MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Mimpi Maliq


__ADS_3

Ku nikmati keseharian ku dengan semua kelelahan ini. Meskipun kini pisah ranjang, tapi sesekali ku hampiri dan ku lihat Ia dikamar anak-anak. Seperti malam ini, ketika Ia tidur dikamar Bram.


Ku buka pintu perlahan agar tak terbangun. Ku hampiri Ia yang ternyata sedang tersiksa tidur dengan Bram yang super aktif.


Ku singkirkan kaki Bram dari dada Mas edra perlahan, lalu ku cium mereka satu persatu, meskipun dengan perasa'an  menahan malas.


"Sabar ya, Mas. Semoga saja, apa yang kita inginkan terpenuhi. By janji, ini yang terakhir." lirihku.


Perlahan aku berdiri, namun tanganya menahan tanganku, menariknya hingga tubuhku jatuh tepat diatas tubuhnya, dan mataku tepat berhadapan dengan matanya.


Deg.....! Jantungku berdegup kencang.


"Katanya benci, diam-diam kesini." ucapnya padaku, tanpa membuka mata.


"Mau nengok Bram."


"Nengok Bram, tapi Ayahnya dicium juga."


"Nanti ngga disapa sedih, ngadu sama Bibik. Ah, serba salah." omelku.


Aku melepaskan tanganya dan berusaha bangkit. Namun, Ia tahan dan justru meletakan kepalaku di dadanya. Aku mencoba melawan, namun pelukanya semakin erat.


"Mas..."


"Bentar aja.... By ngga tahu, tersiksanya Mas ketika kita dekat. Tapi Mas harus menjauh dan tak bisa menyentuh By seperti biasanya."


Aku menurutinya sebentar, hingga ternyata Bram bangun, dan menatap kami berdua.


"Ibu, Ayah, kenapa?" tanya nya polos.


Aku dan Mas edra lalu salah tingkah karna terkejut. Dan tanpa menjawabnya, aku pergi dari kamar itu.


Pov Edra.


"Setidaknya, sesekali bisa memeluknya erat. Lega rasanya, "


"Yah... Ibu kenapa?"


"Ngga papa, udah tidur lagi." jawabku, lalu memeluknya.


"Kenapa bilang ngga papa, Ibu rindu ayah?"


"Engga... Ayo tidur, udah tengah malem ini. Besok telat mau sekolah."


"Besok hari minggu, yah. Libur,"


"Yaudah.... Takut besok kesiangan mbagongnya."


"Mbagong itu apa?" tanya nya lagi.


Aku tak menjawab, ku pejamkan mataku kembali dan pura-pura tidur. Hingga akhirnya Ia lelah dan ikut tidur bersamaku.

__ADS_1


Pagi ini, aku bangun pagi, dan mengajak istriku tercinta untuk marathon bersama.


"Ayo sayang, mupung jam segini. Kemaren waktu hamil yang lain, meskipun males, masih semangat buat marathon." bujukku.


"Mas... Bukan malas marathonya, tapi. Males sama Mas nya. Sama Maliq aja deh,"


"Yaudah, Mas ajak Maliq. Lagi shalat subuh tadi. By jangan lupa subuhan."


"Iya...." balasnya, yang masih berselimut tebal.


Aku menghampiri Maliq, dan mengajaknya lari pagi.


"Ayo, Yah..." jawabnya dengan semangat.


Kami berdua mengitari komplek rumah beberapa kali, hingga terasa lelah, dan beristirahat sejenak.


"Yah..."


"Iya... Kenapa?"


"Bunda itu, baik?"


"Hmmm? Kenapa tiba-tiba tanya Bunda? Maliq rindu?" tanyaku, yang sedikit heran dengan pertanya'anya.


"Bagaimana Maliq bisa rindu, jika bertemu saja tidak pernah."


"Maliq bohong jika tidak pernah bertemu. Karna Maliqlah yang menjadi anak kesayangan Bunda sewaktu kecil. Meskipun, tak sampai setahun."


"Iya... Bunda istri pertama Ayah, dan Ibu, istri kedua. Meskipun Ayah memiliki Dua istri, tapi mereka saling menyayangi. Bahkan, Ibu lah yang merawat Bunda dengan sepenub hati, karna Bunda sakit."


"Yang fotonya dipajang diruang tengah, itu Bunda sama ayah?"


"Iya... Itu, Ibu Maliq yang memotretnya, bagus bukan?"


"Bunda cantik, persis, seperti yang sering hadir dalam mimpi Maliq." lirihnya.


