
Aku menghela nafas panjang, lalu membuka mataku. "astaghfirullah,"
Aku melirik kearah jam, dan ternyata memang sudah pukul 17.00 WIB.
"Ah... Sudah sore, waktunya mandi sayang. Ibu malah ikut ketiduran." ujarku.
Sembari membereskan Maliq, aku terkenang dengan mimpi barusan. Bertanya tanya dalam hati, apa maksud dari mimpi tersebut.
"Kenapa nangis? Bukanya, By udah buat semua pesan dari Kakak. Kenapa Kakak malah sedih? Ada sesuatu yang mengganjal kah?" gumamku.
Selesai membereskan Maliq, aku santai sebentar, menyusuinya, sambil mengajaknya bermain. Namun, dikagetkan dengan suara klakson yang begitu kencang, masuk kedalam halaman rumah.
Aku segera keluar, dan melihat semuanya. Dan betapa terkejut, ketika melihat sebuah mobil besar hitam, dimasukan kedalam garasi.
"Ibu, Saya kesini, membawa pesanan Bapak, yang sengaja diberikan untuk Ibu," ujar Winda, yang menghampiriku dengan senyum manisnya.
Aku semakin ternganga, dengan apa yang diucap Winda padaku.
"Hah? Mas beli'in ini? Kapan?"
"Tadi, Bu. Setelah Ibu pulang, Bapak meminta saya mengurus semuanya." jawab Winda.
"Kenapa tiba-tiba membelikan saya mobil?"
"Alasan itu... Hanya Bapak yang tahu, dan saya hanya bertugas menuruti saja. Tapi, Bapak hanya ingin jika Ibu semakin nyaman dalam perjalanan. Terutama, ketika diajak pulang kampung katanya," jawab Winda.
Aku terharu, bahagia, dan entah, apalagi rasanya. Yang jelas ku sungguh bersyukur. Meski masih terbesit dalam pikiranku.
"Mobil ini, yang mau diberikan Kakak dulu, tapi dikasih aku. Oh... Ayo lah By, jangan suudzon. Mas edra dengan susah payah memberikanya. Dan ini, ini bukan barang murah. Ini istimewa, dan warnanya, warna keruka'anku." batinku, dengan memandangi mobil baru ku.
Pov Author.
Beberapa minggu berlalu setelah By mendapat hadiah mobil baru itu.
__ADS_1
Pekerja'an semakin lancar, meskipun amsih banyak yang harus diperbaiki. Yayasan kian berkembang, sesuai dengan ekspetasi yang mereka inginkan.
Edra pun tak kurang-kurangnya mencurahkah kasih sayangnya pada Rubby dan buah hatinya itu. Membawakan bunga setiap hari, memberikan makanan kesuka'anya, semua hal kecil yang istimewa, terus Ia lakukan, demi meraih hati Rubby, dan menepis anggapan Rubby tentangnya.
"Dra... Aku ingin bicara sesuatu tentang Rubby," ujar Thomas.
"Kenapa Thom? Kinerja nya belum sempurna? Wajar saja toh, Ia masih belajar."
"Tidak Dra, kinerjanya bagus, mudah memahami apa yang diberikan. Tapi... Kami sedikit terganggu dengan sikap dan penampilanya belakangan ini. Memakai baju Diana, berdandan seperti Diana,"
"Hey... Dia hanya memanfa'atkan peninggalan Diana, itu saja. Jangan dianggap serius."
"Dan... Berbicara seperti Diana, apa. Itu wajar? Aku hanya takut, Ia berada dalam tekanan psikis, yang membuatnya masih berat untuk mengikhlaskan Diana. Atau, Ia sebenarnya belum siap menanggung semua beban ini, Dra."
"Thom... Apa hanya kau yang merasakan itu semua?"
"Jelas tidak. Semua orang mengatakanya, mereka. Khawatir dengan psikis Rubby. Hanya takut, bahwa sebenarnya Ia sedang tertekan, atau memikirkan sesuatu, yang harus nya Ia buang jauh-jauh."
"Thom... Aku pulang dulu, titip kantor, kalau ada apa-apa, panggil Winda." ujar edra, lalu bergegas pulang.
