MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Hukuman untuk Mama


__ADS_3

Pov author.


Edra sampai dirumah Mama mirna, dengan wajah yang begitu marah, Ia menurun kan Nunik, dan memintanya masuk bersamanya kedalam rumah itu.


Edra membuka pintu dengan kasar, Nunik berlari kecil, masuk dan menemui Nyonya nya.


Mama mirna yang sedang duduk sambil melamun tegang, langsung terkejut, mendengar suara pintu, dan Nunik yang  ada dihadapanya.


"Nunik... Kamu kenapa kemari? Saya ngga memintamu_...."


"Edra yang bawa dia kemari..." potong Edra, dengan perlahan berjalan menghampiri Mama mirna.


Mama mirna sebenarnya terkejut, hatinya begitu takut hingga tubuhnya gemetar. Namun, Ia tetap mempertahankan senyumanya untuk edra. Ia menghampiri edra, dan berusaha bersikap biasa, seolah tak terjadi apa-apa.


"Edra, sayang... Kenapa kemari Nak?"


"Udah Ma... Jangan bersandiwara lagi. Jelaskan semuanya."


"Tentang apa?"


"Tentang ginjal yang ada ditubuh edra sekarang? Benarkan, itu ginjal Bapak halim?"


"Ya... Mama ngga tahu, yang Mama tahu, pada sa'at itu. Orang itu meninggal pada sa'at operasi pengangkatan gumpalan diotak. Mama diam-diam mengecek kecocokan ginjal kalian. Dan tenyata... Semua cocok sayang, jadi Mama dan beberapa teman mengambil ginjalnya untukmu."


"Ma... Itu ilegal Ma, Itu berdosa. Mama mengambil semua itu tanpa izin. Mama menyiksa jenazah itu."


"Jenazah orang sudah mati tak akan bisa merasakan apa-apa lagi edra! Mama tidak menyiksanya. Mama justru membuat kematianya menjadi bermanfa'at bagi orang lain. Buat kamu, Anak Mama yang sedang sekarat."


"Ma... Mama bisa dipenjara gara-gara itu," lirih edra.


"Mereka tak akan bisa menuntut. Rekan-rekan Mama, dan para saksi sudah tidak ada disana. Dan bagaimana dengan bukti lain? Apakah mereka akan kembali melakukan visum pada mayat yang sudah menjadi tanah itu? Tidak akan bisa edra." ujar Mama mirna, dengan mempertahan kan keangkuhanya.


" Tidak... Mereka pun tak akan melakukan itu. Mama harusnya bersyukur dan berterimakasih. Mereka ikhlas, karna tahu ginjal itu ada pada edra. Hingga mereka tak akan menuntut apa-apa. Tapi, Edra sendiri yang akan menghukum Mama."

__ADS_1


"Jangan durhaka kamu... Dengan apa kamu bisa menghukum Mama? Kamu tak akan tega. Memasukan mama kedalam penjara."


"Bukan penjara diluar.... Tapi, Edra akan memenjarakan Mama diistana Mama sendiri. Dengan ini, Edra menyatakan, jika Mama edra hukum. Mama harus tetap berada dirumah ini, selama waktu yang tak edra tentukan. Bersama Nunik didalamnya, untuk melayani Mama. Mama tak akaj bisa kemana-mana, hanya dirumah ini, berdua denganya. Semua fasilitas Edra cabut. Credit card, Atm, semua edra blokir."


Mata mama mirna terbelalak, marah,. Kesal, semua melebur jadi satu. Tak pernah Ia sangka, jika anak kesayanganya akan melakukan ini padanya.


"Edra... Kamu ngga bisa mengurung Mama seperti ini, kamu jahat sama Mama! Kalau kamu blokir, bagaimana Mama belanja?"


"Bagaimana dengan Mama sendiri? Apalah kelakuan Mama itu tak bisa disebut jahat? Mereka semua tersakiti karna ulah Mama. Semua, edra berikan langsung pada Nunik, untuk mengurusnya. Mama hanya tinggal diam dan terima beres."


"Kamu jahat, Edra..."


"Ini belum seberapa, Ma. Mama lebih jahat, dan tak perlu edra bahas lagi satu persatu. Edra pamit...."


Ucap edra, dengan melangkahkan kaki keluar dari rumah itu.


