
Pov Author.
Rubby tersadar sejenak, setelah lelah menyesali kebodohanya. Ia telah salah kaprah dengan sikap edra selama ini. Yang sebenarnya begitu tulus, tapi tetap saja Rubby meragukanya. Ia mengusap air mata, lalu berdiri dan berlari kebawah menghampiri Edra dan Maliq.
Rubby mencarinya diruang tamu, namu tak Ia temukan. Akhirnya, Ia mendengarkan suara ocehan Maliq dari kamar Diana, dan Ia pun menghampirinya. Dilihatnya Maliq sedang bermain, sedangkan edra dan Bik inah, sedang membereskan pakaian Diana, dan melipatnya kedalam sebuah tas.
"Benarkah keputusanmu ini Dra? Kamu sudah mempertimbangakanya matang-matang?" tanya Bik inah.
"Jalan terbaik, Bik. Setidaknya seperti ini, membuat By terlepas dari bayang-bayang Diana." jawab edra.
"Mas... Jangan seperti ini, Mas ngga sayang sama Kakak. Kenapa Mas menghilangkan semua kenangan dari Kakak!!" ucap Rubby dengan nada tinggi.
Emosi edra tersulut, Ia berdiri dan ingin memukul Rubby, namun tanganya terhenti. Ia lalu memukul tembok yang ada didekatnya berkali-kali.
Rubby memeluknya dari belakang,
"Mas... Jangan, tangan Mas bisa sakit."
"Sadarkah By, dengan semua tindakan By sekarang, Kakak akan lebih sakit? By tega sama Kakak?"
"By hanya merasa bersalah sama Kakak, dihari terakhirnya. By menebus semua kesalahan pada Kakak, dan.... By merasa, dengan cara ini, Mas bisa memberikan cinta pada By seutuhnya."
Mas edra membalikan tubuhnya, lalu memelukku dengan hangat, "Menangislah, menangis hingga By puas. Jika sudah, kaka usap air matamu, dan kembalilah ceria. Malu, sama Maliq," bisiknya.
"By... Memang sulit lepas dari bayang-bayang Kakak, apalagi, Kakak adalah sosok terbaik buat Mas. Tapi, Mas ngga mau seperti ini. Mas mau Rubby, Mas berusaha meraih hati Rubby, hanya Rubby yang Mas mau. Dengan itu, bukan berarti Mas melupakan Kakak seutuhnya. "
Pelukanya semakin erat. Bik inah keluar membawa Maliq dari kami.
"Ini yang terbaik buat kita dan Kakak, By. By tidak boleh terjebak dengan kenangan bersama Kakak, itu ngga akan buat Kakak tenang. Melepaskan bukan berarti melupakan, Kakak akan selamanya ada dalam hati kita." sambung edra.
Rubby hanya mengangguk, meng'iyakan perkata'an edra untuk mengikhlaskan semuanya.
"Sekarang, bantu Mas yuk, beresin baju Kakak. Kita bagi-bagi ke yayasan, terus tempat lain juga, dimana mau nya By aja."
__ADS_1
" Tapi, yang dilemari By jangan. Itu baju kesayangan Kakak, biar By yang pakai." pinta Rubby.
"Iya, sayang. Yang memang By suka, silahkan pakai. Yang lain, ayo kita kemasin, besok pagi kita keliling bagi'in semuanya. Hari esok, adalah hari Mas bersama By dan Maliq." bujuk edra.
Akhirnya Rubby tenang, dan mulai mau mengikhlaskan semuanya. Membantu membereskan pakaian Diana, dan mengemaskan kedalam sebuah koper yang sangat besar dengan begitu rapi.
Pov Rubby.
"Hari ini, terjadi lagi padaku. Ketika aku begitu sulit untuk melepaskan yang telah pergi. Dua kali aku kehilangan orang yang begitu ku sayang, Dua kali pula aku kalut begini. Aku memang bodoh, lembek, dan terlalu labil. Sehingga tak bisa mengontrol diriku sendiri. Apalagi, mengontrol perasa'an ku terhadap Mas edra yang sudah begitu kuat membuktikan perasa'anya padaku. Mungkin, Jika ada Seratus langkah diantara kami, Mas edra sudah berusaha maju Sembilan puluh Sembilan langkah untuk ku, sedangkan aku, baru maju selangkah untuk nya. Sisanya, hanya dorongan dari Kakak."
