MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Mulai perhatian


__ADS_3

pov Aledra.


Rubby, nama yang indah sebenarnya. Orang nya pun manis, tutur bahasanya halus serta orang yang cekatan dan tulus dalam mengurus Diana, istri ku.


Rubby benar-benar terampil dan fokus dalam setiap tindakan nya. Diana pun, begitu menyayangi Rubby hingga menganggap nya seperi Adik kandungnya sendiri. Bahkan, Ia pun rela menikah kan ku dengan gadis manis itu.


Meski pun awalnya aku menolak dengan tegas permintaan nya. Pada akhirnya, Aku luluh terutama saat mendengar vonis dokter yang mengatakan jika kesayangan ku itu tak lagi berumur panjang. Niatku dan Rubby saat itu ialah, membuat hati nya bahagia.


Tapi, siapa sangka jika ternyata, Diana  bukan hanya ingin untuk aku menikahi Rubby, melainkan juga bahwa diana begitu mengingin kan  Ku untuk memiliki seorang anak dari nya. 


Itu sungguh membuat ku dan Rubby sempat bingung, karna hingga beberapa bulan pernikahan kami, Aku bahkan belum pernah menyentuh Rubby sama sekali, karna aku pun tahu jika Rubby, belum benar-benar bisa meluoakan masa lalu nya yang pahit.


"Mas," sapa Diana padaku, yang sedang duduk santai menikmati secangkir kopi buatan nya.


"Iya, Dee?"


"Mas sama Rubby, baik-baik saja kan?"


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Tak ku sangka ternyata sudah dua bulan pernikahan kalian. Tapi, By belum hamil juga." ujar nya yang sontak membuat ku terkejut.


"Baru dua bulan Dee, sabar."


"Aku ... hanya takut jika nanti tak bisa menyaksikan kelahiran anak kalian, Mas."


"Bicara apa kamu, Dee."


"Mas, lihat lah. tubuhku sudah mulai melemah lagi, rambut ku sudah hampir habis hingga aku harus mengikat selendang ini kemana-mana. Bahkan, aku pun sudah malu untuk keluar rumah."


"Dee, masalah anak, usia dan rezeki, itu Allah yang atur. Jika memang belum diberi, ya harus bagaimana?"


"Kita ajak rubby program bayi tabung yuk, Mas."


"Jangan ngaco, Dee. Jangan siksa Rubby dengan semua itu, biarkan saja dulu semua mengalir mengikuti alurnya," ucap Ku, seraya kembali menikmati kopi.


"Baiklah ... Aku kembali istirahat saja," ujar Nya pergi dengan mendenguskan nafas.


"Maaf, Dee. Aku benar-benar belum bisa untuk saat ini. Aku hanya takut, jika Aku melakukan nya, tapi masih dalam bayang-bayang mu. Tunggu saat yang tepat, hingga Aku bisa menuruti semua keinginan mu, Dee."


Pov Rubby.


Aku pergi kedapur unruk mengambil minum karna haus setelah merapikan kamar, dan semua pakaian Mas Edra yang ada dikamar kami. Hingga aku melihat Kak Dee, yang sedang duduk termenung dikamarnya.

__ADS_1


"Kak, kenapa melamun?" tanya Ku, dan menghampiri nya.


"Aaah, engga By. Hanya saja memikirkan rambut Kakak yang semakin rontok. nih udah botak separuh kepala Kakak," ujar Nya tersenyum, sambil menunjuk kepala nya.


"Kesalon lagi yuk, Kak."


"Mau ngapain? ngajak Kakak cerambath? Ngeledek kamu, By."


"Engga, By ngga ngeledek. By mau ajak Kakak beli rambut palsu, sama perawatan, biar Kakak makin fresh."


"Kakak mau perawatan apa, By? Tubuh Kakak ini, udah penuh sama bekas jarum. Kakak malu udah Kamu aja sana. Sekalian, ajak Mas Edra jalan, mupung libur."


