MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Rubby koma


__ADS_3

Edra diluar menunggu Rubby dengan cemas, melantunkan Do'a dan dzikirnya sepanjang waktu. Tak ada yang bisa Ia lakukan selain itu sekarang.


Tap... Tap... Tap...! Seorang Perawat datang menghampiri.


"Pak..." panggil nya pada edra


"Iya... Bagaimana dengan istri saya?"


"Ma'af... karna benturan yang dialami, mengakibatkan dinding rahimnya robek. Sehingga terjadi pendarahan hebat."


"Bayinya... Bagaimana?"


"Beruntung, Ibu cepat dibawa kemari, jadi Bayinya bisa cepat diambil melaui operasi tadi. Sebentar lagi, akan dibawa ke Incubator. Pesan Dokter, agar Bapak mencari persedia'an darah untuk Ibu, karna stok yang ada di PMI, takut tak cukup."


"Butuh berapa kantong, Sus?"


"Diperkirakan butuh Enam kantong, dan di PMI ada sekitar Dua kantong. Golongan darah Ibu A, jadi tolong disegerakan ya, Pak." pinta perawat itu pada Edra, lalu kembali keruangan Operasi.


Edra menghela nafas panjang, antara bingung, dan panik. Ditelponya satu persatu keluarga dikampung, dan meminta mereka datang. Tak hanya yang dikampung, bahkan semua rekan kerja, karyawan pun dimintai tolong olehnya. Termasuk Anton, orang yang pernah Ia cemburui ketika itu.


"Untung saja, nomor Anton ada di Hp ku, ku ambil ketika aku menelpon nya untuk meminta ma'af atas kelakuan ku tempo hari." gumam edra.


Untung nya, Anton pun bersikap ramah dan tak menyimpan dendam sedikitpun terhadap perlakuan edra tempo hari, dan bersedia menjadi pendonor pertama untuk Rubby.


"Alhamdulillah, dapat satu." ucapnya, dengan bernafas sedikit lega.


"Pak... Ini bayinya, akan kita bawa ke Ruangan Neonatus, ya. Silahkan Bapak ikut saya, lalu mengiqomatkan anak Bapak."


"Anak saya... Perempuan?" tanya edra.


"Iya... Perempuan yang sangat cantik. Mari,"


Edra menahan tangisna, mengikuti sang suster dari belakang.


Tiba diruangan Bayi, edra dipakaikan pakaian hijau, agar bisa ikut masuk kesana, lalu Sang suster membantunya menggendongkan Bayinya.


"Assalamualaikum Cantik. Akhirnya apa yang diinginkan Ibu mu terwujud sekarang. Ibu memilikimu, seorang gadis mungil, yang diharapnya akan menjadi pengganti Bunda mu untuk temanya nanti. Kamu nakal, karna gara-gara kamu, Ibu membenci ayah berbulan-bulan. Tahukah kamu, Ibu tersiksa karna itu? Karna Ibu, bahkan tak pernah terpisah jauh dari Ayah untuk waktu yang lama. Apalagi ketika mengandungmu, yang dekat, namun tak bisa memeluk. Bantu Ayah, ya. Bantu ayah menyadarkan Ibumu nanti. Menangislah yang keras, hingga Ibumu dengar dan merasakan telinganya sakit, lalu bangun dari tidurnya. Karna kata Dokter, Ibumu akan tidur cukup lama nanti."


Edra mencium Bayinya yang belum Ia beri nama itu, lalu memberikanya kembali pada Suster untuk dimasukan kedalam Incubatornya.


Dengan langkah berat, edra meninggalkanya dan kembali menunggu Rubby diluar ruang Operasi.

__ADS_1


"Mas edra..." panggil Anton.


"Ton... Terimakasih, sudah mau kemari, dan membantunya. Ia butuh banyak darah sekarang. Andaikan darah saya cocok, akan saya beri semuanya."


"Sudahlah, Mas. Berdo'a saja yang terbaik untuk kesembuhanya. Saya PMI dulu, ya." pamitnya, dengan menepuk bahu edra.


Edra kembali terdiam, dan duduk dikursi tunggu, hingga Rubby dibawa keluar oleh beberapa perawat yang menanganinya.


"Pak Edra, sudah dapat darahnya?"


"Baru, satu kantong. Yang lain sedang menunggu kemari." jawabnya.


