
Pov Author
Sementara Diana dan Rubby yang sedang menikmati hari nya dikampung. Aledra pun sedang sibuk dengan segudang pekerjaan nya dikantor. Berkutat dengan berbagai file, dan dokumen lain nya.
Tap... Tap... Tap.
Suara derap langkah mendatangi ruangan nya,,
KREEK!
"Hey sayang, bagaimana kabar kamu hari ini?" tanya Mama Mirna, dengan anggun.
"Baik, Ma. Kenapa?" jawab Aledra.
"Para istrimu pergi kemana? Kok Mama kerumah sepi?"
"Mereka kekampung Rubby, main." jawab Edra, dengan masih memperhatikan dokumen nya.
"Si Rubby, bagaimana?"
"Bagaimana ... Apanya?"
"Apakah .... Sudah menunjuk kan tanda kehamilan?"
"Belum,"
"Coba saja kamu periksa deh, masa udah Lima bulan menikah, ngga ada perkembangan,"
"Ma... Hamil, tidaknya itu, Allah yang mengatur. Biarkan berjalan sesuai takdir lah,"
"Dra... Mama memikirkan keluarga kita,"
"Ma... Edra pun begitu. Tapi menikah itu, bukan melulu tentang keturunan."
"Jawaban Mu, dengan istri mu itu sama saja."
"Lalu?" tanya Edra lagi.
"Berikan jawaban yang memuaskan dong,"
"Katakan, apa mau Mama datang kekantor?"
"Sayang ... Mama cuma rindu,"
"Bukan ingin menanyakan sesuatu yang lain?" Aledra menarik nafas, dan menatap Mama nya tajam.
"Dra... Kenapa seperti itu dengan Mama?"
"Tidak... Hanya mempertegas pembicaraan. Edra sedang tidak ingin membahas sesuatu yang bertele-tele dan monoton."
"Mama kecewa sama Diana. Dia mencabut semua fasilitas yang Ia berikan pada Mama,"
"Itu resiko Mama 'kan,".
__ADS_1
"Loh... Kenapa, Mama?"
"Bukan kah, Dee sudah memperingatkan Mama dari jauh-jauh hari, agar tidak menyetuh Rubby?"
"Aaargh... Rubby lagi, kenapa kalian selalu memasang badan untuk pelakor itu?"
"Ma... Rubby bukan pelakor!"
"Hhh... Lihat' kan, jika mendengar nama itu, Kamu bahkan berani membentak Mama mu,"
"Ma... Tolong, kita tahu bagaimana Edra menikahi Rubby. Kami menikah karna Diana yang minta, bukan karna Rubby menggoda Edra, atau yang lain,"
"Tapi wanita itu, menggagalkan semua rencana Mama, Dra."
"Rencana menikahi Maya?"
"Iya, Mama benci itu." ucap Mama Mirna, dengan melipat tangan nya.
"Ma ... Kita ngga usah membahas masalah yang sudah berlalu. Edrandan Rubby sudah hampir Lima bulan menikah. Jadi, jangan sangkut pautkan lagi dengan Maya,"
"Tapi mana hasilnya? Rubby belum juga hamil, Mama takut jika Ia seperti Diana,"
"Ma ... Tolong, Edra lelah," ucap Aledra, memijati keningnya.
"Kamu ngusir Mama?"
"Engga Ma... Tapi,"
"Udah lah... Mama pergi dulu, kamu istirahat aja."
"Ya Allah... Mama kenapa jadi begini? Jadi pengen ikut liburan sama Diana dan Rubby, " gumam Edra.
"Selamat siang, Pak. Saya ini saya bawain beberapa berkas lagi, untuk dicek dan ditandatangani," ucap Winda.
" Iya... Win, terimakasih."
"Nyonya besar, kenapa ngomel-ngomel?"
"Biasa, masalah dengan para menantu nya. Saya juga bingung,"
"Maaf, Pak. Tadi sempat dengar, jika Nyonya mau kerumah Bapak."
"Ngapain?"
"Ngga tahu... Takutnya, mau ambil berkas penting,"
"Oh... Berkas saya tidak ada yang disimpan dirumah. Semuanya tersimpan rapi dikantor Diana,"
"Iya, Pak... Syukurlah. Saya ngga menyangka, jika Nyonya yang begitu anggun, berkelas dan nampak tenang, ternyata menyimpan banyak kejutan,"
"Begitu lah manusia, Win. Kita tidak pernah tahu, apa yang ada dalam isi hatinya."