"Yaudah, Kakak dirumah aja istirahat," ucap Ku lalu pergi dari kamarnya.


Aku melangkah kan kaki, menyusuri setiap sudut ruangan dirumah besar ini, untuk mencari Mas Edra.


"Mas," panggil Ku.


"Tuan diteras belakang, By." Sahut Bi Inah.


"Oh... Iya, Bik makasih," jawab Ku, lalu berputar arah.


"Mas,"


"Ke salon yuk, kalo engga ke mall gitu,"


"Kenapa? mau shoping?"


"he'eh... Bukan buat By. Tapi, By mau beliin sesuatu buat Kak Dee."


"Apa itu? Diana ngga lagi ulang tahun loh, By."


"Ada deh ... Mau berangkat sendiri, tapi ngga boleh sama Kak Dee."


"Yaudah, Mas siap-siap dulu," ucap Nya dengan berdiri dan melangkah kekamar dan aku mengikuti nya dari belakang.


Setelah lima belas menit. Akhirnya, aku siap untuk berangkat. Aku mengenakan dress abu-abu berlengan panjang dan selutut. Rambut ku, ku biarkan tergerai panjang dengan indah, serta memakai riasan natural. Hasil belajarku dengan Kak Dee, beberapa waktu lalu.


"By ... Masih lama?" panggi Mas Edra padaku.


"Udah, Mas. Yuk berangkat, Kak Dee mana?" 


"Tidur Dia, yaudah berangkat," ajak Mas Edra, dengan menggadeng tangan Ku.

__ADS_1


 "Hanya digandeng seperti ini saja, Aku merasa istimewa, Mas." Batin ku.


Lelaki dewasa yang berusia sepuluh tahun lebih tua dari ku itu pun, menggandeng ku hingga masuk kedalam mobil dan membuka kan pintu nya untuk ku. Bahkan Ia menjadikan tangan nya penahan agar aku tak terantuk pinggiran pintu mobilnya.


Setangah jam perjalanan, kami pun sampai di Mall dan segera turun setlah memarkirkan mobil.


"Mau beli apa, By," tanya Mas Edra, kembali menggandeng tangan ku.


"Mau beli rambut palsu, buat Kak Dee... Boleh?"


"Kenapa ngga ajak Dee langsung aja tadi?"


"Kak Dee nya ngga mau, katanya malu mau keluar." Jelasku.


"Yaudah, dilantai bawah ini ada salon yang jual rambut palsu. Kita kesana aja," ujar Nya, dengan genggaman yang tak pernah lepas dari ku. 


Benar saja, Mas Edra membawa ku ditempat yang tepat. Bebagai model rambut palsu ada disana, dan begitu membuatku senang karna dapat memilih nya.


"Banyak, Mas. Cantik-cantik, Kak Dee pasti suka."


"Yaudah, Kamu pilih aja, aku tunggu disini. Jangan cuma satu tapi, Kita ngga tahu Dee suka yang gimana."


"Mas ... Bantuin," rengek Ku.


"Aku ngga tahu model, lagian apa yang kamu kasih, Diana pasti suka."


Aku menarik nafas pasrah dan mulai memilih beberapa model untuk ku beli.


"Udah, Mas," ujar Ku, dengan menghampiri Mas Edra, yang sedang sibuk memain kan hp nya.


"Yaudah, kemana lagi?"


"Laper," rengek Ku.


"Yaudah. Cari makan, dilantai atas ada restaurant pavorit Diana."


"Oke." Jawab Ku senang.


Kami keluar dari salon, dan segera naik lift menuju lantai atas. Mas Edra, mengambil hand bag yang ku pegang, dan meletak kan nya, tepat dibelakang ku. Aku menatap nya heran.


"Biar bagaimana pun, kamu itu istri ku. Jadi, aku harus melindungi kamu dari pandangan pria lain." bisik Nya.


Aku tersenyum lebar, melihat perlakuan Nya padaku.

__ADS_1


__ADS_2