MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Terkenang


__ADS_3

Edra berlari mengejar Rubby, hingga keruanganya.


"By... Udah, jangan ngajak lari-lari. Mas engap," tegur Edra.


"Ah... Masa? Mas belum tua-tua amat tuh,"


"Iya, tapi tadi Mas abis marahin orang."


"Makanya jangan marah-marah, ntar makin cepet tua," ledeknya.


"Lalu? Kalau bukan Mas, siapa lagi yang akan bela kamu, karna Kakak sudah ngga ada? Cukup dengan penyesalan pada Kakak, jangan terulang lagi."


Edra mendekatkan wajahnya pada Rubby, ingin mengecup bibirnya, namun....


"Bu, Maliq nangis. Oooops, ma'af, ngga tahu." ucap Winda, yang terkejut melihat mereka.


"Ah... Mba Winda, ngga papa. Ngga ganggu, kok, sini Maliqnya biar saya bawa. Sepertinya haus," balas Rubby, dengan meraih Maliq.


Rubby menyusui Maliq sebentar dengan duduk disofa, lalu Winda dan Edra melanjutkan pekerja'an mereka.


"Mas... By pulang dulu, ya? Udah sore ternyata. Maliq juga kayaknya udah bosen disini." pinta Rubby.


"By, ngga nunggu bareng sama Mas aja?"


"Hmmm, Maliq udah gelisah, gimana?"


"Yaudah, hati-hati ya sayang. Titip Maliq ya," ucap edra dengan mengecup kening Rubby.


Pov Rubby.


Aku kembali keluar dari kentor Mas edra. Menaiki mobil bersama Mas Bima, selama perjalanan, Maliq tak tidur malah selalu mengajak bermain dengan cerianya.


Di lampu merah, Mas bima berhenti, banyak pengamen yang datang menghampiri mobil kami, tak terkecuali seorang gadis dengan wajah pucat, dan rambut yang setengah botak.


"Tante, minta sumbanganya boleh? Buat beli obat." pinta nya padaku.


Aku segere keluar, dan kembali menyapanya.


"Adik kenapa? Kok pucet, sakit?"


"Sakit kanker katanya. Tapi ngga tahu, itu penyakit apa. Cuma sakit banget, kalau lagi kehabisan obat."


Aku tersentuh dengan perkata'anya, hingga mengeluarkan air mata ku.


"Adik... Tinggalnya dimana?"


"Di ujunga gang sana." tunjuknya.


Aku meraih tas ku, dan mengambil beberapa lembar uang untuknya.


"Pakai ini sesuai kebutuhan, obat, dan untuk sehari-hari. Bila masa nya kita bertemu lagi, itu akan jadi rezeki kamu berikutnya." ucapku.


Ia mengangguk, dan dengan bahagianya pergi dari hadapan ku.


"Bu.... Ma'af, mobil dibelakang sudah mengantri." tegur Mas Bima padaku.

__ADS_1


"Iya, Mas."


*


*


*


Sesampainya aku dirumah, ku letak kan Maliq ditempat tidur, dan mulai memilih baju Kak Dee untuk ku pakai sendiri.


"By, kenapa milih baju Kakak?" tanya Bik inah.


"Ngga papa, By cuma mau pakai yang pas. Lumayan kalau mau kekantor, ngga papa 'kan?"


"Ngga papa, pilih yang bermanfa'at, yang sesuai sama By,"


"Iya, Bik." jawabku, kemudian Ia meninggalkan ku.


Setelah memilih beberapa, aku membawanya kekamarku, dan manaruhnya dengan rapi dikamar.


"Itu... Baju kesuka'an Kakak, pakai baju itu, pasti Mas suka. Untung bajunya lengan panjang, dan celananya pun tak terlalu ketat, jadi aman buat hijab." gumamku.


Segera ku hampiri Bik inah, dan makan malam bersama, seraya menunggu Mas edra pulang. Ku letakan Maliq diatas stroiler nya, dan mengajaknya bermain sambil makan.


"Assalamualaikum," Mas edra pulang dari kantor.


"Wa'alaikumsalam, Mas. Mandi dulu, ya. Ganti terus makan," ucapku padanya.


Mas edra hanya berdehem, lalu pergi kekamar kami. Dan segera menyusul makan malam setelah nya.


