
Mas edra mendengus kesal, lalu masuk kekamarku. Aku menyusulnya masuk, dan membiarkan Rubby sendirian dengan kekesalanya.
"Mas.... Capek?"
"Capek sih engga... Hanya kesel. Pikir Mas tadi dirumah disambut kalian dengan senyum manis, malah pada berantem."
"Iya.... Maaf. Mama gimana? Udah dibawa ke Rumah Sakit?"
"Ngga mau... Dia mau berangkat sendiri katanya."
"Udah bisa ku duga..."
"Dee... Kamu masih meragukan ginjal Mama yang ada ditubuhku?"
"Jelas lah... Seorang Lansia dengan satu ginjal tak akan bisa hidup sesempurna itu, Mas."
"Lalu, apa mau mu? Memeriksakan Mama?"
"Kalau bisa.... Tapi sayangnya, kamu pasti tak bisa memaksa Mama melakukanya. Aku tahu kamu,"
Aku merapikan pakaianya, lalu menggandengnya menuju ruang makan untuk makan malam.
"By... Ayo makan malam. Inget, By itu harus makan banyak, minum banyak, vitaminya jangan lupa." ujarku padanya.
"Iya..." Rubby melangkah dengan malas, menghampiriku dan Mas edra.
Suasana menjadi hening, ku lihat Rubby pun hanya diam dan tak berkata apapun. Padahal biasanya, Ia lah yang paling banyak bicara.
"By.... Bagaimana Ibu dikampung?"
"Baik... Kenapa?" jawabnya singkat.
"Boleh kesini besok? Kakak lagi banyak urusan. Nanti Ibu bisa nemenin kamu,"
"Iya... Nanti By telpon. Sekalian Kak fitri katanya pengen main kesini." ucapnya dengan antusias.
Kami menyelesaikan makan malam, duduk sebentar untuk berbincang, hingga sa'atnya untuk tidur. Agar kuat untuk menyambut hari esok.
Pov Rubby.
Pagi ini, aku terbangun dengan begitu ceria. Apalagi, Ibu dan Kak fitri akan berkunjung kemari. Meskipun mereka sampai siang hari, tapi aku rasa tak sabar bertemu dengan mereka secepatnya.
"Pagi Kak... Pagi Mas," sapa ku pada Kak dee dan Mas edra diruang makan.
"By... Tumben, kamu kesiangan?" tanya Kak dee.
"Ngga tahu... Tadi tidurnya nyenyak banget. Tau-tau udah siang, Kakak ngga mau bangunin."
"Iya, Ma'af... Kakak juga hampir kesiangan tadi. Untung masih sempet shalat subuh berjama'ah sama Mas."
__ADS_1
"Kan... Jama'ahan ngga ngajak-ngajak." kesalku, lalu mengambil sarapan dengan begitu banyak.
"By... Nanti muntah sarapan segitu banyak." tegur Mas edra.
"By laper banget... Sampe lemes, sampe mau nangis rasanya karna sangking lapernya,"
"Tapi jangan kemaruk gitu sayang," balasnya lagi.
"By abis segini tuh... Ngga tahu, mungkin karna vitamin dari dokter, makanya nafsu makan By jadi tinggi banget gini. Tapi By ngga kekenyangan,"
"Udah sih Mas... By itu sekarang Dua perut. Semua nutrisi dibagi sama Bayinya. Kalau By sehat, bayinya pasti sehat." sahut Kak dee.
"Yaudah... By, Ibu jadi dateng hari ini?" tanya Mas edra lagi.
"Iya... Nyampe siang nanti, Abang sama Kak fitri juga ikut. Minus Bapak yang lagi sibuk ngurusin kebun. Bentar lagi panrn katanya." jawabku, yang dengan lahap memakan sarapanku.
"Oke... Mas libur hari ini, bisa nyambut Ibu dan Abang. Kita tunggu sama-sama ya,"
"He'emh...."
"Kakak mau masak yang spesial deh buat nyambut tamu spesial kita. Kayaknya, pas nyampe pas jam makan siang 'kan?"
"Iya... Nanti By bantuin," balasku.
Selesai sarapan, kami sibuk dengan tugas masing-masing. Kak dee mulai sibuk berbelanja bersama Bi inah, Mas edra dengan laptopnya, dan aku mewakili Kak dee dengan para bunganya.
"Kakak pulang, By..." panggil Kak dee, dari luar, dengan banyak belanja'an.
"Udah... By ngga boleh bawa berat-berat. Biar Nunik aja, panggilin dia."
