MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Mertua yang anggun namun kejam


__ADS_3

Pov Rubby.


Aku, adalah orang yang sering mengalami masalah tidur, terutama saat aku belum beradaptasi dengan tempat baru. Contohnya disini, dirumah Tuan Edra. Aku begitu sulit memejam kan mataku, dan nyaris tak tidur semalaman,hingga membuat mata ku bengkak. 


Hingga adzan subuh berkumandang, aku langsung bangun dari tempat tidur dan mengambil air wudhu untuk menunai kan shalat subuh ku. Setiap lantunan do'a ku panjatkan untuk orang-orang terkasihku, terutama Almarhum Bang Bagas.


Setelah itu, aku bergegas menghampiri Bu Diana untuk mengecek kondisi tanda-tanda vital tubuhnya.


Segera kulangkahkan kaki keluar kamar,untuk menuju ruang pemeriksaan. Dan ternyata, Bu Diana sudah menunggu ku disana.


" Eh, Ibu sudah disini... Maaf saya telat." Ucapku.


 "Ngga papa, saya yang kecepetan. Tadi mampir kekamar kamu, tapi kamu lagi shalat. Rajin ya ternyata." 


"Ah... Biasa Bu, itu kan sudah kewajiban kita sebagai umat muslim. Apalagi, setelah kejadian itu saya semakin ingat akan kematian. Maaf, Ibu saya tensi dulu ya darah nya." Pinta ku pada Bu Diana.


"Iya, silahkan." Ucapnya dengan memberikan lengan nya padaku.


Aku segera menensi darahnya, mengecek suhu tubuhnya, dan detak jantungnya.


"Sudah Bu, semuanya normal, tekanan darah 110/90. Sebentar lagi saya mandikan ya, atau Ibu mau di lap aja badan nya?"


"Ngga usah By, biar saya mandi sendiri. Saya boleh nanya?"


"Iya Bu, ada apa?"


"Kamu masih single, sudah menikah, atau,...?"


"Saya single Bu, sebenarnya sudah mau menikah. Tapi, tepat Tiga hari sebelum akad, Calon suami saya meninggal karna kecelakaan."


"Astaga... Bagaimana bisa By?"


"Saya juga kurang tahu Bu. Saat itu saya sedang dinas juga. Dan bahkan ssaya sendiri yang menjahit luka nya, hingga Dia menghembuskan nafas terakhirna didepan saya."


"By yang sabar ya. Maaf, saya sudah membuat By sedih."


"Ngga papa Bu. Saya udah ngga sedih lagi. Saya sudah ikhlas." Jawabku setenang mungkin.


"Baik lah, saya mau mandi dulu ya. Saya tunggu kamu dimeja makan."

__ADS_1


"Baik Bu...."


Bu Diana lalu pergi ke kamarnya, dan aku pun demikian. Setelah itu, aku menghampirinya yang sudah menunggu diruang makan.


Disana Ibu Diana dan Pak Aledra sudah menunggu ku untuk makan bersama.


"Hay By,,, sini makan bareng kita."Ucap Ibu Diana.


" Ah iya Bu, biar saya makan dibelakang saja dengan yang lain. " Balasku.


" Eh, ngga bisa gitu... Ayo sini makan bareng, kamu itu perawat pribadi istri saya, bukan pembantu. Salah satu tugas kamu, adalah mengecek semua apa yang dimakan istri saya, baik atau tidak untuk kesehatan nya. " Ucap Pak Edra.


Aku langsung menuruti kata-kata Pak Edra, dan duduk disamping istrinya, untuk memeriksa semua yang akan Ia makan.


"Bu... Ibu harus banyak makan sayuran ya, supaya tubuh Ibu lebih fress." Ucapku dengan mengambilkan sayuran ke piringnya.


"Makasih ya, By. " Ucap nya.


Sarapan pagi ini, penuh senda gurau antara kami. Dan aku, aku merasa seperti mempunyai sebuah keluarga baru yanh bisa menerima ku dengan ramah disini.


Beberapa bulan sudah ku lewati, insomnia ku pun sudah sembuah seiring berjalan nya waktu dan tingkat kebetahan ku disini.