Aku sontak terkajut dengan pengakuanya, tapi kenapa Ia tak pernah bilang pada kami, jika pernah bertemu dalam mimpi.


"Kapan... Maliq bertemu Bunda?" tanya ku.


"Sering, Yah... Tak tentu kapan waktunya. Kadang, seminggu sekali. Kadang juga, sebulan sekali. Mimpi itu, terasa begitu nyata. Seperti ketika Maliq sedang dogendongnya. Diajak menyiram tanaman, diajak bermain. Seolah, Maliq masih bayi ketika itu."


"Maliq... Kenapa ngga bilang?"


"Maliq fikir, itu hanya bunga tidur. Tapi semakin kesini, semakin sering, Yah."


Aku mengusap wajah, terharu dengan pernyata'an yang diucapkan olehnya barusan.


"Dee, kamu ingin apa sayang? Hanya rindu, atau ada sesuatu?" lirihku.


"Maliq do'ain Bunda tiap habis shalat Ya, Nak. Supaya Bunda lebih tenang disana. Nanti, Ayah ajak Maliq ke makam. Lalu, besok kita rencanakan, untuk membuat acara bersama Ibu dan anak panti untuk Bunda."

__ADS_1


"Iy, yah."


Aku merangkul tubuhnya yang mulai meninggi, diusianya yang menginjak Sepuluh tahun ini. Mengajaknya bercanda, dan menanyainya tentang keseharianya disekolah. Meskipun, menurutnya itu biasa saja.


"Assalamualaikum," ucap Maliq, yang mendahuluiku masuk kerumah.


"Waalaikum salam, Mas Maliq, Ayah.... Kenapa ngga ngajak?" omel Bram.


"Bram masih tidur tadi, makanya ngga diajak." jawab Maliq.


"Kan bisa bangunin, kenapa ngga bangunin?"


"Adi sama Bayu juga, mau ikut jalan pagi." sahut kembarku.


"Ya... Besok diajak. Maliq mandi dulu, udah itu, kita sarapan bareng." ajak ku padanya.


Aku segera menuju kamar, berniat ingin mandi dan ganti baju.


"Mas... Mau ngapain?" tanya Rubby.


"Mandi sayang, nanti muntah sama bau keringet Mas."


"Owh... Oke."


"By... Jangan keluar dulu, Mas mau ngomong. Tentang Maliq."


Tanpa menjawab, Ia menunggu ku dengan duduk disofa kamar, lalu bertanya kembali setelah aku keluar dari kamar mandi.


"Ada apa, Mas? Maliq kenapa?".


Aku duduk disebelahnya, dengan menjaga jarak, agar tak memancing emosinya dipagi hari.


"Maliq... Ternyata sering bermimpi tentang Kakakmu. Katanya, mimpi itu seperti begitu nyata, sehingga sempat mengganggunya. Mungkin, semacam De javu. Ingatan Maliq ketika masih bayi."


Pov Rubby.


Begitu mengejutkan, ketika aku mendengar penuturan Mas edra tentang Kak Dee dan Maliq. Hatiku begitu teriris, hingga aku menangisi nya.


"Apa.... Kita kurang memperkenalkan Kakak pada anak-anak? Sehingga Kakak menyapa Maliq lewat mimpi? Atau... Kita kurang memberi perhatian padanya?"


"By, sayang... Mungkin tidak kurang untuk perhatian kita. Karna, setiap hari pun, kita mengirimkan Do'a untuknya 'kan? By masih tetap mengirim do'a kan, setiap shalat?" tanya Mas edra.


Aku mengangguk, dan mengusap air mata. "Lalu... Bagaimana?"


"Hmmm... Kita adakan saja, acara mendo'akan Kakak, bersama anak panti dan keluarga Yayasan. Nah, disana nanti kita akan memperkenalkan, Sosok Bundanya pada anak-anak. Bagaimana?"


"Iya... By setuju." jawabku, dengan mulai memberikan senyum.


"Udah bisa senyum sama Mas. Bisa peluk?" rayunya.


"Ogah.... Masih males. Yuk sarapan sama anak-anak. Ajakku padanya."

__ADS_1


Aku kebawah menghampiri anak-anak dimeja makan. Maliq memimpin Do'a, lalu sarapan bersama. Tapi, Maliq terlihat tak fokus kali ini. Tatapan matanya tertuju pada foto Kakak dan Mas edra yang terpajang besar diruang itu.


__ADS_2