
"By... Bangun By. Kok ketiduran disini?" ujar Mas edra membangunkan ku.
"Hmmmh... Mas, udah lama pulangnya? Maaf, By capek jadi malah ketiduran. Kakak mana?"
"Kayak biasa nya, kalau abis kemo pasti istirahat sebentar. By Mas tinggal ya, Mas ada urusan dikantor."
"Iya, Mas... Hasil kemo tadi, baik kan?"
"Baik... Respon postif, obat ada dimeja Kakak, tinggal diminum sesuai jadwal."
Aku merapikan jas Mas edra, dan Ia mengecup keningku sebelum berangkat.
Mas... Sebenarnya ingin berlama-lama dengan mu. Tapi, tidak mungkin bisa 'kan? Aku sadar posisi ini, aku tak bisa egois. Kasih sayangmu yang seperti ini saja, sudah bagi ku.
Aku melepasnya pergi, lalu kembali kekamar. Bukan untuk melanjutkan tidurku, tapi untuk menelpon Ibu, karna tiba-tiba aku rindu.
"Hallo... By, kenapa nelpon Ibu 'Nak?"
"Ngga papa Bu... By kangen," jawab ku.
"Hmmm... Ada apa? Coba cerita sama Ibu."
Felling Ibu memang kuat. Selihai apapun kau mencoba berbohong, pasti Ia akan tahu.
"Bu... Bolehkah, By berharap lebih pada Mas edra?" tanya Ku, lirih.
"By kenapa? Kenapa By seperti ini?"
"Bu... By ngga tahu, kenapa akhir-akhir ini(menghela nafas) By begitu ingin bersama Mas edra. Tanpa ada yang lain. Apa By egois?"
"Kenapa berfikiran seperti itu... By, dari awal sekali ini semua sudah kita bicarakan bukan. Tapi, By sendiri yang meyakinkan Ibu dan Bapak dengan keputusan yang By ambil, Nak."
"By faham. Dulu... By tak pernah berfikir sampai seperti ini, Bu. By fikir semua akan berjalan sesuai rencana kami saja. Tapi, ternyata berbeda. Semakin lama, keinginan By untuk memiliki Mas edra seutuhnya makin kuat."
"By... Sadar sayang... Kamu tidak bisa membuat Diana pergi dari edra. Justru sebaliknya,"
"By sangat sadar... By juga begitu menyayangi Kak dee. Seperti Kakak By sendiri. Ibu tahu itu,"
"Nak... Ingat, prinsipmu selama ini. Jika Konsep Sadar Diri itu penting. Ibu tau, dalam posisimu sekarang, By memang butuh perhatian lebih 'kan. Terutama perhatian dari suami By,"
Aku hanya mengangguk diam, dan mengusap air mataku, lalu terus mendengarkan nasehat Ibu.
"By... Sadar diri, jika itu memang resiko mu. Andai Diana sehat, mungkin tak akan seperti ini kejadian nya 'kan? Edra milik kalian berdua. Edra adalah lelaki yang benar-benar adil menurut Ibu. By sehat, By bisa dengan leluasa melalukan apa saja yang by ingin kan. Tapi Kak Dee? Tidak Sayang. By harus tetap meyakinkan pada diri By, jika kalian itu harus tetap saling menjaga. Jangan sampai ada sesuatu yang membuat kalian goyah."
__ADS_1
"Iya... By tahu itu. Kak Dee pun selalu pasang badan untuk By. Begitu juga Mas edra."
"By tahu itu... Anggap saja, ini hanya keinginan Bayi By, yang sedang ingin dekat dengan ayah nya. Tapi, By yang terbawa perasaan."
Aku mengangkat kepala, mengusap air mata ku yang sudah tertumpah ruah. Dan kembali menarik nafas panjang.
"Iya Bu..."
"Yaudah... By sekarang harus lebih tenang, jangan stres. Harus lebih rajin shalatnya ya,"
"Iya... Abang acaranya kapan Bu? Jangan lama-lama. Nanti By ngga bisa dateng. Mereka lebih protektif sama By sekarang."
