MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Bu Lurah, Murka.


__ADS_3

Aku mendengus kesal, dan duduk dipinggiran rumah dan bergumam sendiri. Tanpa kusadari, Ibu mencari-cari ku dengan begitu khawatir.


"By... Ya Allah, Ibu kira By kemana."


"Ibu nyari By? Ma'af."


Ibu lalu menghampiri ku, dan mengusap bahu ku. "By kenapa lagi?"


"Udah hampir Setahun Bu... Kenapa masih saja mereka menganggap By itu buruk dimata mereka. Mereka anggap, By mau menjadi istri kedua, hanya untuk merebut posisi Kak dee saja,"


"Biarkan saja... By masih sakit hati dengan mereka?"


"By berusaha ngga perduli. Tapi nyatanya, saat mendengar itu langsung, masih perih juga rasanya."


"Ibu tahu... Ibu paham. Tapi, kita hanya punya dua tangan. Kita ngga bisa menutup mulut mereka satu persatu. Yang bisa kita lakukan, adalah menggunakan kedua tangan kita, untuk menutup telinga kita sendiri agar tak mendengar mereka."


"Iya Bu... By paham. Rendangnya mana Bu? By laper banget,"


"Ini... Tapi jangan sekaligus makan nya, ini pedes."


"Ngga papa sih, By suka. By makan dulu ya." ujar ku, seraya meninggalkan Ibu.


Aku makan dengan lahapnya rendang ayam buatan Ibu, karna memang aku begitu merindukan nya.


"By makan apa?" tanya Mas edra yang tiba-tiba masuk kekamar.


"Ibu masakin rendang ayam, enak deh. Mas mau?"


"Engga... Mas udah kenyang. Mas pergi dulu ya,"


"Kemana?"


"Itu... Om Dodi ngajak buka bisnis disini. Mau lihat tanah Om bimo juga."


"Mas... Sekali-kali disini, bisnis mulu."


"Ya gimana... Peluang itu harus diambil kan,"


"Iya, iya..." jawab ku datar.

__ADS_1


Ia lalu pergi meninggalkanku, sedang kan aku melanjutkan acara makan ku dengan nikmat.


Pov edra.


Aku tahu, jika Rubby kesal. Tapi, ini semua demi Dia. Aku sengaja ingin membangun sebuah hotel, atau bahkan resort disini untuk investasi atas namanya. Aku tak ingin, jika ada perbandingan antara By dan Dee.


Mereka istriku, masa depan mereka adalah tanggung jawabku sekarang. Meskipun pada kenyata'anya, Diana lebih kaya dari ku. Ya... Semua harta Papa atas namanya sekarang. Itulah yang membuat Mama mirna begitu rengam dengan Diana.


Aku diajak kesebuah danau oleh Om Dodi dan Om Bima. Mereka adik dari Bapak Rubby, yang beruntung mempunyai pendidikan, dan pekerja'an yang lebih mapan dari Bapak.


"Bagaimana Dra, menurutmu. Disini strategis tempatnya, jika musim liburan tiba, maka akan banyak wisatawan kemari. Jika kamu buat resort disini, akan menguntungkan." tawar Om Bimo.


"Bagaimana dengan pembelianya Om?"


"Ini tanah keluarga Dra... Jadi, Om fikir, nanti kamu bangun saja. Om bantu tenaga dan pengelola'an. Om Dodi bantu pengerja'anya. Soal keuntungan, kita sesuaikan saja lah dengan omset."


"Baiklah... Bagaimana pengurusan izin nya?"


"Aman... Biar kami yang bicara sama Pak Lurah. Pasti dia akan senang, dan lagi anaknya si Ramlan pasti akan mendapat pekerja'an nanti lewat proyek ini. Karna dia seorang arsitektur." jawab Om dodi.


"Ramlan... Ehmm, ngomong-ngomong soal Ramlan. Dia sudah kami masukan kepenjara Om, karna sudah melakukan penyerangan pada Diana,"


"Iya... Kasusnya masih diselidiki. Kenapa, Dia menyerang Diana bahkan mengejarnya hingga kekantor saya sa'at itu."


Pov Author.


Edra menjelaskan semua kejadian, pada mereka. Tanpa Ia sadari, jika ada seseorang yang menguping pembicara'an mereka, dan memberitahukan nya pada Bu lurah disana.


