
"Cieeee... Asyik nya yang daritadi tanam-menanam, sampe ngga inget waktu," tegur Rubby pada Ku.
"Hah... Emang udah jam berapa, By?"
Tanya Ku pada Nya yang sedang duduk santai menikmati secangkir susu.
"Udah mau malem Mas, maghrib tuh. Udah dulu lah, mandi, bentar lagi makan malem. Bapak juga tuh, kebiasaan lama sampe sekarang, kalo udah megan tanah ngga inget waktu," omel Rubby.
"Iya... Tanggung ini, bentar lagi selesai. Lagian nanti kalau ngga diselesaikan, siapa mau nerusin? Suami mu ngga akan sempet, By," ledek Bapak pada Ku.
"Hehe... Iya Pak, Bapak memang pengertian. Sebentar lagi ya sayang, sedikit lagi selesai. Nanti kalau mangkrak malah berantakan loh," imbuh Ku.
"Aish... Mertua sama mantu, sama aja. Yaudah, By mau kasih obat Kak Dee dulu, bentar lagi makan malem lho ya." ucap Rubby lagi dengan meninggalkan kami.
Tetinggal sedikit lagi, dan kami akan menyelesaikan nya. Hanya tinggal menata semua tanaman agar rapi, dan memesan beberapa kursi santai untuk Dee duduk dibawah pepohonan nanti.
Pov Rubby.
"Kak... Mau mandi dulu ngga?" tanya Ku pada Kak Dee.
"Ngga berani mandi, di lap aja ya By," pinta Nya pada Ku.
"Iya... By suntikin obatnya dulu, ya. Nanti, Bik Nunik anter air hangat nya kesini,"
Aku segera mempersiapkan beberapa injeksi, dan obat oral sesuai resep yang diberikan Dokter.
Satu persatu ku suntikan lewat selang infusnya. Ada yang tanpa respon, dan ada juga yang membuat Kak Dee merepon dengan menggigit bibirnya.
"Perih ya, Kak?" tanya Ku.
"Iya dikit, terasa saat masuk ke pembuluh darah," jawab Nya, dengan sesekali menarik nafas panjang.
"Non... Ini air hangat nya," ucap Bi Nunik, memasuki kamar.
"Iya Bik, tolong siapin airnya sekalian ya, anget-anget kuku aja buat ngelap badan Kak Dee." jawab Ku.
Bi Nunik menurutinya, dan melangkahkan kaki nya membantuku mempersiapkan semua keperluan.
"Ada lagi, Non?"
"Udah Bik... Makasih ya," jawab Ku. Dan Ia berlalu pergi meninggalkaj kami.
Ku buka pakaian Kak Dee secara perlahan karna masih terpasang selang infus ditangan nya. Terlihat beberapa memar ditubuhnya, pertanda pembekuan darah dimana-mana. Ku usap dengan perlahan tubuh nya yang semakin ringkih itu.
"By... Ngga usah nangis," tegur Nya.
"By ngga nangis kok," jawab Ku berusaha tegar.
"Serius? Itu suaranya serak,"
"By tadi minum air es... Tengorokan nya sakit." jawab Ku.
__ADS_1
"Hmm... Katanya, kalau lagi hamil muda ngga boleh kebanyakan minum es loh By,"
"Iya... Tadi cuma kepengen dikit."
Selesai kegiatan mengelap tubunya, ku ganti pakaian nya, dan mendandani nya sedikit.
"Udah ngga bisa sisir rambut Kakak Ya, by. Kakak udah botak," ucap Nya pada Ku, dengan senyum geli.
Kua ambil selembar jilbab segitiga, dan ku balutkan seperti songkok ke kepalanya.
"Nah... Cantik lah, kayak Ibuk. Hehe," ledek Ku balik.
"Emang... Kakak setua itu?" kesalnya dengan bibir dimonyongkan.
"Engga... Kakak cantik. Yuk turun, kita makan malem dulu. Ibuk, Bapak, sama Mas udah nungguin," ajak Ku dengan menggandeng tanganya, dan membawa botol infusnya ditangan ku.
.
.
.
"Dee... Kok turun? Biar nanti Ibu bawain makanan nya ke kamar aja," ujat Ibu.
"Ngga papa, Bu. Pengen keluar kamar aja Bu, bosen." jawab Kak Dee, pelan.
Malan malam berjalan tenang, aku melayani mereka semua dengan baik, terutama Kak Dee, yang memang butuh ku suapi. Dan ternyata, Mas Edra pun dengan penuh pengertian, sesekali menyuapi Ku juga agar tak telat makan.
