
Tiga hari setelah kepergian Diana, semua terasa sunyi. Hanya Maliq yang masih bertahan dengan tangisanya, seolah meramaikan suasana hening dirumah ini.
Mas Edra mulai sibuk dengan pekerja'anya dikantor, dan masih mempertahankan sikap dinginya pada ku. Ibu dan Bapak serta yang lain berpamitan pulang, dan tinggal Aku sendiri bersama Bik inah, Mas bima, dan sesekali Pak hadi datang berkunjung.
"By, Bapak sama Ibu pulang dulu. By hati-hati dirumah, jaga diri, jangan stres."
"Tapi Mas masih diemin By, Bu. By bingung harus apa."
"Bapak udah bicara, dan katanya hanya perlu waktu sebentar. By juga gitu 'kab dulu, waktu ditinggak Bagas. Sampi rela pergi demi cari ketenangan. Kalian belum menikah, sedangkan Edra, sudah bertahun-tahun bersama. Rasa sakitnya mungkin lebih parah dari yang dirasakan By."
"Tapi... By juga sakit, By juga sedih. Kenapa seolah ngga adil sama By. By merasa, setelah Kakak ngga ada, By pun akan dicmpakan sama Mas."
"By... Ngga boleh gitu. Ngga boleh suudzon sama suami By. Ini baru hitungan hari pasca Edra dtinggal Diana. Jahat, kalau By bilang gitu," sahut Bapak.
"Ma'af...." ucapku dengan menunduk kan kepala.
Hari terasa berat bagi ku, tak ada lagi yang membantu ku mengurus Maliq, tak ada lagi yang menyuruhku santai dan me time, sementara Kak Dee tidur memeluknya dikamar.
Aku kelelahan, bukan lelah raga, tapi lelah hati. Maliq tak mau ditidurkan, hanya tidur sebentar, itupun dalam gendongan. Ketika diturunkan, Ia akan menangis dengan kuat. Kadang, akupun ikut menangis dibuatnya.
"By... Itu Maliq haus mungkin," ujar Bik inah.
"Barusan nyusu Bik. Lagian, ini rasanya ASI By kering, kenapa lagi?"
"By stres... Coba lebih santai, jangan seperti ini. Maliq rewel setelah kehilangan Bunda nya. Tahu sendiri, Maliq sama Bundanya bagaimana."
"Iya, By tahu Bik. Bisa buatin susu formula sebentar? Maliq ngga mau sama yang lain,"
Seharian Maliq tak mau diturunkan dari gendonganku, bersama Bik inah pun tak mau. Badanku sakit, pundak ku nyeri rasanya.
"Begini kalau terlalu mengandalkan Kakak. Ketika Kakak pergi, aku kewalahan sendiri." gumamku.
Pov Edra.
__ADS_1
"Bapak kenapa?" tegur Winda sa'at aku melamun.
"Hmmm... Kira-kira, salahkah saya, jika terlalu terbawa suasana duka, dan terkesan mengabaikan Rubby?" tanya ku padanya
"Pak... Kita semua tahu, duka ini begitu pedih buat Bapak. Tapi, coba kita fikir, bahwa Ibu Rubby juga mengalami hal yang sama. Beliau juga sakit dengan keada'an ini. Terlebih lagi, haru menerima kenyata'an, jika Bapak mengacuhkan nya beberapa sa'at. Itu membuat nya semakin bingung. Bagaimana Maliq?"
"Ya... Maliq masih rewel sampai sekarang. Kamu tahu, bagaimana Ia dengan Bundanya 'kan?"
"Ya... Itu juga menjadi salah satu tekanan batin sendiri Buat Ibu. Ibu perlu dukungan lebih sekarang, melebihi Bapak. Dan juga, Bu Diana pasti akan sangat kecewa, jika tahu, Bapak melakukan ini pada Bu Rubby"
Aku menghela nafas panjang, dan usap wajahku dengan kasar, "Ma'af By,"
Setelah mendengarkan perkata'an winda, muncul rasa bersalah yang begitu besar dalam hatiku. Ingin menangis rasanya, namun malu dengan keada'an.
