
Kini ku rasakan hati ku seperti gelas kosong. Dimana aku harus membahagiakan orang lain, tanpa aku perduli dengan kebahagiaan ku sendiri. Semoga saja, disuatu hari nanti, gelas kosong itu akan terisi dnegan air segar yang manis. "Rubby".
Aku keluar dari kamar Kak Dee, menuju kamar bekas Ibu, untuk membereskan nya. Namun, sudah ada Bi Nunik disana.
"By, biar saya bantu," tawar Ku padanya.
"Udah By, ngga usah. Sekarang kamu itu Nyonya dirumah ini, jadi kamu tinggal duduk dan diam saja, terima beres." Ujarnya.
"Tapi, By ngga ingin seperti itu Bik. By ingin kita biasa saja seperti biasanya. Lagian pernikahan ini hanya untuk membuat Kak Dee bahagia, di sisa usianya," jawab ku terbata.
"Maksudnya By? Kamu nyumpahin Nyonya cepet meninggal?"
"Bu... Bukan begitu Bik, jadi ternyata Kanker Kak dee itu sudah memasuki stadium tiga dan bisa dengan cepat beralih ke staidum empat, atau bahkan ngga akan pernah melewati itu."
"Lalu, kamu berharap menikahi Tuan dan menjadi pengganti Nyonya? Tidak semudah itu By," ujar Nya, dengan mengacak kan pinggang didepan ku.
"Tidak sama sekali... Bahkan mungkin, jika Kakak meninggal, kami pun akan berpisah," balas Ku, dengan memainkan kuku tangan.
"Apa manfaat nya buat kamu? Kamu dapat uang?"
"Tidak, By hanya ingin membahagiakan Kak Dee, dihari-hari terakhirnya. Setidaknya, keinginan nya untuk membuat Mas edra bahagia sudah terpenuhi, meskipun itu bohong." Jawabku.
"Baik lah... Saya hanya bisa menyaksikan sebatas mana kamu bisa bertahan. Ingat, Nyonya mirna tak akan tinggal diam By, Saya tahu persis beliau orang seperti apa." Balasnya, lalu pergi meninggal kan ku dikamar itu sendirian.
Aku termenung mengingat kata-katanya tadi. Aku memang sempat bertemu dengan Nyonya Mirna beberapa kali, dan melihat perlakuan nya pada Kak dee yang begitu dingin namun menusuk.
" Apakah perlakuan seperti itu yang akan ku terima nanti, tapi kenapa Dia tak menentang pernikahan kami saat itu?" Gumam ku.
Bu mirna memammng terlihat tenag disetiap gerak gerik nya, terlihat begitu anggun dalam amarah nya. Namun, bisa begitu mematikan hati saat Ia mulai membicarakan tentang sesuatu yang tak Ia sukai.
Beliau memang bukan Ibu kandung Mas edra, tapi beliau lah yang sudah merawatnya sejak Ia berusia tiga tahun dengan penuh kasih sayang, bahkan, sejak Ayah Mas edra meninggal. Beliau lah yang dengan susah payah membangkitkan bisnis keluarga, dan merawat Mas edra dengan sepenuh hati. Hingga wajar, jika Bu Mirna mengingin kan yang terbaik untuk nya, meskipun dengan cara yang salah.
"By... Rubby," panggil Kak dee padaku.
"Iya Kak," jawabku dan langsung menghampiri nya. "Kenapa Kak?"
"Udah jam makan siang, Kamu antar makanan ke Mas edra ya. Dia paling suka kalau diantar makanan dari rumah."
"Tapi, Kak? By ngga tahu kantornya dimana."
"Nanti dianter Pak ujang... Udah sana siap-siap, Kakak siapin bekalnya ya," Lalu menuju ke dapur.
__ADS_1
Aku menurut saja, dna mengganti pakaian ku agar lebih rapi. Dengan dres mocca berlengan panjang dan rambut dikucir ekor kuda, aku memakai tas selempang ku menghampiri Kak dee yang sibuk di dapur.
