MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Anak ke Tiga


__ADS_3

Pov Author.


Kini Maliq sudah berusia Empat Setengah tahun, dan Brama, berusia Dua tahun lebih. Rubby dan Edra, mengajak kedua buah hatinya mengunjungi Makam Diana, untuk memperkenalkan mereka.


Duduk bersimpuh di sebelah makan Diana, dan mengusap batu nisan tersebut bergantian. Brama belum mengerti, dan sibuk bermain sendiri dengan dunianya. Sedang Maliq, tak tahu kenapa, Ia hanya diam lalu menciumi batu nisan tersebut, dan sesekali memeluknya.


"Maliq, kenapa sedih sayang?" tanya Rubby.


Maliq hanya menggeleng, dan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, matanya berkaca-kaca.


"Apa Maliq sudah tahu, kalau ini makam bundanya?" bisik edra.


"Perasa'an anak kecil itu peka, Mas. Dan diusia segitu, kita ngga tahu apa yang Ia lihat dalam imajinasinya." jawab Rubby.


Edra hanya mengangguk, dan terus memperhatikan tingkah Maliq.


"Mas... Pengen nasi padang," ucap Rubby, ketika keluar dari kompleks pemakaman.


"Hah, Tumben?"


"Iya, By... Ngidam lagi," ucapnya dengan senyum semringah.


"Subhanallah, By serius? Kok ngga bilang?"


"By, baru tahu tadi pagi. Karna setelah By fikir-fikir, By telat Tiga minggu."


Edra menatap Rubby, tatapan dengan penuh bahagia terpampang jelas dimatanya.


"Mas... Kok bengong?" tegur Rubby.


"Kita periksa yuk?" ajak edra.


"Iya, nanti sore aja ke prakteknya. Kalau sekarang, By pengen istirahat, terus makan nasi padang pake rendang."


"Yaudah, nanti kalau lihat rumah makan di jalan, kita mampir, ya."


"Iya... Tapi, dibungkus ya... Pengenya, yang udah dicampur-campur gitu, jadi nyampe rumah enak," rengeknya.


"Iya, nanti Mas bei'in. Apa sih, yang engga buat By," ucap edra, dengan mencolek dagu istrinya.


"Bu... Beli mainan," rengek Maliq.


"Mainan Maliq, kan banyak dirumah."


"Pengen beli, yang robot." balas Maliq.


"Ya... Nanti Ayah belikan, buat adek Bram juga, ya?"


"Iya... Adek dibeli'in," jawab Maliq dengan ceria.


"By pengen, yang ini cewek. Kan udah punya cowok Dua."


"Aamiin, sayang. Berdo'a aja, sesuai dengan yang kita harapkan." jawab Edra.


"Mas, itu rumah makan padang." tunjuk Rubby.


Edra meminggirkan mobilnya, "Biar, Mas aja yang turun. By ngga disini aja, nasi rendang 'kan?"


"He' emh," angguk Rubby.

__ADS_1


Hanya Sepuluh menit, Rubby menunggu, dan edra sudah datang membawa pesananya, "


"Kok, cuma satu?"


"By sanggup, makan dua bungkus? Nasi padang itu, sebungkus aja udah kenyang banget loh,"


"Buat Mas,"


"Mas ngga mau, ngga berani makan kebanyakan makan berat. Takut jantungnya ngga sehat, sama ginjal Mas, kena lagi nanti. Ginjal Bapak halim, harus Mas jaga 'kan?"


"Oh, iya, bagus-bagus...." balas Rubby.


Sepanjang jalan, Rubby terus menciumi nasi padangnya itu, terlihat begitu berselera, dan begitu menginginkanya.


"Nanti... Mas jangan minta, ini buat By sendiri." sombongnya.


"Siapa yang mau minta," ledek edra.


Sesampainya dirumah, Rubby dengan semangat langsung masuk, dan membiarkan suaminya dengan kedua anaknya dibelakang.


Ia meraih piring didapur, lalu memakanya dimeja dapur.


"Apa itu, By?" tegur Bik inah.


"Nasi padang, pakai rendang. Bibik mau?"


"Ah... Engga, Bibik kolesterol." jawab Bik inah.


Rubby mulai menikmati makanan nya, namun terhenti ketika mendapatkan sesuatu yang aneh disana.


"Bik.... Sini deh, ini kok, rendangnya Dua?"


Rubby lalu brenjak keluar mencari edra.


