MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Kamu lemah, Edra.


__ADS_3

"Edra... Kenapa kamu kemari?"


"Boleh saya masuk?"tanyaku padanya.


Ia mempersilahkanku masuk, lalu menyuruhku duduk, dikursi yang terbuat dari kayu bawang itu.


"Ada apa? Bukankah, istrimu sudah menjelaskanya padamu? Atau, kamu ingin memintaku mundur menjadi saksi, agar Mama mu itu bebas?"


"Tidak... Hanya ingin bertanya, kenapa Bapak begitu semangat membuka kembali kasus ini?" tanya ku dengan serius.


"Jawabanya sama, seperti sa'at Diana dengan begitu semangatnya, ingin mengangkat kasus ini kembali. Bapak hanya ingin keadilan untuk Rahmat, yang menjadi korban salah sasaran dari perbuatan Mirna."


"Salah sasaran bagaimana? Bukankah, memang Papa yang ingin diracuni Mama?" tanyaku lagi, dengan penuh penasaran.


"Jadi kamu belum tahu semuanya? Anak ku... Rahmat, yang meninggal itu, bukan murni karna kecelaka'an. Tapi Mama mu yang mengaturnya, dengan niat agar Diana yang celaka. Tapi, sayangnya justru Papamu dan rahmat yang kecelaka'an. Memang takdir, sa'at membahas, jika Ia meninggal dalam usia muda. Kami sudah ikhlas akan kepergianya,tapi tidak dengan caranya."


"Perkata'an Bapak, sama persis seperti Diana." jawabku.


"Ya... Karna perasa'an kami sama. Kami tak ingin membalas dendam, hanya ingin Ia mendapat hukuman yang setimpal atas apa yang ia lakukan."


"Mama akan dihukum dengan berat, dengan semua ini?"


"Ya... Tinggal tergantung bagaimana cara Mamamu menghadapinya. Mau mengakui, atau mau melawan, Itu terserah padanya."


"Tapi bukanya Bapak juga akan mendapatkan hukuman, karna telah menyembunyikan barang bukti sekian lama?" tanyaku lagi. Namun, Ia hanya tersenyum, dan lambat membalasku.


"Aku sudah tak takut lagi, Dra. Bahkan selama ini, aku bersembunyi di Rumah Sakit Jiwa, berbaur dengan mereka yang tidak normal. Demi apa? Demi menghindari kejaran, dan melindungi barang bukti itu." ucapnya dengan tegas. Dan menatapku dengan raut mata mengejek.


"Kamu terlalu lembek Edra. Hanya karna berita palsu tentang ginjalmu itu, kamu langsung menganggapnya sebagai dewa dalam hidupmu. Padahal, sebenarnya Ialah iblis yang bisa kapan saja merenggut nyawa orang lain demi ambisinya." imbuhnya.


Aku segera berdiri, dan pergi tanpa pamit dengany, berlari menuju mobilku, dan menangis disana.


"Iya... Aku lemah. Hanya karna Ginjal itu, aku menganggapnya bagai dewa. Aku benar-benar bodoh. Bahkan, Aku mengorban kan perasa'an Diana karna membelanya."


Aku langsung menyetir mobilku, dan pulang, untuk menemui Diana. Ingin ku peluk tubuhnya erat, tanpa ingin ku lepaskan, karna rasa ku yang kian penuh penyesalan.


Pov Diana.


"Assalamualaikum," ucapku, sa'at memasuki rumah. "By... Bik inah?"

__ADS_1


"Iya Kak... Kakak baru pulang?" tanya Rubby, yang menghampiriku.


"Iya... Boleh bikinin teh? Kakak haus. Bik inah mana?"


"Iya, By bikinin. Kakak tunggu aja sambil istirahat disofa ya." ucapnya lalu kedapur.


Aku duduk, dan membuka hp ku untuk mengecek, siapa tahu Thomas menghubungi ku untuk perkembangan kasus ini.


"Berapa lama, agar kasus segera naik. Bukan tak sabar ingin melihatnya dipenjara. Hanya saja takut, jika aku tak sampai menuntaskanya." gumamku.


"Kak, ini Tehnya. Cepet diminum, mupung anget. Udah itu mandi, By siapin air angetnya."


"Bik inah kemana?" tanyaku.


