
Lima tahun kemudian.
Maliq kini sedang mempersiapkan dirinya untuk ujian SMP, dan akan masuk ke SMA. Maliq belajar dengan sekuat tenaga agar dapat meraih nilai terbaik, dan bisa memnanggakan dirinya sendiri serta ayah dan Ibunya.
"Mas Maliq, lagi apa?" teriak Bram, dengan gaya tengilnya.
"Ngga lihat, Mas lagi belajar?" jawab maliq, dengan wajah seriusnya.
"Mas, main yok." ajak Bram.
"Bram, Mas lagi belajar. Biar Mas lulus, dapet nilai terbaik. Nanti kan Mas bisa milih masuk SMA mana. Itu tantangan Ayah." jawab Maliq.
"Emang, Mas mau kemana? Katanya, mau SMA seatap dengan Bram?"
"Iya sih, tapi Mas maunya masuk dengan beasiswa. Asyik kayaknya." jawab Maliq.
"Apa sih, Mas? Kok ngincer beasiswa?"
"Ngga papalah. Sesekali, Mas puas dengan hasil Mas sendiri. Udah sana, main sama Adi dan Bayu. Sekalian, momong adek Nana. Kan kamu yang paling sayang Nana, bahkan mau nungguin sampai ngompol." ledek Maliq.
"Mas lah, ngga usah dibahas teruslah. Males Bram tuh, kalau inget itu. Namanya juga Bram nurut Ibu, kan Bram anak baik." jawab Bram.
"Iya... Anak baik, baik banget. Mas bangga sama Bram. Udah sana, adek Nana kasihan, main boneka sendiri." usir Maliq pada Bram.
Bram menundukan kepala, lalu pergi keluar dari kamar Maliq. Melangkah malas, menuju kedua adik kembarnya yang sedang bermain.
"Ah, mereka main robot-robotan. Aku tak suka." ucap Bram, lalu beralih menatap Nana yang sedang bermain boneka sendirian.
__ADS_1
"Nana.... Mas boleh ikut main?" tanya Bram dengan lembut.
"Boleh, tapi... Ngga malu main boneka?" tanya Nana.
"Engga... Kan, Mas nemenin Nana main."
"Biasanya, cowok mainya Robot." jawab Nana.
"Kalau semua main robot, Nana main boneka sendirian. Kan, kasihan Nana. Mas ngga malu kok, kalau harus nemenin Nana main." rayu Bram, pada adim bungsunya itu.
Sejak kejadian kaki robot itu, Maliq dan Bram merasa phobia pada robot. Apalagi, pernah suatu sa'at, Nana kaget dengan mainan robot yang hidup dengan sendirinya menari-nari didepan Nana hingga membuatnya Syok, sampai harus dilarikan ke Rumah Sakit. Maliq dan Bram bertekad untuk tak main robot lagi setelah itu.
Bram dan Nana bermain boneka berdua dengan ceria. Meskipun Bram sering dibully oleh temanya, karena suka bermain dengan anak perempuan, tapi Bram tak perduli. Baginya, Ia adalah teman terbaik Nana. Tak apa jika Ia dihina, tapi jangan Nana, dan Bram siap pasang badan ketika Nana menjadi olok-olokan teman-temanya disekolah. Karena, Bram, Maliq dan Nana satu sekolah, disebuah sekolah satu Atap. Sedangkan Bayu dan Adi, sengaja berpisah dari mereka, agar tak selalu berkumpul menjadi satu, dan tahu jika diluar sana dunia pertemanan itu luas.
Kreeekkk! Rubby keluar dari kamarnya, setelah menunaikan shalat Ashar. Ia menatap Bram dengan haru, karena meskipun lelaki, Ia mau dan mampu dengan baik mengasuh Nana yang seorang perempuan diantara yang lainya.
"Bram, ngga main robot?" tanya Rubby.
Rubby mendekati mereka, dan bermain bersama. Sedang seikembar masih asyik bersama Mba ratih.
"Katanya Mas maliq pengen beasiswa. Kenapa?" tanya Bram.
"Ngga papa, emang kenapa? Mas kan anaknya pinter, jadi pengen menonjolkan prestasi aja. Terus, Mas maunya, beasiswa yang disekolah Bram sama Nana. Biar kalian bisa barengan. Mas maliq kan, ngga mau jauh dari Nana." ujar Rubby.
"Oke, baiklah. Besok kalau mau masuk SMA, Bram juga mau beasiswa." jawab Bram.
"Aamiin... Makanya, belajar yang baik, ya? Ibu do'akan yang terbaik buat kalian." jawab Rubby, dengan mengusap kepala Bram.
__ADS_1
Hari sudah sore, Maliq keluar dari kamarnya. Ia terbiasa membantu Ibunya memandikan si kembar, dan membujuk Bram untuk mandi, sedangkan Mba ratih, pulang kerumahnya. Karena anak sudah besar, Ia meminta izin agar tak menginap agar bisa mengurus anak dan suaminya dirumah.
Nb: mba ratih menikah lagi dengan Pak bima, dan sudah memiliki Satu orang anak dari pernikahan mereka, dan Satu orang anak dari pernikahan mba ratih terdahulu.
"Bayu, mandi dulu udah sore." ajak Maliq.
"Males, dingin." balas Bayu, sedangkan Adi sedang membuka pakaianya dikamar.
"Ayolah, nanti kita jalan-jalan sore, sambil lomba tamiya." bujuk Maliq.
"Beneran? Ngga bohong?" tanya Bayu.
"Iya, ngga bohong. Ayok lah, Adi sudah siap, Bram juga lagi mandi sama Ibu."
"Oke, Bayu mandi...." ucapnya dengan penuh semangat.
Maliq dengan telaten, memandikan mereka satu persatu, menyabuni dan mengeramasi mereka. Si kembar meskipun sudah berusia Sepuluh tahun, mereka terbiasa dilayani dan sedikit manja, beda dengan Maliq dan Bram, yang memang tak mau diasuh orang lain, kecuali Ibu mereka sendiri.
Setelah memandikan si kembar, Maliq berlari kekamarnya dan mandi, karena sudah terlnmanjur janji pada mereka jika akan berlomba tamiya. Namun, ketika Maliq selesai dan mempersiapkan alat lomba mereka, hujan turun begitu derasnya, hingga memnuat Si kembar menangis sesegukan.
"Mas maliq mandinya kelama'an. Kan, jadi hujan." ucap Bayu.
"Ya ma'af, dek. Mas udah cepet-cepet kok, tapi hujanya kecepetan datang." jawab Maliq.
"Ini gimana lombanya?" tanya Adi, yang juga menangis kencang.
"Ya.... Ngga tahu, Mas juga. Gimana?" ujar Maliq bingung.
__ADS_1
"Mas... Pakai lintasan kereta api Bram aja. Kan gede, muat kok. Kalian lomba, Bram sama Nana nonton." sahut Bram, dengan mengeluarkan mainanya.
Mereka setuju, lalu menyusun lintasan kereta api bersama-sama. Bram dan Nana menjadi penonton setia, sementara Sang ibu dan Nenek inah menyiapkan makan malam. Sangking asyiknya menonton higga tak ingat waktu, Nana sampai tertidur dipangkuan Bram. Lalu Maliq sejenak berhenti dari permainanya, dan menggendong Nana kekamarnya.