Ku sendok kan nasi ke piringnya, dan beberapa lauk kesuka'anya, namun ketika Ia memulai makan, justru Maliq mengadahkan tangan minta digendong.


"Sini biar Maliq sana Ibu nah, Ayah makan dulu," pintaku.


"Udah, biarin. By makan aja, banyakin makanya, biar Asi nya makin kuat."


"Ngga papa, Mas makan sambil gendong?"


"Iya... Ngga papa," jawabnya, dengan menyuapkan nasi ke mulutnya.


*Di kamar.


"Sayang, besok acara pertemuan pengalihan saham 'kan? Udah siap?"


Tanya Mas edra padaku.


"Siap ngga siap, Mas. By cuma bingung, nanti By ngapain disana. Sumpah, By ngga ngerti apa-apa."


"Kan ada Mas, nanti By ikutin aja acaranya. Palingan, By cuma disuruh tanda tangan, disaksikan semua pemegang saham dan rekan bisnis."


"Banyak?"


"Apanya yang banyak?"


"Orangnya, Mas...."

__ADS_1


"Banyaklah, sebanyak Cintaku padamu. Yang mulai menggunung," godanya.


"Menggunung? Gunung apa? Jangan gunung salju yang mudah longsor ya?"


"Emang By pernah ke gunung salju?"


"Engga, lihat aja di internet." jawabku.


"Kasihan...." peluknya padaku.


Paginya, kami sarapan bersama, bersama jagoan kecil kami, yang begitu tenang dari tadi.


Mas edra menatapku heran, antara terkejut, dan sedih.


"By...."


"Iya, Mas, kenapa?"


"Kenapa pakai baju Kakak?"


"Ngga papa, suka aja. Daripada ngga kepakai 'kan. Muat juga sama By, pakai hijab juga bagus. Mas ngga suka?" tanya ku.


"Hmm.. Suka, By cantik," jawabnya, datar.


Selesai makan, aku menggendong Maliq, dan membawa nya bersama Mas edra, menuju kekantor Kak Dee.


Sepanjang jalan, Ia menggenggam tangan ku erat, menenangkan ku, yang sedang gundah gulana.


"By kenapa? Kok gemeteran? Jangan dibawa gugup sayang," bujuknya.


"Mas, gimana By ngga gugup. By mengemban begitu banyak kepercaya'an dari Kak Dee, terlebih lagi, By sama sekali ngga faham tentang itu. By takut, mengecewakan kalian."


"Mereka semua baik, mereka semua adalah orang kepercaya'an Kakakmu. Sedikitpun, mereka tak pernah mengecewakanya. Jadi, berbaik sangka lah pada diri sendiri, karna By memang dikelilingi orang baik disana."


"Iya, Mas..."


Aku menghela nafas, dengan sesekali merilekskan fikiranku, dan mengalihkan nya pada Maliq.


Pov Author.


Mereka sampai diperusaha'an Diana. Disana sudah ramai dan berjejer rapi mobil-mobil mewah milik colega mereka, yang rata-rata berwarna hitam.


"Mereka adalah suatu perkumpulan, dan kompak dengan mobil hitam mereka. Karna bagi mereka, hitam itu berwibawa." ujar edra pada Rubby.


"Untug saja, aku memang berpakaian hitam,"  batin Rubby.


Rubby dan edra berjalan menuju ruangan, dengan Maliq beralih ketanga Winda yang menyambut mereka didepan. Lalu disambut dengan para karyawan senior disana, yang menganggukan kepalanya dihadapan Rubby.


"Mereka udah pada senior, tapi kok malah nunduk ke, By?"


"Itu tandanya, mereka menghormati Ibu," jawab Winda.


Rubby dengan canggung, membalas mereka dengan menundukan kepala nya, dan berjalan cepat menuju ruang rapat.


Edra membuka pintu, dan membuat Rubby terbelalak, dengan sembutan yang diberikan untuknya.

__ADS_1


"Selamat datang, Nyonya Rubby. Segenap karyawan dan Colega, mengucapkan selamat, atas dihibahkanya perusaha'an ini pada Nyonya. Semoga, perusaha'an ini terus berjalan dengan baik, dan lebih maju nantinya." ujar salah satu perwakilan dari mereka.


Rubby hanya bisa mengangguk canggung, terharu, dan bahagia dengan semuanya. Lalu, Ia duduk dan mengikuti semua agenda yang ada disana..


__ADS_2