MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Mulai akrab.


__ADS_3

POV Author.


Malam itu,  Aledra pulang dari luar kota. Sesampai nya beliau dirumah, Beliau langsung mencari istri nya.


"Sayang... Kamu dimana?"


"Dikamar Mas..." Jawab Diana.


Aledra langsung menghampiri istri nya dan langsung memberi nya pelukan hangat.


"Kok malem pulangnya Mas?"


"Iya sayang, tadi macet dijalan. Padahal pengen cepet ketemu kamu, kangen banget." Ucap Aledra dengan terus menciumi pipi Istrinya.


"Aku juga kangen... Yuk kita makan malam dulu, udah  disiapin tuh sama. Bibik." Ajak Diana.


Namun Aledra tak bergeming dan tetap saja menciumi pipi dan bibir istri nya tersebut. Hingga tak sengaja Rubby masuk dan memanggil Diana untuk makan malam.


"Bu, makan malam nya udah siap ayo tu,,, run. Eh bapak udah pulang." Ucap Rubby yang langsung membalik kan tubuh nya.


"Byyy..." Ucap Aledra gemas.


"Maaf Pak, By ngga tahu kalo Bapak udah pulang. By duluan kebawah ya." Ucap Rubby dan langsung berlari.


"Aish anak itu, menyebal kan." Kesal Aledra.


Diana hanya tertawa melihat polah mereka berdua.


"Yaudah yuk makan... Aku laper."


"Ayok lah, nanti malem kita sambung lagi." Ujar Aledra dengan merangkul istri nya menuju ruang makan.


Rubby yang sudah menunggu, dengan muka merah langsung nelayani Diana untuk mengambilkan makanan nya.


"I,,, ini Bu silahkan." Ucap nya gugup.


"By, kamu ngga papa?" Tanya Diana.


"Aah, ngga papa Bu."


"Biasa aja lah By... Kami ini kan sudah suami istri. Kayak kamu ngga pernah aja sama pacarmu." Ucap Aledra.


Diana yang melihat raut wajah Rubby mulai berubah sedih, langsung menyentil kaki Edra untuk memberi nya peringatan.


"Auuuwh... Kenapa sih? Aku cuma bilang apa adanya sayang." Balas Aledra kesal.


"Ngga papa Bu. Saya cuma tiba-tiba teringat almarhum. Tapi ngga papa kok, saya makan duluan ya." Ucap Rubby.

__ADS_1


Diana yang tahu jika suasana hati Rubby mulai berubah, menjadi tidak enak hati pada gadis itu.


"Bu, saya langsung pamit mau ke kamar ya." Ucap Rubby dan langsung berlari kekamarnya.


"Rubby kenapa?" Tanya Edra.


"Nanti aku ceritain dikamar Mas, ayo abisin makanan nya." Ucap Diana.


Seperti rencana awal, setelah makan dan kembali kekamar, Diana menceritakan semua tentang masa lalu Rubby. Terutama apa yang membuat gadis seperti Dia hingga pergi dari kampungnya untuk merantau ke kota besar.


" Wah... Tragis sekali nasibnya, pantas gadis se muda Rubby mau saja merantau kekota sebesar ini. Ternyata itu tujuan nya." Ucap Aledra dengan takjub.


"Iya mas. Kasihan ya, apalagi katanya semua nya sudah siap dari tenda, makanan, hingga salon. Hanya tinggal ijab qabul saja, tapi Allah berkehendak lain padanya." Balas Diana.


"Apa kita carikan jodoh saja Rubby. Kan kamu ada keponakan laki-laki. Kalu ngga ya anak nya temen-temen kamu gitu."


"Aku perduli sama Rubby Mas, tapi. Aku ngga berani ikut campur urusan hati nya. Itu kebebasan hidup Rubby untuk memilih jodohnya sendiri." Ucap Diana.


"Hey, kita tidak sekedar ikut campur sayang. Justru kita memberi nya solusi agar Dia bangkit dari keterpurukan." Bujuk Edra.


"Aaah, entah lah Mas. Aku juga bingung. Oh iya Mas, kamu masih kenal maya?"


"Maya keponakan Mama Mirna? Kenal, kenapa?"


"Mama Mirna ngotot ingin menjodohkan kamu dengan nya."


"Mama kesini? Bicara apa Dia?" Tanya Edra.


