MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Pura-pura Acuh.


__ADS_3

"Bu... Silahkan berbaring disini," ucao Dokter.


Aku menurutinya, tidur ditempat yang disediakan. Perlahan, Dokter memasukan alat tersebut kemulutku.


"Sa'at benda ini masuk, jangan ditahan, telan saja seperti menelan makanan." instruksinya.


Aku hany mengangguk, namun tak bisa menutupi keteganganku. Untung saja, Rubby menggandeng tangan ku ketika itu.


"Tuhan... Tak enak sekali rasanya. Aku ingin muntah, tapi Dokter menyuruhku untuk terus menelanya. Seberapa panjang alat ini masuk ke tenggorokan ku?"


Beberapa menit, dirasa pengecekan selesai. Dan alat itu dicabut perlahan dari mulutku.


"Hoooek...!"


"Kak... Kakak mau muntah?" tanya Rubby, yang dengan sigap mengambilkan tisue, dan mengelap seluruh wajahku.


"Ngga bisa muntah, tapi eneg banget. Badan Kakak gemetaran, Kaku rasanya." ucapku, terbata-bata.


Rubby lalu memberikanku segelas air, dan memijit punggungku.


"Ibu....ini hasilnya, silahkan bawa ke Dokter Frans untuk diperiksa, ya." ujar Dokter, memberikan sebuah map coklat.


Rubby memanggil Mas edra untuk membawaku dengan kursi roda. Dan Ia mengikuti dari belakang.


"Dee ngga papa sayang?" tanya Mas edra padaku.


"Lemes, mual, gemeter badanya." jawabku lirih.


Dokter Frans membacakan hasil Endoskopinya, ketika kami datang.


"Dee... Terdapat radang di lambungmu, hingga usus besar. Itu yang menyebab kan Buang Air besarmu berdarah. Tapi, itu masih wajar karna memang kamu banyak mengkonsumsi obat-obatan selama ini. Jaga pola makan, ya. Jangan makan keras, dan pedas. Lebih baik setelah ini makan bubur dulu, tau nasi yang lembek. Tahan lah, untuk kesehatanmu," jelas Dokter.


Aku hanya bisa mengangguk meng'iyakanya, dan sisanya, urusan Rubby dan Mas edra.


Setelah semua selesai, Mas edra menggendongku masuk kedalam mobil, dan membawaku pulang.


"Kakak nanti baru boleh makan, Satu jam setelah sampai dirumah, ya." ucap Rubby padaku.


Aku hanya berdehem lemah, dan tidur dipundaknya.


Sesampainya dirumah, Mas edra kembali menggendongku menuju kamar.


"By... Mas titip Kakak ya? Ada rapat setelah ini."


"iya... Mas berangkat aja, biar By yang jaga Kakak sama Bik inah." jawabnya.


Ku dengar, Mas edra melangkahkan kakinya keluar, dan menyetir mobilnya dengan cepat.


"Kakak haus, udah boleh minum kan?" pintaku.


"Iya, By ambilin dulu."

__ADS_1


Pov Rubby.


Memang lumrah, pasien Endoskopi merasakan itu. Terlebib lagi, memang Kak Dee fisiknya sudah lemah. Untung saja tak ada terdeteksi penyakit lain ditubuhnya.


"Bik, tolong bikinin bubur ya, buat Kak Dee," pintaku pada Bik inah.


"Iya, By. Akan Bibik buatin. Hasil cek nya bagus 'kan?"


"Alhamdulillah, ngga buruk. Ya, karna kita tahu sendiri kondisinya gimana, Bik."


"Iya... Bibik mengerti,"


Aku lalu meninggalkanya untuk memasak, dan menemani Kak Dee dikamarnya.


"By...." panggilnya.


"Iya... Kenapa?"


"Kalau Kakak sembuh dari ini, kita jalan-jalan, ya? Kerumah Ibu juga ngga papa. Sekalian lihat proyek Mas disana." pintanya.


"Iya,,, tapi Kakak harus sembuh dulu. Baru bisa jalan-jalan. By juga mau Tujuh bulanan disana lah, mau ndo'a."


"Iya..."


"Nanti By bilang sama Mas dulu," jawabku.


Setelah berbincang, aku menyuapinya makan, dan mengelap tubuhnya disore hari.


"Assalamualaikum," suara Mas edra terdengar jelas memasuki rumah.


"Waalaikum salam. Mas, udah pulang?" sapaku, lalu menggandeng tanganya masuk kekamar.