" Udah Kak, gini aja ya. "
" By, ngga ada baju lain? Polos banget dandanan nya?" ucap Nya memperhatikan ku.
"Iya, Kak. By udah biasa begini aja kalau kemana-mana, lebih nyaman. Dan juga, By ngga bisa dandan."
Senyum Kak dee mengembang mendengar ucapan ku, dan memberikan sebuah tempat bekal yang akan ku berikan pada Mas edra.
"Temani dan pastikan Dia makan sampai habis ya By. Mas edra punya Magh kronis, jadi ngga boleh telat makan."
"Iya, Kak. By pergi dulu," pamit Ku dengan melambaikan tangan.
Pak Ujang sudah menunggu dimobil ternyata, bersiap mengantarku ke kantor Mas edra.
.
.
.
"Non, sampai," ucap Pak ujang padaku.
"Wow... Ini kantornya? Berapa lantai? Terus ruangan nya lantai berapa, yang mana?" gumam Ku kebingungan.
Ada salah seorang Wanita menghampiri ku, seolah mengenalku.
"Bu... Cari Bapak?" tanya Nya ramah.
"Ah, iya... Maaf ruangan nya dimana?" tanya Ku balik.
Dengan sigap Ia membawa ku ke Ruangan Suamiku. Saat naik lift, aku memiliki kesempatan bertanya tentang nya.
"Maaf Mba, sebelumnya. Kita pernah bertemu?"
Wanita itu tersenyum kembali padaku. "Saya sekretaris Bapak Bu, nama saya Winda. Saya yang kemarin bertanggung kawab mengurusi pernikahan Ibu dan Bapak. Mungkin Ibu belum faham."
"Ah, iya... Saya memang belum faham. Karna kesini pun, baru pertama kali nya." balas Ku lagi.
Aku berusaha ramah, meskipun masih serba bingung dengan keadaan itu. Semua karyawan menganggukan kepalanya saat melihatku berjalan disetiap lorong kantor.
__ADS_1
"Mereka itu semua staf dikantor ini Bu, dan sebagian sudah mengenali Ibu, sebagai istri Pak edra." ucapn Winda dengan menunjuk beberapa orang.
"Oh, iya."
"Ini ruangan Bapak, Bu. Silah kan masuk, karna Bapak memang sedang free."
"Baik, terimakasih ya,"
Aku membuka pintu ruangan, dan benar. Mas edra sedang duduk santai menatap layar laptopnya.
"Assalamu alaikum Mas," sapa Ku.
"By, waalaikum salam. Kenapa?"
"Kak Dee, nyuruh anter makanan Mas," jawabku dengan memberikan wadah bekal.
"Ini masakan Dee, atau masakan mu?" tanya Nya.
"Masakan Kak dee, Mas. By cuma nganter aja, terus disuruh mastiin Mas makanan nya harus habis."
Mas edra tertawa terbahak-bahak dengan ucapan polos ku, dan mulai untuk makan.
"Mas, "
"Hmm,"
"Kamar mandi dimana? By kebelet pipis,"
"Oh... Kamu keluar, belok kiri diujung lorong."
"Iya, By pergi dulu ya Mas," pamit Ku dan langsung berlari kecil menuju kamar mandi.
Setelah memasuki toilet. Aku pun langsung menuntaskan keinginan ku tersebut. Terdengar beberapa orang pegawai wanita masuk, dan sepertinya mereka membicarakan ku.
"Eh, Nur. Itu si bini muda Bapak dateng kekantor anter makanan."
"Hah, Gue ngga lihat. Gimana orang nya?"
"Ish... Kampungan, gaya nya aja kerenan Gue. Bisa-bisa nya Bapak nikah sama cewek itu."
"Terpaksa kali Wi, ya itung-itung bisa dimanfaatin buat ngerawat Nyonya juga kan."
__ADS_1
Hati ku begitu pedih mendengar obrolan mereka saat itu. Mereka gak tahu yang sebenarnya terjadi. Namun, dengan berani berbicara semau mereka.