"Dia bilang, ingin menjodohkan mu dnegan Maya, keponakan nya, yang Bibit, Bebet dan bobotnya lebih jelas dariku. Dan menurutny, dengan kamu menikahi Maya, kamu akan cepat mendapatkan keturunan yang nantinya akan menjadi pewaris Pratama's grup."


"Jangan dengar kan Mama, itu akan membuat mu drop, aku ngga mau itu."


"Mas... Tapi kamu butuh pewaris, dan calon pewarismu itu harus anak kandungmu, yang jelas aku tak akan bisa memberi kan nya."


"Dee... Aku ngga perduli. Aku hanya punya satu wanita dalam hatiku, yaitu kamu istri ku, yang sudah menemani ku begitu lama." Ucap Edra.


"Mas... Tapi aku hanya penghalang kebahagiaan mu."


"Bahagia macam apa yang kamu maksud? Hanya karna kamu tidak bisa memberi ku seorang anak, tak lantas membuat ku menderita Dee! "


Diana menangis mendengar perkataan suami nya tersebut.


"Dee... Maafkan aku telah membentak mu." Ucap Aledra kembali memeluk istri nya.


"Mas... Bahkan untuk nafkah batinpun, aku sangat jarang memberi kan nya sesuai kebutuhan mu. Aku durhaka."


"Tidak Dee... Kamu tidak durhaka, itu semua karna penyakitmu Dee... Aku ikhlas terus bersama mu, bagaimanapun keadaan nya." Balas Edra dengan mengusap rambut Diana.

__ADS_1


Malam semakin larut, obrolan mereka pun segera berakhir. Seperti lelaki normal yang baru saja berjumpa dengan istri nya. Aledra pun mulai melancarkan aksinya untuk merayu sang istri dengan menciumi tubuh dan bibirnya.


Awalnya, Diana membalasnya dengan baik. Namun lama kelamaan, darah muncul dari gusi Diana hingga merambah ke bibirnya.


"Dee, mulutmu berdarah?" Tanya Edra.


"Iya Mas... Maaf, kamu kena darahku, kamu cepat kumur-kumur ya Mas." Ucap Diana dengan begitu sedih.


Setelah mencuci mulutnya, Aledra kembali pada Diana untuk mengusap darah yang tersisa.


"Ngga bisa lagi Dee?" Tanya Edra.


"Maafin Aku Mas... Pendarahan semakin ngga terkontrol belakangan ini." Balas Diana seraya menangis tersedu-sedu.


"Yaudah ngga papa, sekarang kamu istirahat ya. Biar aku tidur dikamar tamu."


"Mas..."


"Ngga papa... Aku capek, nanti kalau tidurnya ngorok, malah kamu yang terganggu."


Aledra langsung mengecup pipi Diana, dan keluar dari kamarnya.


Diana begitu sedih, karna lagi-lagi Ia tak bisa melayani suami nya dengan semesti nya.


POV Rubby.


Aku terbangun tengah malam karna mendadak lapar. Segera ku langkah kan kaki ku kedapur dan mencari sisa makanan tadi malam.


"Yaaa... Cuma ada nasi, yang lain abis. Ehmm buat nasi goreng deh."


Ku ambil telur dan bahan lain dalam. Kulkas dan mulai memasak.


"Wush... Mantap, jadi Nasi gorengku." Ucap ku dengan gembira.


Sedang ingin aku untuk memakan nya. Tiba-tiba Pak Edra datang mengagetkan ku.


"Sedang apa kamu malam-malam begini By?" Tanya nya.


"Eh... Bapak. Anu pak, saya kelaperan. Jadi saya buat nasi goreng aja. Kebetulan ada sisa nasi."


"Kamu ngga takut gendut makan malam-malam begini? Wah, mana sebanyak itu lagi abis kamu makan sendiri?" Tanya Pak Edra dengan heran.


"Ya gitu deh... Lagian daripada kebuabg kan mubazir Pak, enak saya yang makan. Bapak mau? Saya ambilin piring ya." Tawarku.


"Boleh deh... Kebetulan saya lagi ngga bisa tidur. Sekali-kali makan malem kan ngga bikin gendut ya."


"Engga kok Pak... Asal jangan sering-sering. Lagian gemuk dikit ngga papa, asal masih tetep sehat."

__ADS_1


Setelah ku persiapkan Nasi goreng untuk nya, kami pun makan berdua di dapur.


__ADS_2