"Oh... Okelah, Mas makan dulu. Nanti kalau sudah selesai, cepet nyusul dan biar Mas yang anter Kak Dee kekamar." balas Nya. Dan ku jawab dengan anggukan Ku.
.
.
.
"Udah By... Kenyang," ujar Kak Dee.
"Beneran? Ini dikit lagi loh,"
"Udah... Nanti muntah," balas Nya lagi.
"Yaudah... Gantian By makan, nanti kalau mau keatas biar Mas yang anter, ya." ucap Ku.
Bukan menuju kamar, Kak Dee justru meminta Mas Edra membawa nya keruang tv. Dan menonton bersama Ibu dan Bapak. Aku hanya memandang mereka yang asyik bersenda gurau, dan melanjutkan makan malam ku.
"Biiik... By udah makan nya," panggil Ku pada Bik Inah.
"Iya non... Biar Bibik beresin," sahut Bik Inah yang langsung menghampiri Ku. Aku berniat membantunya, namun dilarang.
"Udah... Non gabung nonton aja sana, biar Bibik aja ngurus ini," ucap Nya.
__ADS_1
"Hmm, yaudah deh. By gabung nonton aja, makasih ya." balas Ku, lalu menyusul duduk disofa.
"By..." ibu Menegurku.
"Iya Bu, kenapa?"
"Besok... Ibu pulang, ya,"
"Kok cepet? Baru beberapa hari?"
"Ehmmm... Ibu itu banyak kerjaan dikampung, terus Bang Halim mau lamaran. Jadi, Ibu yang harus mengurus bersama Bapak,"
"Hah.... Lamaran, sama yang kemarin difoto?" tanya Ku.
"Iya... Tapi, berhubung baru lamaran. Kamu ngga usah ikut dulu, inget kandungan mu masih rapuh. Ibu aja kaget, kalau kemarin aman-aman aja," bujuk Ibu pada Ku.
"Iya, By. Kamu disini aja. Nanti kalau pesta, kita berangkat sama-sama." sahut Kak Dee.
"Iya... Tapi, nanti kalau udah santai kesini lagi ya, Bu?" rengek Ku manja.
"Iya... Yang penting urusan selesai dulu. Kan bisa nebeng Bang Halim kalau lagi narik. Kamu disini yang baik, jaga diri sendiri dan kandungan Mu. Nurut kata Diana sama suami Mu, shalatnya jangan ditinggal. Oke...."
"Iya Bu... By inget kok. Tapi, malam ini tidur sama By 'ya," ucap Ku lagi, dengan menyandarkan kepalaku dibahu nya. Dan Ibu, hanya mengangguk kan kepala nya pada Ku.
Kak Dee hanya tersenyum gemas melihat tingkah Ku. Entah karna kasihan, atau memang Ia sebenarnya ingin bermanja juga. Yang jelas, mata nya terlihat berkaca-kaca saat itu seperti sedang menahan sesuatu.
"Kakak kenapa?" tanya Ku.
"Ngga papa, By. Bisa antar ke kamar? Kakak ngantuk abis makan,"
"Owh... Oke, yuk By gandeng," ajak Ku padanya. Sedang Mas Edra dan Bapak kembali asyik mengurus kebun kecil. Buatan mereka dibelakang, yang rencananya, besok akan kami berikan pada Kak Dee.
Aku membaringkan tubuh nya diranjang, dan Ia menggenggam lengan Ku.
"By...."
"Iya, Kak?"
"Boleh.... Ibu tidur dengan Kakak malam ini?" pertanyaan nya sungguh membuatku terbelalak.
"Kenapa Kak? Kakak takut sendiri? Biar By temankan." jawab Ku.
Kak Dee menggeleng, dan kembali menggenggam tangan Ku erat.
"Cuma pengen tidur sama Ibu. Sekali saja," pinta Nya.
"Iya... Nanti By bilang Ibu, ya Kak. Kakak tunggu saja," jawab Ku, dengan meninggalkan nya.
Aku segera kebawah, dan menemui Ibu. Ku utarakan keinginan Kak Dee, dan Ibu menyanggupi nya.
"Nanti... Kalau ada apa-apa sama Kak Dee, Ibu bilang sama By. Ya Bu" pesan Ku pada Nya.
__ADS_1
"Iya... Ibu tidur dulu," jawab Ibu, menuju kamar Kak Dee.