Pov Author.
Edra pulang dimalam hari, dan menatap rumah itu kosong.
"Bik... By mana?" tanya nya pada Bik inah.
"Oh... Iya, terimakasih Bik. Bibik boleh tidur sekarang."
Edra masuk kelamar Diana, mandi dan shalat isya. Ia mengambil dan menatap kembali foto Diana.
"Ma'afin Mas, karna udah ngecewain Dee. Pasti Dee kesel 'kan lihat Mas nyuekin By? Mas pengen, Dee pergi dengan damai. Jangan khawatirkan By mulai sekarang." ujarnya, lalu mengecup foto tersebut.
Pov Rubby.
Oeeeek... Oeeeekkk... Maliq kembaki bangun dan menangis sekuat tenaga.
"Ya Allah, Nak... Tidur baru sebentar udah nangis lagi," ucapku, yang dengan berat kembali bangun, dan membuatkan susu untuk Maliq.
"Maliq bangun lagi By?" tanya Bik inah.
__ADS_1
"Iya Bik, mau By susuin malah ngga keluar Asinya. Jadi buatin formula dulu. Besok mau cari vitamin deh, buat merangsangnya."
"Oh iya... Ma'af, Bibik ngga bisa bantu, tahu sendiri, maliq maunya cuma sama Bundanya aja."
"Iya, Bik... Makasih ya," jawabku lalu kembali kekamar.
Aku melangkah pelan, membuka pintu, dan dikejutkan dengan Mas edra yang sedang menggendong Maliq dipangkuanya.
"Mas..." lirihku.
"Maliq nangis sampai kejer, kenapa ditinggal?"
"Ma'af, Asi nya seret. By kasihan jadi By buatin sufor." jawabku, dengan menggampirinya.
"Sini, susu nya biar Mas yang kasih. By tidur aja dulu sebentar, biar Mas ganti'in ngasuh Maliq."
"Tapi... Mas,"
"By ngge percaya sama Mas?"
"Bukan gitu, tapi... Makasih ya, Mas. Udah mau bantuin By." ucapku padanya.
"Mas yang minta ma'af, Mas terlalu terbawa suasana duka, dan Mas mengabaikan By, yang sebenarnya lebih sakit dari Mas. Mas salah, Mas menyakiti hati By."
"Mas... Memang By sedih sa'at Mas marah sama By, tapi By berusaha mengerti posisi Mas. By juga pernah kehilangan, By faham rasanya."
Mas edra menghela nafas panjang, meletakan Maliq yang mulai terlelap, dan memeluk ku erat.
"By... Kita sama-sama pernah kehilangan orang yang begitu kita sayang. Bahkan, By juga begitu menyayangi Kakak setulus hati By. Maka dari itu, Mas janji akan jaga hubungan kita, agar tak ada lagi rasa kehilangan untuk kesekian kalinya. Meskipun, antara Mas dan By, pasti akan menyusul Diana maupun Bagas nantinya. Terimakasih atas semua pengertian By selama ini, Kakak pasti bangga dengan By. Kita buat Kakak semakin tenang, dengan kerukunan kita ya sayang. Terus seperti ini. Menjadi istri yang mengeri dengan Mas, dan bertahan walau Mas sedikit menyebalkan." ucapnya.
Aku mendongakan kepala kearahnya, dan menatapnya tajam,"Sedikit? Mas terlalu menyebalkan jika lagi cuek sama By. By kayak patung pajangan dirumah ini," omelku.
Mas edra hanya tertawa, dan kembali mendekap tubuhku erat.
__ADS_1
"Tetaplah manis, MADU PILIHAN ISTRIKU. Tetaplah seperti ini, menjadi pemanis hidupku. Tetaplah menjadi cinta untukku. Kamu bukan cinta pengganti, tapi memang cinta yang dipilihkan Diana untuk ku."