
Pov Rubby.
"Kembalilah..." ucap Kak dee padaku, dengan senyumnya yang begitu kurindukan.
"Sebentar saja, By mohon."
"By mau apa disini?" belum ada tempat buat By disini.
"By hanya ingin bertemu, memeluk Kakak sebentar. Apa tidak boleh?"
"Tidak... Sudah Kakak bilang tidak. Janganan memeluk, menyentuh Kakak pun tak boleh. Kembalilah... kembalilah jaga anak-anak, mereka sudah mencari dan menunggu By dirumah. By ngga mau kan, jika Maliq menangis ketika harus menjaga adiknya?"
"Bagaimana, By pergi? Sedang By, tak tahu ini dimana, dan bagaimana By bisa datang kemari."
"By ingin kembali? Biarkan Kakak pergi, maka By bisa bangun."
"Tapi...." aku ingin menggenggam tanganya, namun selalu Ia tangkis.
Kak dee berlalu pergi dari ku, tanpa menghiraukanku yang sendirian disini. Semakin ku kejar, semakin samar dari tatapanku. Akhirnya aku terdiam, duduk dan memeluk kakiku, menangis, dan tak ada yang bisa menenangkanku. Sendiri, aku benar-benar sendiri sa'at ini.
Aku tak tahu lagi apa yang harus ku lakukan sekarang, hanya menatap dimana Kak dee menghilang. Ku coba menghampiri, namun tertolak. Hingga sebuah bayangan menyilaukan muncul dihadapanku.
"By... Bangun sayang,"
Samar-samar ku dengar suara Ibu memanggilku. Ku buka mataku perlahan, namun masih begitu berat, melihat disekeliling, hanya ada alat yang terasa terpasang ditubuhku, dan para medis yang sedang memeriksa keada'anku.
"Bu...." lirihku, yang masih memakai oksigen.
"Ibu Rubby, sudah sadar?" tanya seorang perawat.
Aku mengangguk, dan memberi kode agar membukakan masker oksigen yang ku pakai. Lalu Ia pun menurutinya.
"Ibu, mana?" bisik ku.
"Oh, sebentar saya panggilkan. Kami akan mengecek, lalu melepas alat-alat ini dulu, ya?"
Aku hanya mengangguk, karna masih berada dialam bawah sadar dari sebagian ingatanku.
Aku diam, hingga mereka selesai dengan semua tindakanya. Lalu, memanggilkan ibu untukku.
"By... Sayang, akhirnya kamu sadar juga. Sudah tiga hari By tidur, dan ngga bangun-bangun."
__ADS_1
"Bayi, By?"
"Bayi By sehat, alhamdulillah, sesuai dengan keinginan By, cewek." jawab Ibu, dengan sebuah kecupan untukku.
Bahagia aku mendengarnya, karna memang itu yang begitu ku nantikan beberapa tahun ini. Sosok yang mungkin bisa menggantikan Kakak dihatiku, yang bisa mengobati kerinduanku padanya.
"Mas... Mana?"
"Tadi kekantor sebentar, karna ada kerja'an. Udah Ibu telpon, kalau By sadar, sebentar lagi datang."
"Permisi, Bu. Kita sudah bisa pindah keruangan biasa, ya. Mari, saya bantu." ucap salah seorang perawat, yang bertugas menjagaku, dan memindahkan ku keruangan rawat biasa.
"Ibu telpon edra dulu, ya sayang,"
"Iya...." jawabku.
Pov Author.
"Walah... Ini edra nya mana? Ditelpon daritadi ngga nyambung-nyambung." gumam Bu lilis, yang sibuk dengan Hpnya.
Sementara Bu lilis sedang mengurus kepindahan ruangan Rubby, bersama Bapak Rubby yang sedang menemaninya diruangan, Edra sedang bergulat dengan waktu, berlari, dan menyetir dengan sekuat tenaga, menyerobot semua yang ada.