Bu lurah langsung geram dan marah mendengar itu semua. Amarah nya benar-benar memuncak sa'at itu, hingga Ia secepat kilat menghampiri Rubby dirumahnya.


"RUBBYYYYY!" teriaknya dari luar keramaian.


"Bu Lurah... Ada apa teriak-teriak?" tanya Bu indah, yang lebih dulu keluar menghampirinya.


"Mana dia? Mana wanita sial itu? Kenapa tak henti nya memberikan kesialan dan mengganggu anak kesayanganku?"


"Apa lagi maksudmu itu Rina?" sahut Bu Lilis yang keluar dari rumah.


"Berani panggil nama saya kamu. Saya ini Ibu lurah disini. Ngga hormat kamu sama saya!"

__ADS_1


"Saya menghormati orang yang saya rasa pantas untuk dihormati." jawab Bu Lilis dengan lantang.


Disela keributan itu, Rubby keluar dari kamarnya dengan masih mengenakan mukenah, karna baru saja selesai menunaikan shalat dhiluhur.


"Ibu lurah kenapa lagi?" ucap Rubby.


"Kamu.... Iya Kamu... Ngga henti-hentinya bawa sial buat Ramlan ku. Kenapa kamu masukin dia kepenjara?" Teriak Bu lurah, dengan nada yang meninggi beberapa oktaf dari suara aslinya.


Rubby menarik nafasnya dalam, dan mulai menjelaskan semua kejadian yang lalu.


" Ibu tahu darimana Bang ramlan dipenjara? "


" Dari mana saja... Saya bisa dapat info dari mana saja. Kamu tahu itu,"


"Bukan tanpa alasan kami memasukan nya ke penjara. Bukan tanpa sebab, Bang Ramlan bisa dihukum untuk kesalahanya. Ibu tahu, Bang ramlan sudah menyerang Kak Diana dikantornya. Memukuli salah seorang manager kami yang berusaha melerai, dan bahkan, tangan suami saya cidera atas itu. "


"Itu semua gara-gara kamu, dari awal semua nya gara-gara kamu. Kamu yang buat dia seperti Ini!" teriaknya lagi, dan semakin histeris.


Rubby dengan tenang, dan kembali kekamar mengambil hp nya. Ia lantas memberikannya pada Bu lurah.


"Ini video kiriman Abang buat Ibu. Tonton sampai abis, Abang sendiri yang minta untuk tetap disana, dan tak mau By bebaskan."


Bu lurah melihat video tersebut, dan mulai mengeluarkan buliran air mata di pipinya.


"Assalamualaikum Bu... Maafin Ramlan udah bohongin Ibu. Ramlan ngga kerja disini. Ramlan udah ngerasa gila karna ngikutin Rubby kemana-mana. Ramlan tahu ibu kecewa, Ramlan tahu Ibu marah. Tapi, itu lah dalam sekali seumur hidup ramlan bisa melakukan apa yang Ramlan inginkan, Ibu tahu itu.


Sekarang... Biarin Ramlan disini dulu, jangan salahin By lagi. Nanti kalau ramlan udah bosen disini, Ramlan bakalan minta By bebasin ramlan, pasti By mau. By kan sayang sama Ramlan. Cuma sayangnya beda Bu, ngga kayak sayangnya ramlan sama By. Sakit memang, tapi nasib ramlan seperti ini. Ibu jaga diri baik-baik, jangan marahin By lagi. Kasihan Dia lagi hamil, assalamualaikum.


"Itu video dari Abang... Ibu lihat sendiri. Dia yang mau seperti ini, bukan By."


"Kamu... Pokoknya kamu!"


Bu Lurah emosi, lalu membanting hp Rubby, dihadapan orang banyak lalu pergi.


"Hp ku... Ya rusak," teriak By, dengan menangisi hp nya. "Ngga bisa telpon Kakak, nanti dimarahin."


"By... Sabar By, nanti beli lagi. Minta sama Mas," bujuk Ibu.


"Bukan masalah uang nya, Bu. Mau minta apa aja sama Mas pasti deibeli'in dalak sekejap. Tapi......."

__ADS_1


Aku tertunduk lemas. Bukan karna harga hp nya, tapi jujur, disana banyak menyimpan kenangan ku dengan Bang bagas. Bahkan, hp itu pun hadiah ulang tahun dari nya untuk ku.


__ADS_2