"Baiklah, untuk beberapa sa'at ini, kita berikan yanh dari PMI dulu, yang lain menyusul. Sekarang, kita mau bawa Ibu keruang ICU." ucap Sang perawat


Edra terbelalak mendengarnya, namun tetap mengikuti dari belakang.


Diruang ICU, Rubby dipasangkan selang oksigen, dan bahkan monitoring detak jantung untuknya.


" Astaghfirullah, Sayang." lirih Edra, diluar ruangan yang berbatas kaca.


"Bapak, kalau mau masuk boleh, tapi sebentar saja." perawat mempersilahkan.


"By... Sayang, Sakitkah? Kenapa By seperti ini? Bangunlah, Anak perempuan kita sudah lahir, By begitu menginginkannya bukan? Atau By masih lelah, yasudah, istirahat saja. Tapi, jangan terlalu lama, ya sayang. Kasihan anak-anak dirumah. Pasti udah pada nanyain," ucap edra, yang berusaha membujuk Istrinya bangun.


Hatinya begitu perih, ingin rasanya menangis, tapi tak ingin jika menangis didepan istrinya. Akhirnya Ia keluar, dan menangis sepuasnya disana, sendirian, tanpa siapapun menenangkan dan menemaninya.


Adzan subuh berkumandang, segera Ia bangkit, dan pergi ke mushala di Rumah Sakit itu, dan kembali menangis disana.


"Astaghfirullah, Astaghfirullah haladzim," begitu, diucapkanya berkali kali.


Selesai Shalat subuh, Ia kembali keruangan Rubby, dan menunggunya disana dengan perasa'an cemas, sembari menunggu keluarga dari kampung datang.


Edra tertidur sejenak dikursi tunggu, terlelap tanpa memimpikan apapun, hingga tiba-tiba seseorang membangunkannya.


"Mas, bangun Mas..."


"Hmmm, Halim... Alhamdulillah sudah datang, mana Ibu?"


"Ibu ku hampirkan dirumah tadi, karna terus kepikiran cucunya. Dan lagi, darah Ibu tak cocok dengan Rubby. Bapak yang cocok, hanya saja, Beliau pun darah tinggi. Itu, Bapak sedang didalam menjenguk By." jawab Halim.


"Kamu, sudah memeriksakan diri?"

__ADS_1


"Sudah, diambil darahnya pun sudah. Jadi, tingga berapa kantong lagi?" tanya Halim.


"Sekitar Empat lagi, semoga saja ada keajaiban, bingung saya mau cari kemana." ucap edra, sembari mengusap wajah lelahnya.


Dalam lamunan kebingungan, tiba-tiba ada derap suara kaki yang setengah berlari menghampirinya.


"Pak... Bagaimana Rubby?"


"Ramlan, bagaimana tahu?"


"Iya.... Bang Halim memberi tahu, kebetulan, sedang ada dirumah mertua. Jadi, sekalian kesini." balasnya dengan nafas terengag-engah.


"Ramlan darahnya sama dengan Rubby, jadi bisa mendonorkan darahnya juga." ucap Halim.


Sedikit ada kelega'an dihati edra, karna harapannya semakin besar sekarang.


"Sedikit lagi... Bertahan sayang." lirihnya. Menatap Istrinya yang koma.


Pov Rubby.


*


"Kak, by rindu."


"Iya.... Kakak juga." Balasnya.


Kami sedang bersama ditepian danau dengan posisi beradu punggung, dan tak dapat menatap wajah satu sama lain.


"By ingin bersama kakak, boleh?"


"Ngga boleh, kakak ngga ngebolehin By ikut."


"Tapi by rindu, ingin bersenda gurau lagi bersama kakak."


"Tapi, kakak tak ingin itu."


"Kakak, tak butuh by lagi?"


"Tidak. Kakak tak membutuhkan by lagi. Kakak sehat disini. Tidak sakit, tidak lemah, dan Kakak bahagia. Jadi, jangan ingin ikut, bahkan jangan pernah kemari lagi. By belum boleh kemari, Mas dan anak2 yang butuh by, bukan kakak. Jadi, kembalilah, dan jangan pernah datang lagi... Ini bukan tempat By."


Aku merayunya dengan mata senduku, dimana Ia tak pernah bisa menolakku dengan tatapan itu.

__ADS_1


__ADS_2