MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Penantian panjang


__ADS_3

Pov Rubby.


Setelah acara ulang tahunku kemarin, aku dan Mas edra memulai rencana untuk program kehamilan ke Empat ku, yang artinya anak kelima kami.


Aku konsul kesana kemari, untuk mengetahui, kapan waktu yang tepat untuk aku bisa hamil lagi. Mengingat, aku harus operasi ketika melahirkan si kembar kemarin.


"Ibu terarkhir lahiran, sudah hampir Tiga tahun, ya? Sudah boleh hamil lagi. Dengan perawatan ekstra tentunya, karna kemarin sempat lemah, kan? Begitu yang dikatakan riwayat kehamilanya." ucap Dokter.


"Hmmm... Bisakah, istri saya melahirkan normal, Dok?" tanya Mas edra.


"Bisa... Tapi sepertinya sedikit beresiko. Asal Ibu kuat fisiknya, tekanan darah, dan jantungnya, pasti bisa."


"Syukurlah, saya tidak bisa menemani jika operasi. Jadi, saya lebih cemas ketika itu terjadi." Terlebih lagi, karna aku trauma dengan ceritanya kemarin.


"Kita lihat kondisinya besok ya, Pak." balas Dokter pada Mas edra.


Aku keluar dari ruang pemeriksa'an, dan duduk disampingnya.


"Sudah dengar tadi, kan? Sudah bisa hamil lagi, tapi jangan terlalu memaksa keada'an." ucap Mas edra padaku.


"Iya... By denger," jawabku. Dan setelah itu, kami permisi untuk segera pulang.


*


"Alhamdulillah, ngga harus banyak pengobatan dan terapi, karna kita sama-sama masih subur," ucap Mas edra padaku.


"Iya, Mas... Semoga dipermudah, ya. Rencana kita."


"Aamiin...."


"Gimana ya, Mas, caranya dapet anak cewek. Adakah tekhnik khusus gitu?" sebuah pertanya'an, yang cukup membuat Mas edra gugup sepertinya.


"Apa'an sih, sayang. Kalau masalah itu, coba tanya Bapak sama Ibu, deh. Kan, mereka yang punya anak cewek." ledeknya padaku.


"Ah... Malu, mending tanya sama Dokter ajalah,"


"Berdo'a, dengan tulus dan memohon dengan sangat selapas shalat sayang. Mas akan bantu do'a kok, By sabar. Jangan terlalu memaksakan kehendak. Nanti... Kayak temen Mas, sangking pengen anak cewek, Dia bela-belain nyolong baju anak cewek tetangganya waktu lagi hamil. "


"Hah... Serius, Mas? Terus, gimana? Dimarahin ngga?" tanyaku, dengan tawa lepas.

__ADS_1


"Engga, sih. Tapi, efek ke si anak, yang ternyata lahir laki-laki. Karna obsesi Ibunya, anak itu agak melambai sekarang. Kasihan lihatnya,"


"Ya Allah... Kasihan, Mas. Yaudah, By ngga terlalu terobsesi lah. Meskipun pengen banget, tapi harus jaga hati." balasku, dengan penuh harap.


Aku menunggu, dan terus menunggu, berdo'a, dan terus berusaha. Hingga sekarang, adalah tepat ditahun ketiga penantianku.


"Kemarin, kedeketan. Kenapa, sekarang kejauhan? Menanti si bungsu, kenapa begitu lama?" gumamku sendiri, seraya meman dangi testpack, ditanganku.


"Kenapa sayang?" tanya Mas edraz yang sedang merapikan seragamnya.


Aku berdiri, dan memakaikan dasi untuknya.


"Negatif lagi, udah Dua tahun kita nunggu. Si kembar juga udah hampir Lima tahun, Maliq, sama Bram, udah Sembilan, sama Tujuh tahun. Mereka jaraknya cuma Dua tahun, kenapa sekarang lama?"


Mas edra melingkarkan lenganya dipinggangku, lalu menariknya menghimpit ketubuhnya.


"Bersyukur, karna setidaknya kita sudah memiliki Empat orang anak sekarang. Hanya tiga tahun, sedangkan mereka disana, sudah belasan tahun menunggu, namun tak kunjung ada jawaban."