"Mas... Mas beli'in rendangnya dobel? Kok rendang By ada dua?"


"Hah... Terus kenapa bingung? Mas beli'in cuma satu tadi. Anggap aja, itu rejeki Baby nya." jawab edra, santai. Dengan bermain bersama kedua jagoanya.


"Iya... Alhamdulillah," jawab Rubby dengan penuh bahagia.


*


*


*


Keesokan harinya, mereka sarapan bersama, dengan Bik inah menyuapi Maliq, dan edra menyuapi Bram. Sedang Rubby, terlihat begitu lemah, dan tak berdaya, duduk tertidur disofa ruang tamu.


"By... Ngga sarapan?" tanya Bik inah.


Rubby hanya menggelengkan kepalanya. Dan kembali lemas.


Pov Rubby.


"Cari Baby siter ya, sayang? By bisa kecape'an kalau begini." buju Mas edra padaku.


"Ini juga, paling sebentar, beberapa bulan aja." jawab ku.


"Iya... Meski sebulan atau dua bulan, kandungan By, harus tetap dijaga. Kasihan Maliq sama Bram kalau By teler."

__ADS_1


"Iya... Mas cari, ya."


"Kok, Mas? Nanti Mas salah cari, ngga cocok sama By,"


"Iya... Nanti, By telpon yayasan, yang dulu ngirim By kesini." jawabnya malas.


Beberapa lama setelah edra berangkat kekantornya. Rubby kembaki mengurus tanaman, dan mengajak Maliq bermain diteras belakang, sementara Bram bersama Bik inah dan Pak hadi, sedang berbelanja bulanan.


Hp ku berbunyi, kulihat Mas edra menelpon ku, lalu ku angkat.


"Hallo, Mas?"


"Hallo, sayang... Mas ketinggalan file dikantor, mau nyuruh Gusti ambil, Dia lagi rapat. By bisa antar?"


"Bisa... Bentar ya, mupung Bram lagi dibawa Bibik, jadi bisa bawa Maliq."


Aku segera bersiap, dan menyetir sendiri, Mas Bima sedang ada urusan dikampungnya.


"Ibu, mau kemana?" tanya Maliq.


"Kekantor Ayah, sebentar."


"Kenapa?"


"Nganter berkas, sayang."


"Berkas itu apa?"


"Beerkas itu lembaran pekerja'an Ayah."


"Ayah kerja apa?"


"Ayah... Jadi Direktur dikantornya. Udah ya, sayang. Ibu lagi nyetir nih, nanti tanya lagi sama Ayah aja."


"Iya, deh...." jawabnya, lalu kembali bermain dikursi belakang.


Tiba dikantor, aku setengah berlari menggandeng Maliq masuk menuju ruangan Mas edra.


"Ibu, kok kesini?" sapa Gusti.


"Iya, Bapak minta antarkan file yang ketinggalan, Gusti katanya rapat?"


"Iya... Baru selesai. Mari, Bu, saya antar, biar Maliq saya yang gandeng. Sepertinya, Ibu kelelahan." tawarnya padaku, dengan menggandeng Maliq, berjalan dibelakang.


Aku memang sedikit lemah dikehamilan ketiga, aku belum tahu masalahnya, karna memang belum kunperiksakan. Nanti, hanya itu jawabku pada Mas edra. Mungkin, aku kelelahan, karna harus menjaga kedua jagoanku yang lain, yang sedang butuh banyak perhatian.


Di tangga, aku begitu lelah, tatapan ku buyar, dan kakiku seolah tak menapak lagi dilantai. Aku roboh, namun Gusti langsung menangkapku.


"Astgahfirullah... Ibu, Ibu ngga papa?"


Aku hanya menggeleng lemah.


"Ma'af, harus saya gendong. Saya bawa keruangan Bapak. Maliq, ikuti Om dibelakang, ya." bujuknya.


Gusti menggendongku, dan membawaku melewati beberapa anak tangga, hingga sampai diruangan Mas edra.


Ceklek... "Pak, ma'af. Ibu pingsan sewaktu menaiki tangga. Sehingga saya harus menggendongnya."


Aku yang lemah, masih sempat menatap wajah Mas edra yang begitu khawatir, menidurkanku disofa, dan meminta Gusti menelpon dokter pribadi kami.

__ADS_1


"Sayang... Kenapa? Kalau ketemu Gusti. Titip aja sama Dia, ngga usah naik." cemasnya.


__ADS_2