Aku segera masuk ketika sampai dirumah, dan menatap dalam Rubby, yang sedang bermain dengan Maliq.
Aku melihat tak ada yang salah, hanya saja, memang seperti Diana. Tak seperti Rubby, yang selalu ceria dan meminta pelukan, ketika menyambutku.
Pov Rubby.
Aku terkejut, dengan kedatangan Mas edra, Ia menatapku dengan tajam. Tersirat dari matanya, bahwa Ia menyimpan begitu banyak tanya.
"Mas... Kok udah pulang?" sapaku. Namun, Ia tak bergeming. Justru menuju lemari pakaianku, dan membukanya.
"Apa ini? Kenapa semua pakaian Kakak berpindah kesini?" tanya nya, dengan nada datar.
"Mas... Kan By udah bilang, mau memanfa'at kan baju Kakak, buat By pakai. Sayang kalau dibuang."
__ADS_1
"Memanfa'at kan bukan begini caranya By, ambil seberapa yang bisa By pakai, dan cocok dengan By. Ngga semua By pindahin. Mas tahu bagaimana By, ini bukan diri By. Kenapa By jadi begini?"
"Begini bagaimana? By ingin mengikuti m Kakak. Mas ngga suka? Siapa yang ngadu? Bik Inah?" tanya ku.
"Banyak, By ngga cuma satu. Bahkan Rara dan Thomas pun ikut mengatakannya."
"Hanya dengan seperti ini, Mas bisa memberikan cinta Mas sepenuh nya pada By, dan By bisa menebus dosa By dengan Kakak, sebelum meninggal!" ucapku dengan nada keras.
Mas edra tak membalas, hanya kembali menuju lemari, dan mengambil semua pakaian Kak Dee dari sana, dan membawanya kekamar bawah sebentar, lalu kembali lagi.
"Mas jahat! Mas udah ngelupain Kakak. Mas ngga inget lagi sama Kakak. Semudah itu Mas ngelupain orang yang sudah bersama belasan tahun." tangisku.
"By masih takut, jika Mas belum bisa mencintai By 'kan? By salah. Mas begitu mencintai By, tapi bukan seperti ini caranya. Mas sudah memberikan hati Mas buat Rubby, tapi Rubby yang Mas kenal, bukan Rubby yang ingin menjadi Diana."
Mas edra menghela nafas dan memberiku sepucuk surat, lalu mengambil Maliq dari ku.
"Baca sebentar, Kakak berpesan, berikan pada waktu yang tepat. Dan Mas rasa, sekaranglah waktunya." ucapnya, lalu pergi dariku.
*Ini tetap Rubby 'kan?
Rubby kesayangan Kak Dee dan mas edra.
Rubby yang selalu tegar, dan mencoba kuat. Sa'at sedang berada dalam pilihan yang sulit.
Ini Rubby, Rubby yang menjadi sumber kekuatan Kak Dee. Yang dimana, Ketika By mulai terinjak, Kakak akan semakin tegap berdiri dan membela By, apapun yang terjadi. Meskipun raganya sendiri sakit.
Rubby tidak boleh berubah, demi apapun tak boleh. Rubby adalah Rubby, Rubby selamanya ngga akan pernah jadi Diana. Mas edra akan menyayangi By, sebagai diri By sendiri, bukan sebagai Diana.
Rubby hanya harus semakin kuat, dengan diri By sendiri, karna By yang inginkan itu, bukan karna Diana. *
Aku tersungkur disamping tempat tidur, memeluk kaki yang ku lipat, dan menangis sejadi-jadinya disana.
Inikah yang membuat Kakak menangis? Kakak pun tak mau aku menjadi seperti dirinya. Kakak ingin, sebagaimanapun aku, aku harus tetap menjadi diriku sendiri.
__ADS_1
"Ma'afin By, Kak... By ngga tahu, jika Kakak ngga suka By seperti ini. Andaikan Mas memberi surat ini dengan cepat, By ngga akan berusaha menjadi seperti Kakak, untuk meraih hati Mas edra. By terlalu takut, jika Mas edra, hanya membawa beban tanggung jawabnya pada By dan Maliq."