MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Mencoba Hijrah


__ADS_3

Aku merapikan semua serpihan hp itu, sampai beberapa menit kemudian, Mas edra datang.


"By... Kenapa? Kenapa By nangis?" tanya nya heran.


Aku tak banyak bicara, hanya menunjukan hp ku yang sudha hancur lebur dibuatĀ  Bu lurah barusan.


"Siapa yang berbuat seperti ini? Hp nya sampai hancur begini?"


"Bu lurah Pak... Dia tadi ngamuk-ngamuk kesini, pas Rubby lihatin video ramlan, malah hp nya dibanting," sahut Bu indah.


"Benar, By?" sambung Mas edra.


Aku kembali mengangguk, tak tahu kenapa, rasanya pedih sekali sa'at itu.


"Tak apa... Nanti kita beli lagi, ya. Mas belikan yang lebih bagus dari ini," ujarnya.


"Ini... Salah satu kenangan dari Bang bagas buat By, tinggal ini. Kalung dan yang lainya, sudah By berikan pada Ibu, dijual, dan hasilnya diberikan pada anak panti." jawabny setengah bengong.


Mas edra memegang erat bahu ku, dan mengangkat dagu ku, dan menatapku tajam.


" Bawa Mas ke makam Bagas sekarang, By. "


" Buat apa? " tanya ku


"Mas mau bilang ke Bagas. Jika By itu sudah jadi milik Mas. Dan By, harus mengikhlaskan semua nya. By belum ikhlas sepenuhnya hingga sekarang bukan?"


Aku menangis tersedu memeluknya, entah kenapa, ingatan ku kembali tentang Bang bagas sa'at ini.


Mas edra membimbingku berganti pakaian, dan mengajak ku kemakam menggunakan motor ku.


Sampai dipemakaman, ku bawa Ia menuju makam bang bagas. Kami bersimpuh dipinggiran makam, dan berdo'a untuknya.


"Bagas... Perkenalkan, saya suami Rubby sekarang. Kamu pasti tahu 'kan. Tidak banyak yang saya bicarakan sa'at ini, hanya saja, saya ingin minta ma'af, karna sebelum nya saya tidak meminta izin dulu kemari sa'at akan menikahi Rubby. Saya berjanji, akan membahagiakan Dia seperti keinginan terbesarmu selama ini. Dan... Untukmu, kami akan menggelar do'a nanti, sebagai tanda sayang kami semua padamu. Terimakasih, tenang lah disana. Jangan khawatirkan Rubby disini,"


Itu ucapan Mas edra disana, tak panjag, tak bertele-tele, Karna memang begitulah sifatnya.


"By ada yang mau disampaikan?" tanya nya padaku.


"Engga... Hanya saja, satu perminta'an Abang yang belum By turuti, bolehkah By melaksanakannya?"


"Iya... Silahkan saja, selama By ikhlas dan tak terbebani. Apa itu sayang?"


"Besok, Mas akan tahu," jawabku.


Mas edra memasang wajah penasaran, namun Ia tetap mendukungku dengan senyuman hangatnya.


Kami kembali kerumah, dengan sepanjang jalan mencari sebuah toko Hp yang buka.


"Mampir dulu lah beli hp mu, nanti Kakak mau hubungi ngga bisa," ajak Mas edra.

__ADS_1


"Biarin deh... Nelpon kan pake hp Mas, By lagi males pegang gadget."


"Yaudah kalo gitu, kita balik kerumah Ibu, nanti acara bapak-bapak 'kan. Kata Bapak, Mas nyambut tamu malam ini."


"Hah... Nyambut tamu, ntar malem rame loh, bisa?"


"Kamu By... Ngeremehin Mas. Lain kali ikut acara kantor deh, biar By tahu kerja'an Mas gimana. Lebih capek dari nyambut tamu pesta."


"Hehe... Iya, Ma'af."


Kami berjalan kembali menuju rumah Ibu, dan menyambut pesta malam ini.


*


*


*


Suasana mulai ramai, para tamu yang didominasi para Bapak-bapak dan sesepuh kampung, sudah mulai berdatangan. Mas edra menyambut para tamu satu persatu, dengan busana rapi, kemeja batik, celana dasar, lengkap dengan peci nya. Terlihat begitu gagah sa'at itu.


