
Diana tersenyum melihat reaksi Mama mertuanya yang diam seribu bahasa, dan tak mampu melawan lagi.
"Ma, Dee sudah diam terhadap Mama selama ini. Dee mengalah saat Mama minta semua nya dari Dee, Dee juga memberikan semua apa yang Mama mau. Tapi saat Dee, ingin satu ketenangan, kenapa Mama tak berikan?"
"Kamu mengajak Mama perang, Dee?"
"Tidak... Dee hanya mau ketenangan,"
"Kamu itu hanya wanita penyakitan, kamu adalah sebuah produk gagal, yang tak seharusnya dipertahankan."
"Baiklah... Dee memang produk gagal. Tapi setidak nya, Dee bisa memberi sesuatu yang baru bagi Mas Edra."
"Mama, ngga mau tahu. Kembalikan saham Mama diperusahaan ini,"
"Ma... Dee ngga mengambilnya, Dee hanya mengurangi nya sedikit."
"Baik lah, kita kibarkan perang imi sekarang," ucap Mama dengan nada marah.
"Ma... Mama bisa membohongi orang lain dengan sikap lembut, dan keanggunan Mama, tapi tidak dengan Diana. Diana tahu betul, bagaimana Mama,"
"Baik... Kamu tunggu saja, kamu akan lebih sakit hati dari Mama nanti,"
"Oke... Dee tunggu kejutan dari Mama," tantang Ku padanya.
Mama mirna segera menyeret tas nya dengan kasar dari meja ku, dan pergi dalam keadaan emosi.
"Andaikan Mama patuh, Dee ngga akan melawan, Ma,"
Aku segera mengambil inhaeller ku, dan menghirupnya.
"Waktunya pulang. Sebentar lagi, akan berangkat ke kampung Rubby,"
Tok
Tok
Tok
"Masuk," pinta Ku.
"Maaf, Dee. Tolong tanda tangani ini sebentar," pinta Thomas pada ku.
"Apa ini?"
"Bukan kah, kamu meminta semua harta kekayaan mu, di hibah kan pada madu mu itu?" jawab Thomas.
"Oh... Iya, aku lupa,"
"Dee... Sebegitu yakin kamu padanya?"
"Iya, Thom. Entah mengapa, dari awal bertemu aku begitu simpati padanya. Bahkan, Aku lah yang begitu ingin Ia menikahi Mas Edra."
"Ya, Aku tahu itu. Kelihatan nya juga, mereka sudah saling mencintai."
__ADS_1
"Benarkah? Bagus kalau begitu," ucap Ku, dengan menandatangani berkas tersebut."
"Mertua mu... Kenapa?"
"Tak apa, hanya saja, Ia melanggar batasan yang sudah ku berikan padanya.... Ini, sudah selesai. Aku pulamg dulu, ya. Aku hanya kekantor sekali ini, hingga waktu yang belum bisa ku tentukan,"
"Iya, Dee. Kamu jaga kesehatan, ya."
"Baik... Ku percayakan perusahaan ini pada mu, dan Rara Thom," pesan Ku, dengan menepuk bahu nya.
Aku begitu bersyukur, mempunyai sahabat baik seperti Rara dan Thomas, yang begitu mengemban amanat yang telah ku berikan. Hingga, Aku bisa menjalani pengobatan ku dengan lancar. Meskipun, dengan tingkat kesembuhan yang minim.
Aku segera melangkah kan kaki ku keluar kantor, dan menuju mobil untuk pulang.
"Pak, pulang ya," pinta Ku, pada Pak ujang.
"Baik, Nyonya.
Eh, itu kenapa Nyonya mimisan?" tanya Pak ujang, yang terkejut melihat hidungku berdarah lagi.
"Ya ampun... Pak, minta tisu nya," Pak ujang dengan sigap memberikan ku sekotak tisu yang asa didepan.
Setelah beberapa lama ku bersihkan, akhirnya darah nya berhenti.
"Pak, jangan bilang tuan, ya. Nanti Dia cemas,"
"Iya... Nyonya," jawab Pak ujang, lalu memacu mobilnya pulang.
