
Harap Bijak, ya.
Bacanya jangan sambil ngegas, tapi pelan aja. By cuma ngerengek bawa'an hamil, bukan karna durhaka 🙏🙏 karna itu pengalaman pribadi otor.
"Mas, malam ini tidur sama anak-anak ya?" pintaku padanya.
"Loh... Kenapa? Mas ngga ganggu, Mas tidur disofa aja ngga papa." balasnya, bingung.
"Engga lah, Pokoknya tidur sama anak-anak. Ini selimutnya,"
"By, sayang.... Jangan gitu dong. Ini serasa ngga adil buat Mas."
"Ngga adil juga bagi, By dan Bayi kita, kalau harus tidur sama Mas disini. Rasanya ngga enak, Mas. Please, tolong mengerti." rengekku padanya.
"Oke... Baiklah, Mas akan tidur sama Bram. Karna Maliq, lebih suka sendiri. Kalau ada apa-apa, By telpon saja." jawabnya, dengan berlalu pergi.
"Ma'af, Mas... Tapi perasa'an ini benar-benar tak bisa dihindari, atau bahkan dipaksakan. Semoga saja tak berlangsung lama." gumamku.
Pov Edra.
Malam ini aku terusir lagi. Untuk kemarin, masih bisa ku lawan. Tapi sekarang, biar bagaimanapun aku harus mengalah, daripada Istriku tertekan.
Aku melangkah gontai, menuju kamar Bram, dan ku lihat Ia sedang bermain game.
"Bram... Sini Hpnya," pintaku.
"Kok... Ayah kesini? Mau temenin Bram? Kenapa?"
"Ibu lagi demam, mau istirahat." jawabku, dengan menyimpan Hpnya
"Kalau Ibu demam, Ayah rawat, jangan ditinggal tidur sini. Ibu kalau Ayah demam, dirawat. Pakai Cinta katanya."
"Emang, Bram ngerti arti cinta?"
"Engga... Udah ah, tidur yuk Yah. Tapi, Ayah jangan ngorok. Bram ngga bisa tidur kalau Ayah ngorok. Nanti, Bram pencet hidungnya."
"Ini anak... Ibu nya banget. Udah, katanya mau tidur, berhenti ngomonya." omelku padanya.
"Ayah... Katanya Bram mau punya adek lagi. Cewek, apa cowok?"
"Ayah ngga tahu, Bram."
"Kan... Tahu nya pas besok lahir." balasnya lagi.
"Astagah... Ini anak. Nyesal aku tidur disini. Mending ke Maliq tadi, pendiem, jadi bisa cepet tidur." batinku.
Ku diamkan Ia untuk beberapa sa'at, hingga akhirnya Ia bosan dengan kesendirianya, lalu melelapkan matanya.
"Akhirnya, tidur juga nih anak."
__ADS_1
"Tapi, Bram masih dengar Ayah ngomong." sahutnya.
"Engga... Ayah mau peluk aja." balasku.
Baru meladeni satu anak bicara, aku sudah seperti ini. Bagaimana jika si kembar nanti. Mewarisi sifat siapakah mereka. Karna di usia sekarang, masih belum bisa terbaca.
*
*
*
Empat bulan sudah hidupku terombang ambing dilautan kegalauan. Kenapa Rubby belum sembuh juga dari benci nya padaku. Bahkan, semakin benci sepertinya.
Semalam, aku mengunjungi kamar kembarku. Aku menemani. Mereka tidur, karna Pengasuh mereka sedang Izin Tiga hari. Bisa dibayangkan, bagaimana riwehnya, menghadapi mereka berdua. Yang hampir setiap malam begadang dan tidur nyaris tengah malam. Ya... Itu sifatku.
Kenapa menurun pada mereka berdua sekaligus. Begini kah, rasanya Mama mirna mengurusku sewaktu kecil dulu, meskipun jahat, Mama adalah ibu yang baik bagiku.
Paginya.
"Ayaaaaah... Bangoooon! Muach, Muach.." suara itu begitu menyakiti telingaku
Ku buka mata dalam keada'an emosi. Namun, ketika. Melihat sosok kedua kembarku, aku langsung luluh. Ku peluk tubuhnya, dan ku gelitiki satu persatu.
"Ayah, ayah geli, ampuun...!" teriak mereka bergantian.
Beberapa lama, kami menyudahi semuanya. Ku mandikan mereka bersama'an, dan memakaikan seragam sekolah sesuai harinya.
"Bayu, Adi... Ayo sarapan." panggil Maliq.