Bulan ke Tiga, aku dan Ibu Diana semakin akrab dan sudah seperti adik Kakak. Aku sering diajak tidur bersama nya, baik Dia yang kekamarku, atau pun aku yang tidur dikamarnya dengan sedikit paksaan saat Suami nya sedang dinas diluar kota.


"By, bangun sudah pagi." Ucapnya membangun kan ku.


"Iya Bu, maaf kesiangan. Karna ngga shalat jadinya kebablasan, hehe."


"Iya ngga papa, maklum kok. Saya juga sering gitu."


Bu Diana lalu keluar dari kamarku, dan menunggu ku di meja makan. Setelah mandi, aku menyusul nya dan duduk disampingnya.


Seperti biasa, aku melayani nya untuk  lauk sarapan pagi nya.


Pintu diketuk oleh seseorang, dan Bi Inah membuka kan pintu nya.


"Lama bener... Mana Diana? DIANA... Keluar kamu." Ucap seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibu Mirna, mertua Ibu Diana.


"Iya Ma, Diana diruang makan." Jawab Bu Diana.

__ADS_1


"Kamu itu ngga sopan... Mertua dateng bukan nya disambut, malah diem aja diruang makan. Ngga tahu diri kamu." Ucap Bu mirna. Dengan anggun.


"Ma, maaf Diana masih lemes, ngga bisa berdiri tiba-tiba."


"Heleh alesan kamu. Selalu aja penyakitmu itu yang dijadikan alasan. Kalo sakitmu ngga sembuh-sembuh, gimana mau kasih saya cucu... Inget Diana, Eledra itu satu-satu nya pewaris Pratama grup, Dia harus punya pewaris selanjutnya."


"Ma... Kondisi Diana ini, ngga memungkin kan untuk hamil, bisa-bisa nanti malah Bayi nya yang sakit bahkan meninggal. Diana udah sempet mau adopsi dan ngga boleh kan sama Mama."


"Engga... Jangan kamu ajak Edra adopsi anak, Mama ngga mau. Aledra harus punya anak kandung. Anak adopsi itu ngga jelas asal usulnya. Kalau engga, kamu biarkan saja Eledra menikahi Maya, keponakan saya."


Ucapan Bu Mirna lantas membuat Bu Diana syok dan langsung pucat. Nafasnya terengah-engah dan langsung memegang dada nya.


"Bu, Ibu ngga papa?" Tanya ku.


"Ngga papa By, tolong ambilkan Inhaller saya." Pinta nya.


Segera aku berlari untuk mengambilkan yang Ia minta dan memberikan nya.


"Siapa kamu?" Tanya Bu Mirna.


"Dia, perawat Pribadi ku Ma." Jawab Bu Diana.


"Wah... Hebat sekali kamu, punya perawat pribadi segala, cantik, masih muda. Jangan-jangan nanti malah Dia yang ngerebut Edra dari kamu."


"Astaghfirullah." Ucapku kaget.


"Ma... Jangan asal bicara, lebih baik Mama pergi sekarang." Usir Bu Diana.


"Berani kamu ngusir saya. Cuma gara-gara perawat ini. Hh!"


"Dia orang ku, Mama ngga boleh usik Dia." Balas Bu Diana.


"Baik, saya pergi. Dan kamu... Kamu harus faham posisi kamu sebagai perawat. Jangan pernah goda anak saya, karna anak saya sudah saya jodohkan dengan Maya keponakan saya, yang lebih jelas Bibit, Bebet, Bobotnya dari kamu." tunjuk Bu Mirna, padaku.


Bu Mirna langsung pergi dalam keadaan kesal, dan menutup pintu dengan kencang.


" Ibu ngga papa? "


"Ngga papa By... Maafkan mertua saya ya, dan tolong. Jangan bilang Bapak soal ini. Nanti mereka bertengkar lagi."

__ADS_1


"Baik Bu, sekarang Ibu istirahat ya. Supaya lebih tenang." Ucap ku dengan memapah nya ke kamar.


__ADS_2