"Aku pun tak menyangka, jika Mama Mirna bisa seperti ini. Bagi ku, Mama Mirna adalah sosok Mama yang begitu menyayangiku, mengayomi ku dan begitu sabar dalam mengurusku.
__ADS_1
Mama Mirna adalah wanita yang anggun, namun tegas. Tak suka. Bertele-tele dalam mengambil setiap keputusan nya. Tapi, kenapa sekarang begitu berbeda. Tak seperti yang dulu."
Edra berusaha kembali fokus pada pekerjaan nya, dan kembali berkutat pada Dokumen-dokumen nya.
Pov Mama Mirna.
Rancana ku kesekian kali nya gagal. Menjebak Edra agar bersama Maya, membully Rubby agar mundur dari pernikahan nya. Semua percuma, justru itu akan semakin mempererat hubungan mereka.
"Kenapa mereka bisa seperti itu. Ngga ada ceritanya poligami yang aman dan akur, tidak bisa seperti ini. Tapi, Aku juga tak bisa memperlihat kan kebencian Ku pada Wanita itu. Ya... Aku harus merubah sikapku padanya, agar Ia luluh. Dan setelah itu, ku buat Rubby dengan keikhlasan diri nya sendiri untuk mundur. Sekali lagi, sekali lagi saja aku harus mengalah, agar bisa mencari celah untuk membuat Rubby pergi. "
Mama Mirna terus bergumam, selama perjalanan. Dia meminta sang supir untuk membawa nya kerumah Aledra dan Diana, karna ada sesuatu yang Ia rencana kan.
Cekrek.... Mama Mirna membuka pintu rumah itu, dengan perlahan.
" Nunik... Nunik, dimana kamu? "
Panggil nya.
"Disini, Nyonya. Ada apa?"
"Kamu bersama siapa, dirumah ini?"
"Sendirian, Nyonya. Bik Inah sedang pergi."
"Baik lah... Saya akan membicarakan rencana selanjutnya,"
"Baik, Nyonya." ujar Bi Nunik, mengangguk kan kepalanya.
"Mulai sekarang, ubah sikap mu pada Rubby. Perhalus, dan maniskan senyuman mu. Buat Ia merasa senyaman mungkin, namun korek semua info tentang Dia. Karna, seseorang tak akan pernah damai tanpa musuh dibelakangnya,"
"Baik, Nyonya. Akan saya laksana kan,"
Mama Mirna berlalu pergi setelah itu, tanpa bicara apapun lagi.
Pov Rubby.
Sore ini, kejutan benar-benar datang ke keluarga ku dikampung. Kak Dee benar-benar membutikan kata-katanya. Sebuah mobil Kijang Inova berwarna datang tepat kerumah Bapak.
" By... Mobil mu datang," ucap Kak Dee padaku.
"Hah... Seriusan Kak? Cepat sekali?"
"Kakak pesan kamarin, saat Kakak izin keluar jadi hari ini sampai. Untung saja, pengurusan semua surat cepat selesai." balas Kak Dee.
Semua warga berdatangan ingin melihat mobil itu. Dan beritanya sudah sampai ke telinga Bu lurah yang juga hadir disana.
"Waaah... Hebat Rubby. Sepertinya dapat suami orang kaya. Kemarin, si Halim dikasi mobil dan sekarang udah beli lagi." ucap salah seorang warga.
"Hebat gimana? Dia harus mau jadi istri kedua supaya bisa seperti itu. Dasar penjual kehormatan," sahut Bu lurah.
"Kak... Tapi By buat apa mobil? Toh, By juga akan tinggal bersama Kakak di kota. Mubazir, Kak."
"Untuk bapak, Kan bisa. Ngga ada yang mubazir. Atau, nanti bisa dijual untuk renovasi rumah Ibu,"
__ADS_1
"Kak... Terimakasih begitu menyayangi keluarga By. By janji, akan merawat Kakak dengan lebih baik lagi. Sampai Kakak sembuh,"
"Kakak, sudah tidak mungkin sembuh By. Kesembuhan Kakak adalah, saat Kakak kembali ke sang pencipta,"