"Iya, Mas... Kami datang," jawab mereka kompak
Aku menggiringnya kemeja makan, lalu keatas untuk mandi dan bersiap.
"By..."
"Hmmmm?"
"Masih kesel sama Mas?"
"Entahlah... Makin lama, hawanya makin begini. Kayaknya, semakin By ngelawan kemauan, semakin besar rasa keselnya." ucapnya, dengan nada datar.
"Bu, Ayah...." panggil Maliq yang tiba-tiba masuk kekamar.
"Hey, kenapa sayang?" sapa Rubby, lalu merentangkan tangan untuk memeluknya.
"Bu, Ayah. Kalian lagi ngga ada masalah 'kan? Maliq takut, jika Ibu dan Ayah, pisah tidurnya lama, lalu pisah rumah." ucapnya dengan polos.
"Hey? Maliq kenapa ngomong gitu? Ibu dan Ayah ngga papa."
__ADS_1
"Darimana Maliq dapat pemikiran begitu?" sambung ku.
"Temen Maliq cerita, katanya orang tuanya pisah tidur, lama-lama pisah rumah. Dia bingung sekarang, mau ikut siapa."
Aku dan Rubby saling melempar pandang. Rubby menggenggam tanganya dengan erat, dan aku mengusap kepalanya.
"Maliq, sayang... Ayah sama Ibu ngga papa, ngga lagi ribut. Tapi, Maliq kan tahu sendiri, kalau Ibu lagi ngandung adek Bayi. Jadi, Ibu butuh banyak waktu istirahat."
"Dan Ayah, mewakili Ibu untuk bermain dengan kalian, bergantian menjaga kalian, karna Ibu lagi ngga bisa. Maliq faham?" sambungku.
"Iya.... Faham. Maliq hanya takut, ketika yang Maliq takutkan terjadi, bagaimana nasib adek Maliq yang masih kecil. Sedangkan Maliq, belum bisa merawat mereka sendirian. Meskipun Ayah banyak harta, tapi kami butuh kasih sayang yang banyak sekarang."
Aku tersentuh dengan ucapan sulungku ini, benar-benar Diana ada dalam dirinya sekarang. Istriku pun menangis tersedu-sedu mendengarnya.
"Ada masalah apapun, kami ngga akan pernah meninggalkan kalian. Udah, Maliq jangan mikir macem-mcem, nanti sakit pula." ucap Rubby, dengan memeluknnya erat.
"Mas Maliq.... Lama bener, ayo sarapan. Bram udah laper, kok." omel Bram, yang tiba-tiba masuk kekamar.
"Bram kenapa nungguin? Makan duluan kenapa?"
"Mau makan bareng, kok. Cepet ngapa sih?" omelnya.
"Ayo lah... Ayah juga mau sarapan." ajakku pada mereka.
Ku rangkul pundak Maliq, dan menggiring mereka berdua kembali ke meja makan.
Pov Rubby.
Sampai sepeka itu perasa'anmu Maliq, begitu perhatian dengan Ayah dan Ibu. Tapi, jika Ibu memaksakan hati sekarang, Ibu sakit. Bahkan Ibu rasanya ingin menangis, jika Ayahmu memaksa mendekat. Ibu pun bingung dengan perasa'an ini sebenarnya.
Ku langkahkan kakiku keluar, dan menemani mereka semha sarapan. Lalu, mengantar anak-anakku berangkat kesekolah.
"Mas Maliq, titip adek-adeknya ya. Nanti Ibu jemput." pesanku, ketika sampai disekolah mereka.
"Iya, Bu... Aman," jawabnya dengan girang.
Para punggawaku berjalan bergandengan tangan, dan berpisah menuju kelasnya masing-masing, dan aku kembali berjalan menuju mobilku.
"Bu... Ibu Rubby. Ibu hamil lagi?" tanya seorang wali murid.
"Iya... Alhamdulillah, masih ada rezeki saya," jawabku.
"Ya ampun, Ibu. Anak udah banyak, masih kecil-kecil, kenapa hamil mulu. Ngga kasihan, keteteran ngerawatnya?"
"Engga... Lebih rame lebih asyik bagi saya. Satu anak, satu perawat. Dan Ibu, kalau mau bantu saya ngerawat, hayuk lah, daripada cuma bicara ngga dapet duit. Mending bantu saya, nanti saya gaji." balasku padanya.
Aku berlalu pergi, sambil sesekali memperhatikan Ia menggerutu, entah apa. Karna aku malas meladeninya.
"Mending kekantor, dapet proyek."
__ADS_1