Edra begitu marah, masuk kedalam mobil, dan membenturkan kepalanya berkali-kali disetirnya.


"Kamu bodoh edra... Kamu terlalu mempercayai Mama mu, hingga sering menyakiti dan meragukan Diana karna itu. Kamu terlalu bodoh edra... Bodoh sekali!" teriaknya. Dan Ia pun kembali kerumah, menemui Diana disana.


"Bu... Ibu sudah tidak apa-apa? Apa perlu, Dee panggilkan dokter?"


"Tak perlu, Dee... Ibu sudah baikan. Rubby mana?"


"By tadi Dee suruh istirahat. Dia tidak boleh stres dan tertekan berlebihan, apalagi kecape'an."


"Terimakasih, Dee. Sudah begitu menyayangi Rubby, Ibu salut padamu. Ibu hanya syok tadi sa'at melihat Mirna. Serasa bayang wajah Bapak halim muncul seketika. Pedih sekali, Dee."


"Iya... Dee paham. Sekarang, Ibu istirahat saja. Halim dan istrinya, sedang berbelanja sebentar. Sebenarnya Halim masih syok juga. Tapi, dee sudah meyakinkan Ia, kalau semua akan baik-baik saja."


"Iya... Kamu juga istirahat. Jaga kesehatanmu." ujar, Bu lilis.


Ia kembali merebahkan tubuhnya diranjang. Dan berusaha memejamkan matanya.

__ADS_1


Pov Diana.


Misteri tak terduga terungkap hari ini. Tak ku sangka, yang ku cari selama ini ternyata sekarang begitu dekat. Ini kah takdir? Mereka mempersatukan kami dengan cara yang luar biasa.


Aku kembali kekamar, menatap bungaku yang terlihat jelas dari luar jendela kamar.


"Bahkan, yang seindah ini saja mereka berikan padaku." gumamku.


Aku mendengar suara mobil Mas edra pulang. Tapi sengaja tak menyambutnya, karna aku tahu, Dia yang akan menghampiriku kemari.


Tap... Tap... Tap...! Derap langkah kakinya terdengar jelas oleh telingaku, bahkan aku pun bisa merasakan emosinya sa'at itu.


Kreeek! Tanganya membuka pintu kamarku. Aku yang sedang berdiri, membalik badan dan menatapnya.


Ia setengah berlari menghampiriku, lalu memeluk ku dengan erat, menangis, menumpahkan semua isi hatinya padaku.


"Dee... Ma'afkan aku yang telah meragukanmu selama ini. Ma'afkan aku, yang pernah menyakitimu hanya karna membelanya. Ma'afkan aku, karna yang paling fatal adalah... Kita pernah kehilangan calon bayi kita, hanya karna terlalu menghormatinya."


Aku menghela nafas panjang, dan berusaha menjawab semua perkata'anya.


"Masih ingat dengan calon bayi kita? Dia sudah pergi, tak usah kamu fikirkan lagi. Dan ma'af mu dari semua kesalahan itu, memang sedikit terlambat. Tapi, semua seperti sudah tergantikan dengan yang lebih baik. Keluarga baru, yang lebih menyayangi kita. Kamu harus bersyukur dengan semua itu, Mas."


"Iya, Dee... Mama sudah ku hukum."


"Bagaimana caramu menghukum nya?" tanya ku.


"Mama.... Ku kurung dalam istana tercintanya, bersama Nunik didalamnya."


"Hahaha... Pantas saja aku tak melihatnya dari tadi. Ternyata sudah kamu pindahkan dia kesana. Baguslah, mereka akan jadi couple yang pas dirumah itu."


"Iya... Ku blokir semua fasilitas untuknya. Tak berlebihan 'kan?"


"Tidak menurutku... Karna perbuatanya lebih parah dari itu. Dan hukumanmu tak seberapa, meskipun aku tahu, itu cukup membuatnya menderita."

__ADS_1


Kami kembali berpelukan dengan erat, meskipun itu membuatku sesak. Tapi aku lega, karna setidaknya. Satu misteri dalam kehidupan kami terpecahkan."Tinggal satu lagi, Ma. Akan ada satu kejutan lagi yang akan menanti Mama. Dan akan membuat Mama semakin diam, dan tak akan bisa mengganggu kami lagi."


__ADS_2