Aku duduk diruang dalam, karna Ibu menyuruhku diam dan tak banyak bergerak disana. Aku tahu, Ibu tak mau aku kelelahan, dan tak ingin terjadi apa-apa dengan calon cucu nya itu.


Aku takut membantah lagi, jujur aku sudah trauma karna pernah melanggar perkata'an Ibu sa'at itu. Terlepas dari mitos atau tidaknya, tapi semua nya menjadi kenyata'an, dan sakitnya masih terasa sampai sekarang.


"Bu... Acaranya selesai malem ya?" tanya ku pada Ibu, yang sedang mengobrol dengan beberapa tamu nya.


"Iya... Kenapa, By ngantuk? Tidur aja sana dikamar," balas Ibu.


"Ngga ngantuk Bu... By bosen aja, ngga bisa ngapa-ngapain." jawabku.


"Ya 'kan memang lagi ngga boleh ngapa-ngapain. By duduk, diem, kalau mau apa biar Bu indah yang ambilin. Disini sedang ramai-ramainya, takut nanti By ketumbur orang yang sibuk, jatuh pula."


"Iya Bu... By patuh," balasku.


Mas edra datang menghampiri, dan melihatku yang sedang murung. "By kenapa?"


"Bosen... Ngga bisa ngapa-ngapain," jawabku.


"Tadi mau Mas belikan Hp, By ngga mau. Nih, main hp Mas." ujarnya, dengan memberikan Hp nya padaku.


"Ada Noveltoon ngga? By biasanya baca novel online,"


"Download aja lagi, gampang 'kan?"


"Tapi, Akun nya Akun By, nggapapa?"


"Biasa ajalah... Apa By mau hp itu yang By pakai ngga papa, Mas beli baru,"


"Engga mau... By mau nya yang baru," rengek ku.

__ADS_1


"Iya Iiiih... Kok ngerengek gitu, kayak anak kecil." ledeknya.


"Biarin, Hp sama By. By kekamar, nanti kalau mau ambil aja ya," ucap ku, seraya kembali menuju kamar, dan mulai bergumul dengan novel kesuka'anku.


Sejak aku sudah tak sibuk lagi dengan urusan Kemo Kak dee, aku lebih seting dirumah, dan membaca Novel online kesuka'an ku.


Mr. MAFIA karya Novi Wu


Peluk Aku sebentar saja karya Adek Siska. Gabby, karya Nukha.


Menikah tanpa pacaran, karya Muni haryani.


Suami dadakan karya Neneng su Susanti. Benar-benar menjadi pavoritku sa'at ini, dan selalu ku tunggu setiap pemberitahuan nya.


Tak terasa, membaca semua novel itu, membuatku terjaga hingga larut malam, dan Mas edra mengurku untuk tidur.


"By... Udah malem, besok mau pesta."


"Iya, Mas... By selesai, langsung tidur. Tanggung dikit lagi," jawabku.


Mas edra, langsung mematikan Lampu, agar aku segera tidur. Dan aku langsung menurutinya.


*


*


*


Pagi nya, kami bersiap untuk acara pesta Bang halim.


Mas edra sudah terlebih dahulu ke depan untuk kembali menyambut tamu, dan aku sedang mengantri untuk didandani oleh salon pesanan Bang halim.


"Mba By... Giliran Mba, ayo sini." panggil Mba diah, penata Rias salon itu.


Aku menghampirinya, dan memulai make up ku.


"Mau make up yang gimana?" tanya nya lagi.


"Mau yang natural aja, terus... Pake hijab ya, ini perlengkapanya." pinta ku, dengan memberikan semua perlengkapan.


Mba Diah mulai mendandani ku, dan memasangkan hijabnya padaku. Setelah selesai, aku keluar menghampiri, dan mendampingi Mas edra dan mendampinginya disana.


Aku keluar dengan mamakai baju gamis berwarna coklat, dengan Hijab pasmina dengan warna senada. Dandanan yang dibuat natural, karna aku memang tak suka dandanan yang terlalu menor, terlebih lagi tak baik untuk kehamilan ku.


Ia menatapku tajam, matanya berbinar-binar melihat penampilan baruku. Tak sadar, Ia mengeluarkan air mata dan menetes dipipinya.


"By... Kamu_...."


"Do'akan terus ya, Mas... Semoga By istiqamah,"

__ADS_1


"Kamu cantik... Mas senang melihatnya, teruskan, jangan pernah dilepas ya," bujuknya padaku.


__ADS_2