
"Pak... Bapak mulai hari ini tinggal disini, dalam pengawasan Dee... Bapak ngga usah kemana-mana, jika mau apa-apa, hubungi saja nomor ini." ujar ku, dengan memberi sebuah kartu nama.
"Kamu mengurung saya?" tanya Pak hadi.
"Tidak.... Tapi ini demi keamanan Bapak sendiri. Kita ngga tahu gimana nanti." jawabku, dan Ia hanya menarik nafas pasrah.
"Inah... Bagaimana?"
"Dia bersama Rubby dirumah. Sudah, Dee kekantor Thomas dulu. Memberikan ini pada pengacara kami,"
"Baiklah... Terimakasih fasilitas nya, jaga dirimu baik-baik. Kamu semakin pucat, seperti tak ada darah lagi yang mengalir dalam tubuhmu."ucapnya.
"Oleh karna itu, Dee berusaha sekeras ini dengan sisa darah yang Dee punya." jawabku. Lalu meninggalkanya pergi.
Ia ku tempatkan disebuah rumah susun, yang tak jauh dari rumahku. Hampir dari mereka semua mengenaliku, karna aku dan Mas edra sering membagikan sembako kesana. Aku menitipkan Pak hadi pada para tetangga, namun tetap merahasiakan keberada'anya. Karna meskipun terkurung, pikiran ku atas Mama mirna masih saja bisa merajalela kemana-mana.
Seperti rencana awal. Setelah selesai urusanku dengan Pak hadi, Aku segera kekantor untuk memberikan semua bukti pada Thomas.
*
*
*
"Thom... Ini bukti utamanya, segera serahkan pada pengacara kita?" ucapku.
"Botol saus?"
"Iya... Papa alergi dengan itu, dan sesak nafas hebat sa'at memakanya. Tapi, Mama mirna menuangkanya kedalam sarapanya. Dan sayangnya, aku yang menyuapinya sa'at itu."
"Dee... Ada bukti, tentang alergi itu? Hanya seperti ini, belum cukup kuat."
"Bagaimana bisa? Bukankah itu bukti utama? Disitupun ada sidik jari Mama mirna yang masih tertempel," jawabku.
"Dee... Sidik jari seorang wanita dibotol saus itu hal yang wajar."
"Tapi ada Pak Hadi, dan Bik inah."
"Iya, Dee... Tapi berhubungan dengan alergi, dan keracunan. Bukti terlampir itu penting. Dan Jenazahnya sudah Lima tahun dimakamkan, tak bisa lagi untuk kita visum."
Tubuhku langsung lemas. Aku terduduk dikursi ruang kerja Thomas. Thomas yang panik, dengan sigap memberiku air minum ketika itu.
"Lalu... Bagaimana lagi? Darimana kita dapatkan itu?" lirihku.
__ADS_1
"Sabar, Dee... Kita pasti akan menemukan jawabanya. Kamu berdo'a saja, sambil memikirkan. Bagaimana mendapatkan keterangan alergi Papa mertuamu itu."
Aku pusing, tubuhku gemetar. "Thom... Aku pulang dulu, kalau ada kabar, besok ku beritahu."
"Dee.... Kamu kenapa?"
"Tak apa... Bekerja lah." ucapku, lalu meninggalkanya.
Aku meminta Mas Bima menyetir, dan membawaku pulang kerumah, untuk beristirahat.
"Assalamualaikum...."
"Wa'alaikum salam... Kak, Kakak kenapa pucat?" tanya Rubby.
"Tak apa, By. Bik inah mana?"
"Didapur, menyiapkan makan malam Ini, By lagi mau bantu."
"Iya... Kakak kekamar dulu. Siapin obat Kakak, setelah makan, Kakak mau langsung minum obat dan tidur."
"Iya... Bentar lagi By buatin. Rebahab aja dulu, nanti By anterin makan siangnya."
Aku hanya mengangguk, dan segera masuk kedalam kamarku.
"Bu.... Andaikan Ibu masih disini. Dee ingin dipeluk," lirihku dalam tangis.
"Ngga... Ngga boleh seperti ini. By begitu peka, By pasti merasakan apa yang terjadi. Aku harus rileks," ucapku lagi.