Aku menuruti Kak dee, dan berlari kecil memanggil Nunik didapur, agar segera membantu Kak dee dab Bi inah.
"Banyak banget masaknya," ucapku.
"By... Yang dateng banyak, dirumah ini juga banyak orang. Belum lagi, By yang sekarang makanya suka nambah." ledek Kak dee padaku.
"Iya, ya.... By lupa. Mau mulai masak sekarang? Biar By bantuin."
Kami bersama, beramai-ramai berkutat dengan daging dan sayuran didapur. Dimuli dari memasak masakan yang berat seperti semur Daging ayam kesuka'an kami semua. Karna Kak dee tahu, jika aku alergi daging.
"Nyah... Pamit sebentar, mau kekamar mandi." ujar Nunik.
"Iya, Bi... Silahkan." jawab Kak dee.
Pov Author.
Nunik menelpon Mama mirna diam-diam, memberi tahu rencana mereka semua. "Hallo, Nyobes... Hari ini keluarga Rubby dateng dari kampung. Mau main katanya."
"Hari ini? Bagus, biar nanti saya kesana. Saya akan mengakrabkan diri dengan mereka, agar Diana tahu. Bagaimana rasanya diabaikan."
__ADS_1
"Baik Nyobes. Nanti siang mereka datang. Saya permisi, mau masak besar hari ini." Aku harus memberi kejutan pada mereka, dan Diana. Aku akan datang, dan memberi mereka semua muka, agar mereka menyukai ku. Dan bisa dengan mudah menyetir Rubby.
Begitu lah rencana jahat Mama mirna dari kejauhan.
Sementara dirumah Diana, mereka sudah bersiap dengan semua hidangan. Hanya tinggal menunggu kedatangan tamu istimewa mereka datang.
Rubby mulai gelisah, berkali-kali Ia menelpon Ibunya dan Halim namun tak dijawab.
"By... Udah lah, sabar aja. Mereka lagi dijalan, jangan buat konsentrasi Hakim buyar, bisa bahaya loh." tegur Diana.
"Iya... By cuma ngga sabar, kangen Ibu."
"Baru juga semingu ketemu," ledek Diana.
"Assalamualaikum...."
Suara itu membuat Rubby terkejut, raut wajah khawatirnya berubah menjadi ceria. Ia berlari kecil memeluk Sang ibu dengan senyum yang mengembang.
"Ibu... Kangen," ujar Rubby.
Diana menyusul, dan menyalami mereka semua dengan Ramah, dan memanggil edra yang berada diruang kerjanya. "Mas... Ibu dateng nih,"
Edra pun sama antusiasnya dengan yang lain, menyambut mereka dengan senyum merekah.
Karna mereka datang tepat di jam siang, Rubby dan Diana langsung mengajak mereka makan.
Mereka menikmati semua hidangan dengan lahap, dan nikmat lalu melanjutkan perbincangan mereka untuk melepas rindu.
Tap.... Tap... Tap...!
Sebuah langkah anggun memasuki rumah besar itu. Raut wajah Diana langsung berubah kesal. "Siapa yang meminta nya datang? Merusak suasana saja," gumamnya.
"Hallo sayang... Edra, Mama datang..." ujar Mama mirna, dengan nada yang sok ramah.
Rubby terlihat berusaha mencairkan suasana tegang itu, dan menyambut mertuanya datang, untuk memperkenalkan Ibu nya pada Mama mertuanya.
"Bu... Kenalin, ini Mama mirna. Mertua By," ujarnya.
Bu Lilis, Ibu Rubby menengok kearah belakang, dan memperhatikan Mama mirna, dengan sorot mata tajam, berdiri dan menghampirinya.
"Kamu...? Kamu kenapa kamu disini?" tanya Bu lilis.
"Heh... Kamu yang kenapa disini?" jawab Mama mirna, yang wajahnya berubah tegang seperti orang ketakutan.
"Kamu.... Iya... Saya ingat betul sama kamu. Kamu yang_...."
"Engga.... Bukan saya.... Saya tidak melakukan apa-apa." ujar Mama mirna memotong perkata'an Bu lilis.
"Saya yakin itu petbuatan mu.... Katakan sekarang... Kamu bawa kemana Ginjal adik saya? Adik saya kasihan, meninggal dalam keada'an organ tubuh yang ngga lengkap.
__ADS_1
Semua mata terbelalak dengan kata-kata Bu lilis, mereka bertanya-tanya, dan khawatir dengan kondisi Bu lilis, yang sudah pucat, dan terus memegangi bagian dadanya.