
Malam nya, Aku duduk dirumah seraya menonton tv bersama Kak Dee, sampai saat seseorang mengetuk pintu rumah.
Tok... Tok... Tok.
"By, itu siapa? Buka pintu nya, Nak." pinta Ibu.
"Iya, Bu," sahut Ku, dan bergegas membuka pintu nya.
Seorang lelaki berdiri didepan pintu, aku mengenal nya. Seorang yang ku hindari selama ini.
"Bang ... Ramlan?"
Ia membalik kan badan, dan tersenyum pada Ku.
"By... Akhirnya, By pulang juga. Abang kangen," ucap Nya, dengan berusaha memeluk ku.
"Bang... Tolong jangan," pinta Ku, dengan menangkis tangan nya.
"Kenapa, By? By tak suka bertemu dengan Abang?" tanya Nya.
"Bang... Bu lurah tidak cerita? By sudah menikah di kota."
"Hah... Dengan siapa? Kenapa tak beritahu Abang?"
"Kenapa harus beritahu Abang?"
"Karna Abnag cinta sama By, Abang akan cegah pernikahan itu,"
"Untung saja lah, Abang tak tahu."
Bang Ramlan lalu berlutut dan menangis dihadapan ku.
"By ... Kenapa tak menghargai perasaan Abang?"
"Bang... Abang apa-apaan? Jangan seperti ini, malu." omel Ku padanya.
"Tidak, By... Abang akan tetap seperti ini, sampai By mau menerima cinta Abang." mohon Nya pada ku.
"Ya Allah, Ramlan. Kenapa seperti itu, Nak. Bangun, bangun malu dilihat tetangga," bujuk Ibu.
"Engga, Bu... Saya mau Rubby, ngga mau yang lain. Saya bisa gila karna nya," bang Ramlan mengemis.
"Nak... Ngga boleh seperti ini, nanti Ibu mu datang dan marah lagi dengan Rubby," bujuk Ibu kembali.
Aku hnaya diam saja, membiarkan Bang Ramlan dengan semua aksinya. Aku sudah lelah, dan aku sudah tahu apa yang sebentar lagi akan terjadi.
"RAMLAN!!" Teriak Bu lurah, dengan nada yang baik beberapa Oktav.
"Nah, Kan. Dateng Dia," lirih Ku, dengan memijat dahi.
__ADS_1
"Rubby... Masih saja kamu ganggu Ramlan!"
"Bu Lurah yang terhormat. Bang Ramlan nya kemari, bukan saya yang ganggu. Kan Anda lihat sendiri, Dia yang disini dan bukan saya yang menemui Dia," jelas Ku.
"Harusnya... Jangan kamu terima Dia!"
"Harus kah saya usir? Baik lah... Bang Ramlan, segera pergi dari sini. Saya ngga mau lihat muka Abang lagi. Pergi sana," usir Ku, pada Bang Ramlan.
"Rubby...! Beraninya, Kamu!" tunjuk. Nya, padaku.
"Apa lagi, Bu? Salah saya lagi? Terserah lah. Saya lelah,"
Aku memutar badan, dan ingin meninggalkan mereka diluar. Namun, Bang Ramlan menarik tangan ku.
"By... Janga pergi lagi, By. Jangan tinggalin Abang." rengek Nya, padaku.
"Ramlan... Jangan kayak anak kecil!" ujar Bu Lurah.
"Bu... Sepertinya, Bang Ramlan harus dibawa ke RSJKO." ucap Ku.
PLAAAAK!
"Berani kamu bilang anak saya gila? Dasar pelakor ngga tahu diri kamu!"
"Siapa pelakor?" tanya Kak Dee, yang datang memghampiri ku.
"Siapa lagi," jawab Bu Lurah yang mengarahkan pandangan nya padaku.
"Mana bisa kamu buat saya malu. Saya orang terhormat dikampung ini."
"Anda menantang saya, Bu? Pernahkah Ibu berfikir jika suatu saat. Saya akan mencabut smeua kehormatan yang telah ibu miliki, dan Ibu jaga selama ini?"
Mimik wajah Bu lurah berubah, semangat nya yang menggebu untuk membully ku seakan memudar begitu saja. Iy"Ramlan... Ayo, kita pulang." tarik Bu Lurah pada Bang Ramlan secara kasar.
Aku menghela nafas panjang, dengan tangan yang mesih mengelus pipi merah ku karna ditampar tadi.