"Iya... Ma'af. By akan lebih sabar. Usia By sudah diatas Tiga puluh tahun sekarang, masuk resiko tinggi untuk kelahiran normal."


"Tak apa, jika memang harus operasi lagi. Mas akan buat, agar mereka mengizinkan Mas menemani." ucapnya, sambil memeluk ku erat.


"Ayo, berangkat. By harus mengantar anak-anak sekolah, bukan?" ajaknya.


"Iya... Untung, mereka satu sekolah, jadi tak perlu kemana-mana lagi." jawabku.


Kami segera keluar, dan para punggawa kami sudah bersiap dengan seragam, tas, dan bekalnya masing-masing.


"Berangkat kita?" tanyaku.


"Iya, Bu....." balas mereka kompak.


Aku berjalan menggandeng si kembar, sedang Maliq, menggandeng Brama dengan erat, dan membimbing mereka masuk kedalam mobil, dan duduk dengan rapi.


"Mas Maliq, hari ini jagain adeknya lagi, ya. Ibu jemput seperti biasa. Ngga ada yang ganggu lagi 'kan sekarang?" tanyaku.


"Engg, Bunda... Mereka ngga pernah gangguin lagi, malah separuh ngga berani deket-deket Maliq sekarang."


"Loh, kenapa?"

__ADS_1


"Takut, sama Ayah. Tapi, ngga papa. Ayah kan ngga jahat, cuma kaya raya aja." balasnya dengan senyum.


"Jadi... Maliq ngga usah insecure, kalau mereka menjauh. Tetap jadi diri Maliq sendiri, jaga adek-adeknya. Nanti, teman yang benar-benar tulus, akan datang sendiri." nasehatku padanya.


"Ngomongin apa, sih? Brama ngga ngerti?" sahut Brama dari belakang.


"Mau tahu aja," ledek Maliq, dengan menjulurkan lidahnya.


Sampai disekolah mereka, dan mereka segera turun. Maliq tak mau ku antar sammpai keruangan, justru Ia, yang menggenggam erat tangan si kembar menuju ruangan mereka. Aku merasa, seolah Maliq tumbuh dewasa sebelum waktunya sa'at ini.


"Kekantor, Bu?" tanya Mas bima.


"Ya... Kekantor sebentar, karna ada beberapa pekerja'an. Nanti jemput sikembar lagi."


Mas bima mengangguk, dan kembali memacu mobil, membawaku kekantor.


"Selamat pagi, Bu." sapa salah seorang karyawan padaku.


"Pagi... Banyak agenda hari ini?" tanyaku padanya.


"Tidak terlalu banyak, karna semua sudah beres. Diwakilkan Pak thomas daj semua stafnya."


"Oke... Terimakasih, dimana Beliau sekarang?"


"Ada acara diluar kota, dan Bu rara  ada pertemuan."


"Siapkan file yang harus saya periksa, dan harus saya tanda tangani, ya." pintaku padanya.


Selesai dengan semua tugas, alu kembali kesekolah, untuk menjemput jagoan kembarku.


"Abis jemput si kembar, ke salon, ah. Sambil nunggu, Masnya pulang." gumamku.


Sesuai dengan rencana, aku membawa mereka ke salon langgananku, untuk perawatan. Si kembar sudah biasa ku bawa, mereka tenang bersama mainan masing-masing, dan tak pernah mengganggu atau pun membuat kegaduhan disalon itu.


"Ini, ya... Ibu yang ngasih nama ke anaknya, nama yang engga banget. Kayak tokoh pewayangan gitu, Kampungan..." ucap salah seorang wanita disebelahku.


"Kenapa ngga pake nama modern gitu, lagi musim 'kan, nama-nama yang islami, atau yang Bule gitu. Apa'an lah, ngasih nama jadul." sahut yang lainya.


"Ngakunya orang kaya, tapi kampungan. Mana anaknya banyak banget lagi, pasti prinsipnya masih prinsip kampungan, banyak anak, banyak rezeki. Kalau aku sih, mau nya anak ku jadi anak tunggal. Pewaris perusaha'an... Kalau kebanyakan, aaaah... Riweh," sahut yang lain lagi.

__ADS_1


Aku hanya diam, malas membalas karna memang aku ingin rileks disini. Sudha terlalu kebal juga, dengan perkata'an seperti itu.


__ADS_2