"Aish... Kenapa harus macet? Andaikan dari sini ke Rumah Sakit tak terlalu jauh, pasti aku bisa berlari. Ya Allah, By... Tunggu Mas sayang,"
Sampai dirumah sakit, Ia langsung memarkirkan mobilnya diparkiran, dan langsung berlari menuju ruang ICU, tempat Rubby dirawat. Namun, sudah kosong dan tak ada oramg disana.
"Bapak, cari siapa?" tanya seorang perawat.
"Istri saya mana?"
"Oh, ibu Rubby, sudah dipindahkan. Ke ruang yang diujung sana." tunjuknya.
Entah kenapa, fikiran edra negatif ketika mendengar ucapan sang perawat. Hingga Ia berlari tanpa bertanya lagi.
Sepanjang lorong Ia mencari, beberapa pintu ruangan telah Ia buka. Namun, tak kunjung Ia temukan hingga semakin cemas yang dirasa. Hingga diruangan VVIP, ruangan terakhir dilorong itu.
Dengan tubuh gemetar, edra membuka pintunya perlahan, menahan semua rasa yang ada dihatinya.
"Bismillah." ucapnya, lalu mendorong pintu itu terbuka.
Dilihatnya sang Ibu mertua sedang menyuapi Rubby dengan wajah ceria dan penuh senyuman, lalu perlahan masuk kedalam.
__ADS_1
Tap... Tap... Tap... Dan tubuhnya semakin gemetar.
Rubby menatapnya, dan kembali memberikan senyum.
"Mas..." sapanya. Itu suara pertama yang didengar edra, sejak Tiga hari Rubby koma. Edra begitu merindukan suara itu, hingga hatinya begitu berdebar tatkala mendengarnya.
Edra melangkah semakin pelan, menarik mafas sedikit lega lalu memegangi lututnya dan menepuk dadanya. Ia benar-benar menahan tangisnya ketika itu, tapi Rubby mengetahuinya.
Rubby merentangkan tangannya, dan menyambut edra kepelukanya.
"Udah, nangis aja. Ngga papa kok, By tahu, Mas mau nangis kan?" ucap Rubby padanya.
Edra lalu berjalan cepat, menghampiri pelukan Rubby, meletakan kepala Rubby didadanya, mengusapi rambutnya,dan menangis sejadi-jadinya seketika itu juga.
"Ma'af, tadi Mas pergi sebentar karna ada urusan kantor, sehingga tak bisa menemani By ketika pertama kali sadar."
"Padahal, By pengenya Mas yang By lihat pertama kali. Alhamdulillah, By masih bisa bangun, meskipun agak susah. Mas rindu?"
"Rindu sekali, sayang. Ma'af, Mas kira... By sudah bertemu Kakak disana. Mas begitu takut dan cemas, karna By sempat ingin bertemu Kakak. Mas kira, By udah ngga kuat lagi nahan sakit sama lemah. Mas udah berburuk sangka."
"By ngigau ya? Pasti jelek." tawa Rubby, meledek.
"Engga... By ngga jelek, tapi ngeselin. Udah buat Mas panik, bahkan sampai pasrah." omelnya pada Rubby.
Rubby melepaskan pelukanya, lalu mengusap air mata edra yang semakin deras.
"Udah puas belum nangisnya? By kan udah sadar. Jadi udah lega kan? Malu, dilihat Ibu sama Bapak." ledeknya.
Edra lalu menghela nafas panjang, karna benar-benar lega dihatinya, dan mencium kening Rubby, dengan penuh kerinduan.
"By masih sakit?" tanya edra dengan lembut.
"Sedikit, tapi pusing karna kelama'an tidur."
"Udah lihat Bayi kita? Perempuan, cantik, seperti Ibunya."
"Benarkah? By kira seperti kakak."
"Bagaimana bisa seperti Kakak? Kan anak By sama Mas? By fikir ada reinkarnasi?" ledek edra
"Siapa tahu, ada keajaiban, sebagai pengobat rindu kita semua."
__ADS_1
"Bagaimana kalau orang bertanya-tanya, ketika sama sekali tak mirip dengan kita?"
"Tutup telinga saja. Karna kita hanya punya Dua tangan, ya gunakan saja untuk menutup kedua telinga kita." jawab Rubby, yang mulai bisa tertawa.