"Masuk, By. Tamparan seperti itu, jangan sampai membuatmu sakit hati dan lemah." ucap Kak Dee padaku.
Karna hari sudah malam, Aku segera memberi obat pada Kak Dee, dan mengajak nya tidur.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Bu Lurah seolah menghilang dari peredaran. Begitu juga Bang Ramlan. Yang tak terlihat batang hidungnya sama sekali.
Tak terasa, Seminggu sudah Aku dan Kak Dee dikampung. Setelah dirasa puas, kami segera berkemas untuk kembali ke kota.
"By... Sudah siap pulang 'kan?" tanya Kak Dee.
"Siap, Kak. Ibu juga sudah By pamitin, tapi ngga bisa ngelepas, karna mau kekebun," Jawab Ku.
"Yaudah... Yang penting, Bapak sama Ibu udah tahu. Yuk, berangkat. Mas Bima udah nungguin," ajak Kak Dee, menggandeng tangan ku.
__ADS_1
"By, sudah mau pulang kekota?" tanya Pak Akbar yang menghampiri ku.
Pak Akbar adalah tetangga dikebun Bapak. Ia menunggu kebun orang lain, dan memanen hasilnya untuk orang yang memperkerjakan nya disana. Dengan kata lain, Pak Akbar adalah seorang Buruh.
" Iya Pak... Kenapa? Tumben datang kemari?" tanya Ku.
"Tadi... Bapak ketemu Ayahmu, tapi mau ngomong kok berat."
"Ngomong apa? Bilang sama By,"
"Bapak... Sedang butuh uang, By. Panen kemarin gagal, dan Bapak tidak dapat apa-apa," rintih Nya padaku.
"Pak... By cuma punya segini," ucap Ku, dengan memberikan uang Dua Ratus Ribu padanya.
"Alhamdulillah... Begini saja sudah bahagia Bapak, Nak." ucap Nya.
"Pak... Saya berikan segini, dengan catatan. Ini buat modal Bapak berkebun krmbali. Ini, ambil lah," Kak Dee memberikan uang kurang lebih Dua Juta.
"Ma_Maaf, ini kebanyakan. Saya takut memegang uang sebanyak itu," balas Pak Akbar.
"Baik... Berhubung Halim sedang pergi, maka nanti uang ini akan saya transfer ke Dia. Dan jika Bapak perlu, Bapak tinggal minta padanya," saran Kak Dee.
"Ya Allah... Terima kasih, Bu. Hanya Allah yang bisa membalasnya." ujar Pak Adam dengan bulir air mata yang mulai menganak sungai.
Aku mengajak Kak Dee agar segera memulai perjalanan kami, karna aku takut jika nanti dijalanan yang sepi, akan kami lewati pada malam hari yang gelap. Karna itu sangat rawan kejahatan.
Didalam mobil, Aku mengajak Kak Dee bercengkrama lagi. Semua hal kami bahas.
"Kak..."
"Hmm,"
"Kenapa Kakak dengan mudah memberi bantuan pada orang lain?"
"Apa lagi yang bisa Kakak lakukan, By. Hanya mengumpulkan, dan memperbanyak pahala dan amalan, agar Kakak siap kembali kepangkuan sang khalik," jawab Nya datar.
"Kak... Kenapa bilang seperti itu? By merinding dengarnya,"
"Ya... Harus bagaimana lagi? Memang Kakak sekarang hanya bisa berserah diri 'kan?"
"Kak... Kakak, Mau ya berobat keluar negri," pinta Ku.
"Bukan Kakak ngga mau, By. Tapi hasilnya akan sama saja. Justru, tubuh Kakak akan semakin tersiksa dengan semua proses pengobatan yang menyakitkan itu,"
"Kak... Kakak jangan pasrah,"
"By... Yang bisa kita lakukan sekarang, hanya lah pasrah dan berdo'a agar Kakak tetap kuat, dan bisa melihat keinginan terakhir Kakak dari Kamu,"
"Iya... Kak, By akan berusaha," jawab Ku dengan antusias.
__ADS_1
Kami melanjutkan perjalanan dengan aman. Kak Dee yang sudah lelah, tertidur dipangkuan ku.
Kubelai rambutnya yang tak memakai Wig itu, tercabutlah beberapa helai rambutnya yang rontok ditanganku. Dan tak terasa, air mata ku menetes dan hatiku begitu pedih melihatnya.