Aku mengelola nafas, dan mengganti posisiku menjadi setengah duduk. Ku coba mengalihkan perhatian dengan membaca buku, hingga tiba waktunya Rubby memanggilku.
"Kak... By boleh masuk?"
"Masuk By, ngga dikunci." jawabku.
Ia langsung menghampiriku, dan menyuapi makan malamku, berikut dengan obatnya.
"Kakak darimana seharian?"
"Kekantorlah, Kakak kan udah bilang. Ngga percaya?"
"Engga... By ngga percaya. Firasat By mengatakan lain. Kakak tahu ngga? By seharian khawatir. Ditelpon ngga diangkat, di Wa ngga dibales. Kalau By bisa, udah By cari Kakak. Kalau ngga, By pasang GPS dimobil Kakak." ucapnya kesal.
"Kamu lama-lama lancang sama Kakak. Kenapa? Karna Kakak sakit-sakitan? Takut mati dijalan, gitu?"
__ADS_1
"Iya... Kakak ngga tahu betapa khawatirnya By, sampai pusing, sakit kepala kalau By mikir Kakak. Dan Mas edra, bisa-bisanya setenang itu sama Kakak."
"Dia sudah terbiasa dengan Kakak. Dua Belas Tahun kami bersama."
"Au ah... Bingung By dengan kalian. By cuma orang ketiga disini, ngga ada Hak ikut campur masalah itu."
"RUBBY....! Kenapa kamu ini?" bentak ku.
"By cuma sadar diri disini. Sadar dengan posisi By. Bahkan, menasehati Kakak pun, sepertinya begitu sulit mengontrol kegiatan Kaka seperti dulu. By merasa terabaikan."
Aku menghela nafas, dan memijat dahiku. Memikirkan tentangnya, yang memang sedang sensitif dimasa kehamilanya yang semakin besar itu.
Rubby perlahan melangkahkan kakinya keluar, "By... Temani Kakak tidur malam ini." ucapku padanya.
"Hmmmm..." jawab Rubby, seraya meninggalkan ku sendiri, dikamar yang gelap ini.
Jam 22.00 Wib. Rubby menghampiriku dikamar, dan tidur disebelahku. Tanpa menegurku, tanpa banyak bercerita tentang keseharianya. Hanya berbaring, dan memelukku dari belakang.
Aku ikut diam, tak berkata apapun. Hanya perlahan, kurasakan tendangn bayinya mengenaiku. Begitu indah rasanya, hingga membuatku menangis terharu, namun ku tahan.
Pov Author.
Hampir tengah Malam, Edra masih dikantor dengan pekerja'anya yang masih menumpuk. Tiba-tiba, Ia dengar Hp nya berbunyi, dan menatap layarnya, ternyata Nunik memanggil.
"Hallo Nik, kenapa tengah malam nelpon saya?" tanya nya.
"Tuan... Tuan tolong saya. Sepertinya ada maling masuk kerumah, dan ingun mencuri sesuatu. Nyonya histeris," ucapnya dengan nada panik.
"Baiklah, saya kesana. Tenangkan Mama, jangan sampai mengamuk."
Edra segera mempersiapkan diri, dan menyetir secepat mungkin menuju rumah Mama mirna.
"Nik... Mana mama?"
"Dikamar, Tuan." jawabnya.
Edra menghanpirinya perlahan, dan mendekatinya. "Ma... Ada apa?"
"Edra... Sayangnya Mama? Tadi ada pencuri masuk kerumah, mengacak-acak lemari berkas Mama. Mama takut, Dia seperti sudah tahu tentang rumah ini. Dia faham tentang kamar Mama, dia seperti orang yang mau balas dendam sama Mama, dia mau neror Mama Dra...."
"Ma... Tenang, Ma... Edra malam ini nginap disini. Jadi, Mama ngga usah takut lagi." ucapku, menenangkanya.
Edra segera menelpon Diana setelah itu, dan Ia pun begitu terkejut mendengarnya. "Pak hadi? Apakah itu dia? Kenapa harus keluar dan mendatangi rumah itu. Dia memperkeruh keada'an saja," batinya
__ADS_1