terjadi."
"Insyaallah siap Pak."
"Baik lah... Nanti malam, kumpulkan mereka dan kita akan bicara tentang pernikahan mu."
Mendengar itu semua, senyum langsung terkembang jelas diwajahku, Ibu dan Bang halim. Langsung ku peluk erat Bapak dan menciumi pipi nya.
"Makasih Pak... Rubby ngga akan mengecewakan Bapak. Do'akan pernikahan ini lancar ya Pak." Ujarku.
"Iya, sekarang... Kami mau isturahat dulu." Balas Bapak.
Aku mengangguk dan keluar meninggalkan mereka.
Ku langkah kan kaki menyusuri seluruh sudut rumah itu untuk mencari Mas edra karna tak ada dikamar kak diana.
"Bi Inah tau Mas edra dimana?"
"Kayaknya tadi ke ruang kerjanya By."
"Oke makasih ya Bi." Aku segera menuju ruang kerjanya dengan cepat.
Tok..tok..tok,!
"Assalamualaikum Mas."
"Waalaikum salam By, masuk."
Ku langkah kan kaki gemetarku menuju calon suamiku.
"Maaf mengganggu. Tadi By udah bicara sama Bapak, dan Bapak sudah menyetujui semuanya." Ucapku.
"Oh ya... Baik lah, kita akan bicarakan lagi nanti ya, dan tentang acaranya pernikahan nya, Diana yang mau merancang semuanya." Jawab nya dingin.
"Baik lah, jika seperti itu saya permisi." Ucapan ku yang hanya dibalas anggukan nya.
Begitu dingin seperti es, bagaimana aku bisa bertahan nanti nya jika sikapnya seperti itu padaku, menatap wajahku pun masih enggan.
__ADS_1
Hanya dengan Kak diana lah dia begitu manis dan lembut.
Meskipun pernikahan ini bukan mau kami tapi aku pun ingin jika nanti Ia bisa mencintaiku, seperti Ia mencintai istrinya.