
Pov Diana.
Aku menangkap sesuatu yang aneh pada diri Rubby sekarang. Ada apakah? Seperti sedang menahan sebuah keinginan besar yang begitu tak mampu Ia ungkap kan.
Bukan kah sakit seperti itu, kenapa tak bicara saja.
"Kak... By udah selesai." ucap Nya padaku.
Rubby tetap menyembunyikan perasa'an nya. Meskipun Ia berusaha sekuat tenaga menahan nya.
"Kak...." tegur Rubby, yang lalu membuyarkan lamunan ku.
"Eeeeh... Iya By?"
"Kakak kenapa?" tanya Nya lagi.
"Hah... Ngga papa, cuma bengong aja."
"Ngga ada yabg dirahasia'in lagi kan dari By? Jangan sampe lagi ya, ada rahasia. By ngga mau Kakak koma lagi," ucap Rubby dengan nada kesal.
"Ngga ada 'kok... Kakak juga udah trauma merahasiakan sesuatu dari kamu. Takut kualat," balas Ku. Bukankah, sebenarnya kamu yang sedang merahasiakan sesuatu, By.
"Yaudah... Bagus kalo gitu."
Aku berusaha mengalihkan pembicara' an. Karna jujur, Aku tak bisa pura-pura diam didepan Rubby.
"By... Kapan rencana pernikahan Halim?"
"Minggu depan kata Ibu. Tapi, ngga lama lagi Bapak sama abang mau kemari, ngundang secara langsung."
"Mas aja yang dateng sama By, ngga papa?"
"Ehmm... Sebenernya, Ibu ngomongnya juga gitu. Tapi, Kakak ngga papa ditinggal? By bakalan balik cepet kok,"
"Ngga papa. Nanti Rara suruh kesini aja, lagi."
"He'emh..." jawab Nya dengan menganggukan kepala.
Aku kembali duduk, membaca buku ku. Sedangkan Rubby, meninggalkan ku yang masih dalam keadaan penuh tanya.
Pov Author.
Malam tiba.
Rubby dan Diana melakukan shalat Maghrib bersama, seraya menunggu kepulangan suami mereka.
"Kak... By mau siapin makan malem dulu, ya. Nanti By panggil kalau udah siap," ujar Rubby.
Diana hanya mengangguk, sembari melanjutkan Do'a yang Ia panjatkan setelah shalat.
__ADS_1
Rubby terlihat sibuk untuk beberapa sa'at. Hingga terdengar suara mobil Aledra pulang, dan Ia langsung menyambutnya dengan pelukan hangat.
"Mas....!"
"Iya... Kenapa ini? Kok tumben?" tanya Edra dengan lembut.
"Ngga papa... Kangen aja," ucap Rubby, yang semakin erat memeluk suaminya.
"By... Mas bau, keringetan. Mas mandi dulu ya,"
"Engga... By suka bau keringetnya. Biarin dulu, nanti aja mandinya." rengek Rubby.
"Kok aneh... Kotor lho,"
"Engga boleh pokoknya... Jangan mandi dulu." ucap Rubby lagi.
Edra hanya mendengus pasrah dengan perminta'an Istrinya itu.
"Yaudah... Mas narok tas dulu, By tunggu diruang makan. Sekalian panggil Kakak."
"Tapi janji jangan mandi," rengek nya lagi.
"Janji..." ujar jawab Edra dengan gemas.
Rubby berlari kecil kekamar Diana. Namun, ternyata Diana sudah terlebih dahulu membuka pintu nya.
"By kenapa lari-lari?" omel Diana.
"Mas udah pulang?"
"Udah... Lagi ganti baju dikamar By, soalnya takut ganggu Kakak istirahat tadi,"
"Oke... Hayuk, kita tunggu dimeja makan." ajak Diana, dengan menggandeng tangan Rubby.
Beberapa menit, mereka menunggu. Akhirnya Edra pun datang menghampiri, dan duduk disebelah Diana karna memang seperti itu biasanya.
"Mas... Ngga mandi apa gimana? Kok asyem?" tanya Diana, sambil menciumi tubuh Edra.