"Sudah sayang, ayo istirahat. Hari kita besok padat. Kita akan bermain-main sebentar bersama peninggalan Kakak. Meminta do'a mereka, bukan cuma untuk Kakak, tapi untuk kita juga." ucap Mas edra padaku.
Aku mengambil Maliq dari Bik inah, dan membawanya tidur bersama.
Aku menatap Mas edra yang mulai terlelap, namun ternyata Ia masih sadar.
"By, kenapa belum tidur?" tegurnya.
"Kenapa? Mas terlalu ganteng?"
"Ish... Narsis, cuma ngga nyangka aja, kalau Mas bisa marah gitu. Mas mau nabok By tadi?"
"Pengenya, tapi ternyata ngga tega. Dapetnya dinding," jawabnya.
"Kenapa ngga nabok tadi?"
"Ya ngga papa, Inget aja waktu kemaren By lahiran Maliq, sesakit-sakitnya By, By ngga mau jambak rambut, nyakar Mas, karna takut dosa, dan lebih milih nonjokin dinding. Begitu juga Mas, karna Mas takut dosa. Kakak yang tegas dan berpendirian pun, ngga pernah Mas mau nabok Dia. Meskipun, Kakak sering ngelawan. Apalagi, By, yang memang ngga pernah bantah Mas sama sekali." jawabnya, tanpa membuka mata.
Aku tersipu dengan penjelasan itu. Tersenyum sendiri dengan tetap menatap wajahnya yang menggemaskan bagiku. Rambutnya yang ikal, hidungnya yang mancung, dan pembawa'anya yang dewasa, serta berwibawa menurutku.
"Aku bisa memilikimu seutuhnya sekarang? Iya, Kakak sudah mengikhlaskan mu padaku. Maka, akan ku jaga dengan baik dari sekarang." ku pejamkan mataku, dan membayangkan senyum merekah dari wajah Kak Dee, duduk kembali ditempat kesayanganya.
Malam berlangsung singkat, paginya kami sarapan bersama. Mas edra memandangku senang, karna sekarang, aku sudah menjadi diriku sendiri. Melayaninya dengan penuh keceria'an. Dan penuh senyum yang mengembang untuknya.
__ADS_1
Selesai sarapan, Mas edra mengeluarkan koper besar itu, dan menyeretnya didepanku.
"Siap sayang?"
"Bismillah, siap." jawabku dengan yakin. "
"Assalamualaikum," seseorang masuk kerumah.
"Mba Winda? Ngapa kesini?" tanya ku penuh heran.
"Winda kemari, Mas yang minta. Mupung libur, Mas sewa jasanya seharian mengasuh Maliq bersama kita. Tenang, Dia ikut kok." jelas Mas edra.
"Lah... Ngga ngerepotin?"
"Engga, Bu. Hari ini santai, calon suami saya pun masih diluar kota." jawab Mba winda, dengan meminta Maliq dariku.
"Ayo, kita berangkat. Winda sudah sarapan kan?"
"Sudah, Pak, mari," jawab Winda, dan mempersilahkan kami jalan lebih dulu.
Mas edra menyeret koper besar, yang besarnya lebih dari tubuhku. Koper yang berisi penuh pakaian Kakak yang akan kami bagikan ke beberapa tempat.
Aku berjalan dibelakangnya, tak bisa menggandengnya, karna tanganya penuh, sedangkan Maliq, tenang bersama Winda. Aku berlari kecil, menyusul Mas edra, dan duduk santai diatas koper yang sedang ditariknya..
"Eh... Kenapa naik disini? Udah berat jadi makin berat By,"
"By capek, jalan sendiri tanpa pegangan. Ngga papa sih, naik bentar, By kan ngga berat-berat amat," rayuku padanya.
Mas edra hanya menggelengkan kepala dan tertawa gemas melihat tingkahku, hanya mengusap kepalaku, lalu melanjutkan perjalanan kami.
Sepanjang jalan, aku mengajaknya bercanda, dan sesekali bermain dengan Maliq. Begini yang ku rasakan sekarang, terasa hilang beban berat dipundak ku. Sama seperti ketika Mas edra meminta restunya ke makam Bang bagas, dan berpamitan denganya.
"Kak... Sekarang By benar-bemar ikhlas, namun, By bukan berarti melupakan Kakak."
__ADS_1