"Seminggu lagi sayang. Sebenarnya, Bapak sama Abangmu sudah berencana mau kesana, tapi belum ada waktu nya."
"Iya... Nanti By bilang sama Mas, Insya allah kami datang."
"Kamu sama edra saja tak apa. Diana biar ngga usah ikut, ingat kesehatanya."
"Iya... Nanti By coba yakin kan sama Kak dee. Udha dulu ya Bu, By mau mulai ngeracik obat Kakak. Ibu baik-baik disana. Yang sehat," pesan Ku.
"Iya sayang. Inget kata-kata Ibu tadi, ya."
"He'emmh," aku menganggukan kepala, lalu menutup telpon itu.
Sementara dibalik pintu.
"Hallo... Nyobes. Ternyata By sensitif sekarang. Udah kepancing sama omongan saya tadi."
"Oke... Bagus. Tinggal semakin serimg dipengaruhi saja. Saya mau nya, hanya ada Satu ratu yang mendampingi Edra kesayangan ku. Tapi ingat... Tetap awasi calon cucu ku."
"Siap Nyobes..."
*
Aku segera melaksanakan Asharku yang hampir tertinggal karna menelpon tadi. Kulantunkan Do'a terbaik ku untuk kak dee, meskipun aku sendiri tak tahu, bagaimana sebenarnya yang terbaik untuk nya.
Setelahnya, ku hampiri Kak dee dan membangun kan nya dari tidur yang lumayan panjang itu.
"Kak... Bangun Kak... Udah sore," bujuk Ku.
Kak Dee menggeliat, wajahnya kembali terlihat pucat. Mungkin karna lipstik merahnya yang sudah memudar.
"Jam berapa?" tanya Nya.
__ADS_1
"Jam Setengah Lima sore...." jawab Ku.
"By... Shalat Ashar masih sempat?" tanya Nya polos.
"Kakak mau shalat?" tanya Ku, dan hanya dijawab dengan anggukan nya.
"Biar By bantu ya... Mukenahnya ada?"
"Ada... Tapi, udah lama ngga terpakai. Maaf, Kakak lalai."
"Minta maafnya jangan sama By, sama Allah nanti. Kakak berdoa aja setelah shalat, mohon ma'af atas semua kesalahan yang Kakak perbuat,"
"Iya..." jawab Nya perlahan.
Segera ku bimbing Ia untuk berwudhu, dan ku persiapkan semua alatnya. Ku pasangkan mukenahnya dengan rapi.
"Kak... Cantik, terus begini ya. Nanti kita ajak Mas Shalat berjama'ah." bujuk Ku.
"Insya Allah..."
Kak Dee yang masih lemah, dan belum kuat melakukan gerakan shalat sempurna. Ku arahkan untuk melakukan nya dengan duduk diatas kursi nya.
Aku memperhatikan semua gerakan yang Ia lakukan, terlihat fasih dan khusyu dalam setiap gerakan nya.
Tak terasa, bulir air mata ku kembali jatuh membasahi Pipi Ku.
"By... Jangan nagis By. Tadi kamu abis nangis. Nanti matanya bengkak malah runyam urusan," batin Ku
Do'a demi Do'a Ia lantunkan. Meskipun aku tak tahu, apa yang Ia ucapkan dalam hati nya, tapi Aku tahu itu benar-benar tulus.
"Kak... Udah selesai?" tanya Ku, menghampirinya.
"Udah... Makasih ya, udah nemenin." jawab nya, dengan senyum semringah.
"Kakak mau mandi, ngga?"
"Engga... Dingin By, basuh-basuh aja deh. Kulit Kakak belakangan suka perih tanpa sebab. Apa iritasi ya?"
"Nanti By kasih bedak dingin aja. Kakak duduk disini, By racik obat dulu."
Kak Dee lalu duduk dengan membaca sebuah buku, sedang aku mulai berkutat dengan berbagai obat yang harus ku racik.
Sesekali, ku lihat Ia memperhatikan ku. Tak tahu, apa yang Ia fikirkan saat itu.
__ADS_1