"Ziarah... Katanya, semalem kemimpi Almarhum anaknya." jawabnya dari dapur.


Aku tak bertanya lagi, hanya diam duduk santai menikmati secangkir teh yang manis, buatan madu ku.


Sayup-sayup ku dengar suara mobil Mas Edra pulang. Tapi aku masih santai menunggunya masuk, penasaran dengan respon yang Ia berikan setelah menemui Mama mirna.


"Assalamaualakum... Dee," ucapnya, dan langsung menghampiri, lalu memelukku dengan begitu erat.


"Sebentar, sebentar saja. Tolong, jangan mengelak lagi." ucapnya.


"Mas... Nanti dilihat Rubby," tegurku.


"Kak... Ini air hangat nya sudah siap, Oups..." ucapanya terpotong.


Aku segera melepaskan pelukan itu. "Kan, kelihatan By."


"Ngga papa, biasa aja. Tapi, Mas, hati-hati lah, Kak Dee sesek ntar pingsan." jawabnya, dengan menunjuk Mas edra sa'at memelukku.


"By ngga marah?" tanya ku.


"Ngapain marah, kan istrinya. Kalau sama cewek lain, jangankan marah, By ajak baku hantam ayok lah...." balasnya lagi.


Mas edra menghampirinya, dan berganti memeluknya. "Terimakasih sayang... Mas beruntung memiliki kalian, yang penuh kasih sayang dan saling perduli satu sama lain."


"Iya... Sama-sama, kami juga beruntung punya Mas. Udah sana, mandi dulu... Kakak juga ya, air anget nya udah siap, bentar lagi By bawain ke kamar." ucap By padaku.

__ADS_1


"Eh... By ngga boleh angkat berat-berat, biar Mas aja. Kita sama-sama ngurusin Kak Dee, jadi apa-apa kita bersama," ujar Mas edra.


"Aku kok berasa kayak nenek-nenek yang diurus anaknya ya," gurauku.


Kami tertawa bersama, sore itu. Seperti tak ada permasalahan dalam keluarga ini. Tanpa By sadari, mataku dan mata Mas edra saling melempar tanya satu sama lain.


Ku biarkan Mas edra bersama Rubby untuk beberapa sa'at, hingga yakin bahwa Rubby telah tidur dan Ia masuj kekamarku.


"Dee...."


"Ya... Ada apa?"


"Kamu yakin, menaikan kasus ini?"


"Yakin... Sangat yakin? Mas ngga setuju?"


"Setelah aku menemui Pak hadi, aku yakin, jika aku akan mendukungmu. Tapi tolong, setidaknya beri keringanan. Mama sudah senja,"


"Memberi keringanan pada yang sudah senja, meskipun Ia tak memberikan kesempatan, pada yang akan terbit. Adilkah bagiku?" tanyaku, dengan mata memerah.


"Dee... Dia Mama ku, Mertuamu."


"Dan dia membunuh anak kita, Anak Bik inah, dan Papa mu."


"Baiklah, Dee... Jika seperti itu. Jika kasus sudah naik, Izinkan aku sendiri yang memberitahunya, dan menjemputnta. Ku antarkan sendiri Ia kepenjara. Hanya itu perminta'anku."


"Aku kira... Mas mau memberikan kesempatan pembela'an diri untuk ya,"


"Tidak... Karna, aku tahu jika Mama memang salah. Mama yang membuat semua ini begitu pahit. Terutama untukmu, Dee. Maafkan aku,"


"Sudah kesekian kali nya, kamu meminta ma'af Mas. Dan kamu pun tahu, jika berulang kali juga, aku mema'afkanya. Naik kan kepalamu, jangan pernah menangis lagi. Aku ngga suka lihatnya, malu juga dilihat Rubby." ucapku.


Mas edra mengangkat kepalanya, dan kembali memeluk ku.


" Tadi, jadi kerumah Mama, Mas? "


" Jadi... Tapi Mama ngga bisa ditemui. Sepertinya, Mama terkena depresi ringan. Beberapa waktu, hanya berdiam diri dikamar yang gelap, tak merespon dengan apapun."


"Mama... Depresi? Tolong jangan lakukan itu, Ma. Kasus ini tak akan berjalan, jika Mama Sakit jiwa,"

__ADS_1


__ADS_2