"Loh, Mas. Ngga kekantor?"
"Engga Dee, mau bantu-bantu Rubby, nyiapin barang yang mau dibawa."
"Rubby mana?"
"Disini, Kak." jawab nya.
Rubby datang dengan membawa beberapa tas ditangan nya.
"By, sebanyak ini barang kamu?" tanya Ku.
"Kak, ini satu barang By, dan satu barang Kakak. Terus itu yang ditas satunya beberapa perlengkapan buat pengobatan Kakak,"
"Wah... Semua lengkap, makasih banyak, ya. Siap. Berangkat?" tanya Ku, dengan antusias.
"Siap...." jawan Rubby.
"Andai aku boleh ikut," sahut Mas Edra.
"Besok-besok aja ya, Mas. Dee sama Rubby dulu," bujuk Ku.
Mas Edra membawa kan tas kami keluar, dan memasuk kan nya kedalam bagasi.
"Selamat jalan, para istriku. Akur ya,"
__ADS_1
"Emang kami pernah berantem gitu?" ledek Ku.
Kami tertawa bersamaan, hingga akhirnya Aku dan Rubby berangkat dengan diantar Mas Bima. Anak Pak ujang.
Pov Rubby.
Akhirnya setelah sekian lama aku pulang kekampung halaman, bersama Kak Dee di dismpingku. Meskipun sebenarnya, aku bertanya-tanya, kenapa Kak Dee begitu ingin mengunjungi orang tuaku.
Aku tak bisa membayangkan, bagaimana reaksi orang disana saat tahu aku pulang bersama istri tua suamiku. Pasti mereka gempar, dan membuat cerita versi mereka sendiri. Terutama, Bu lurah, yang dari dulu memang membenciku.
Seingatku, saat terakhir kali bertemu secara tidak sengaja di mall itu, Ia mewanti-wanti Kak Dee, agar tak terlalu percaya dengan ku, yang bisa kapan saja merebut suaminya. Dan kenyataan terjadi, namun tak seperti dalam fikiran nya saat itu. Justru Kak Dee lah, yang meminta ku menikahi suami nya.
"Kak...."
"Iya, By?"
"Kenapa pengen ke kampung?"
"Kakak pengen liburan aja, siapa tahu disana dapar udara segar, terus penyakit Kakak berangsur sembuh,"
"Iya, Kak. Semoga saja," balas Ku, dengan ragu.
Beberapa jam perjalanan, kulihat Ia lelah, dan aku membaringkan tubunya dipangkuan ku.
"Kakak tidur aja, perjalanan masih jauh. Nanti kalau waktunya minum obat, By bangunin."
"Iya... By,"
Tubuh yang ada dalam pangkuan ku ini, adalah tubuh yang begitu lemah sebenarnya. Tapi, kenapa hari ini Ia begitu terlihat berbeda. Begitu antusias dan bersemangat. Bagai tak ada beban dalam dirinya sekarang.
Tubuh lemah ini, yang siap membelaku kapan saja, dari orang-orang yang berusaha menyakitiku dengan persepsi mereka.
Tubuh lemah ini, yang selalu memberiku dukungan dalam setiap langkahku, dan memberi dorongan agar aku tak patah semangat. Dan sekarang, aku berjanji akan membahagiakan nya, disisa usia nya.
"Mas Bima, nanti berhenti dipersimpangan sana, ya. Ada restaurant kecil, kita istirahat dulu nanti," pinta Ku.
"Baik, Nona."
Akhirnya kami berhenti sejenak, untuk istirahat karna memang sudah waktunya Kak Dee, untuk minum obat.
"Kak... Bangun yuk, istirahat bentar. Makan, lalu minum obat," bujuk Ku, padanya.
"Iya, By."
Aku dan Kak Dee, masuk kedalam resataurant, sedangkan Mas Bima masih izin untuk merokok sebentar diluar.
Selagi mengambil makanan untuk Kak Dee, ada seseorang yang tiba-tiba. Menyentuh pundak ku.
Deg!
"By, ini Rubby kan?"
"Iya, siapa ya?" tanya Ku.
__ADS_1