"Sama By ngga boleh mandi. Dia suka bau keringetnya," jawab Edra.
Diana menoleh ke Rubby, dan menatapnya tajam. "By, ngga mual?"
"Engga... By suka, makanya By ngga ngebolehin Mas mandi." jawabnya santai.
"Oooh... Yaudah kalo gitu," jawab Diana.
Mereka melanjutkan makan malam dengan nikmat. Hingga tiba saat dimana Rubby terdiam, memandangi Diana dan Edra yang sedang bermesra'an didepan nya. Dan Ia lalu menghentikan santap malam nya.
"By... Kok ngga diabisin makan nya?" tanya Edra.
__ADS_1
"Mendadak kenyang..." jawab Rubby dengan menahan kecemburuan nya.
"By baru makan sedikit banget. Mau Kakak buatin Roti lagi, ya?" sambung Diana.
"Engga, ah... Mau kekamar aja," jawab Rubby, yang berdiri lalu pergi meninggalkan mereka, dan menuju kamar.
"Dee... By kenapa?" tanya Edra.
"Dee kurang tahu. Tapi, kayaknya lagi dalam fase butuh perhatian deh." jawab Dee.
"Maksudnya?"
"Mas... By itu lagi hamil, lagi sensitif dengan semua perubahan yang ada dalam diri nya. Jadi, mas harus lebih sering perhati'in Dia, ajak Dia berdua'an, ngobrol, ajak jalan-jalan."
"Jalan-jalan kan bisa sama Kamu Dee,"
"Mas... Dee serius." tegur Diana.
"Iyaa... Jadi, maunya pada gimana?"
"Jadi... Minggu depan, Kalian pulang ke kampung By berdua, ya. Dee ngga ikut,"
"Ke... Kempung Rubby, ada acara apa?"
"Bang Halim mau nikah, makanya Mas dateng. Besok mungkin Bapak sama Halim nya kesini."
"Oooh... Oke. Tapi, besok Mas banyak kerja'an. Jadi kalau Mas ngga bisa pulang, salamin ke mereka ya."
"Iya... Yaudah, sana. Anterin By makanan, suapin kek, apa kek. Dibujuk lah istrinya."
"Dee... Kamu lama-lama kayak Ibu mertua... Hahahha,"
"Eh... Malah ngeledek. Cepetan, nanti tambah ngambek loh." pinta Diana pada Edra, dan langsung diturutinya tanpa berkata lagi.
Pov Edra.
Rubby sedang dalam masa sensitif yang sedang butuh perhatian ekstra. Sedang Diana. Meskipun terlihat tegar, sebenarnya Ia lah yang butuh perhatian khusus.
Ya... Aku seharusnya bisa jadi lebih peka pada mereka. Harus lebih adil, juga lebih sabar. Ini resiko ku, yang harus dengan siap aku hadapi kapan pun itu.
Tok... Tok... Tok...!
"By... Sedang apa? Boleh Mas masuk?" ucap ku dari balik pintu.
"Hmm... Tak ada jawaban. Masuk ajalah," gumam ku dengan perlahan membuka pintu.
Ternyata By sedang melaksanakan Shalat Isya. Lalu, akhirnya aku menunggu shalatnya selesai dengan duduk dikursi meja riasnya.
Gadis manis dan lugu itu, sekarang sudah benar-benar memasuki sebagian dari hati ku. Tanpa pernah ku sangka, jika akhirnya rasa cinta itu benar-benar tumbuh diantara kami. Mungkin itulah yang disebut Cinta datang Karna terbiasa.
__ADS_1
By pernah mengalami sakitnya gagal, meskipun belum terjadi pernikahan dan itu cukup menyisakan trauma yang mendalam baginya. Kemudian, harus menuruti keinginan Diana yang begitu Ian hormati dan Ia sayangi. Seolah tak pernah ada pilihan lain dalam hidupnya.
"Mas akan membuat semua pilihan yang kamu ambil, adalah sebuah pilihan yang tepat. Yang ngga akan pernah kamu sesali sampai kapan pun By. Kita semua akan bersyukur dengan keputusan yang kita ambil." gumam Ku. Yang masih menatap nya dengan penuh Cinta.