"Kakak, mana?"


"Tidur, tadi abis makan, minum obat, langsung tidur nyenyak," jawabku.


"Yaudah, Mas ngga ganggu deh. Mandi dikamar By aja." jawabnya.


Aku duduk ditempat tidur, dan memperhatikanya membuka Jas dan kemejanya. Aku langsung menghampirinya, memeluk tubuhnya, dan membenamkan wajahku di dadanya yang bidang itu.


"By kenapa? Mas bau loh ini." tegurnya.


Namun, bukanya beralih, aku justru menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang begitu ku sukai sa'at ini.


"By... Mas belum mandi. Kalau mau dipeluk, nanti aja. Gerah nih," bujuk nya lagi.


"Ngga mau... Bentar lagi, enak babget baunya, seger." jawabku, dan semakin dalam menghirup aroma tubuhnya.


"By mau yang lebih seger?" tanya nya.


Aku mendongakan kepala, dan dengan antusias kembali bertanya. "Apa?"

__ADS_1


"Ini... Seger banget baunya," ledek Mas edra, dengan memberikan ketiak nya padaku.


"Iiiih... Bau, Mas jorok banget." omelku, dengan menutup hidung, lalu memukuli lenganya.


Ia tertawa kesakitan, tapi itu membuatku bahagia, melihat tawanya yang lepas, setelah beberapa lama mengurusi masalah yang berat.


Pov Edra.


"Mas... Jangan mengasihani aku,"


Ujar Diana,. Lima. tahun lalu, sa'at Ia mengetahui sedang mengidap Leukimia, dan tak bisa memberiku keturunan.


"Bagaimana maksudnya?" lirihku.


"Jangan mengasihani aku hanya karna penyakitku. Aku tak mau mendapat perhatian lebih, hanya karna dianggap sakit dan lemah."


"Dee, sayang. Bagaimana Mas bisa beranggapan biasa seja dengan kamu. Kamu memang sedang butuh perhatian lebih, sayang. Jangan paksa Mas bersikap acuh padamu."


"Mas.... Kamu fokuskan saja ke perusaha'an. Perusaha'an itu sudah banyak menimbulkan huru hara dikeluarga ini. Dee ngga mau, hanya karna penyakit ini, Mas tak bisa mengurusnya dengan baik. Kasihan Papa,"


"Dee..."


"Dee sudah menelan kekecewa'an dan derita yang begitu besar sa'at ini. Ingin menuntut keadilan pun tidak bisa 'kan? Semakin Dee berontak. Semakin kalian menganggap Dee depresi karna semuanya. Dee akan diam, Dee akan menurut. Asal Mas juga mau mendengarkan Dee. Urus saja perusaha' an itu dengan baik, Dee akan urus perusaha'anmu bersama Thomas dan Rara." ujarnya, dengan nada tanpa ekspresi.


Sejak sa'at itu, aku hanya bisa menuruti kemauanya. Karna jujur, aku benar-benar takut jika Ia tertekan, terutama setelah kehilangan Bayinya, serta kehilangan Papa mertua yang amat disayanginya. Oleh karna itu, sa'at Ia meminta ku menikahi Rubby, aku menerima nya meskipun sulit karna harus membagi hati.


Tapi, seiring berjalanya waktu, dan melihat ketulusan mereka berdua. Rasa itu tumbuh perlahan. Terutama ketika janin dalam tubuh Rubby, semakin besar dan sebentar lagi akan lahir. Hanya tinggal menunggu waktu untuk menyambut kebahagia'an dan sumber kekuatan kami.


*


*


*


"Mas... Kok ngelamun pagi-pagi?" tegur Diana, sa'at kami sarapan.


"Hah? Engga, nggapapa. Dee udah sehat?" tanya ku.


"Udah... Sesehat-sehatnya Dee, ya begini lah. Mas, Dee pengen jalan-jalan," pintanya.


"Heh, kemana?"


"Kemana ajalah... Refreshing, setelah semua penat ini. Mau jauh-jauh ngga akan bisa, kerumah Ibu aja yuk. Dee kangen Ibu sama Bapak."


"By gimana? Mau?"


"By ngikut aja. Mupung By hamilnya belum gede-gede amat, jadi masih aman." jawabnya, santai.


"Oke... Sekalian ngontrol proyek disana, kapan kita berangkat?" tanya ku.


"Sore ini?" jawab Dee dan Rubby bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2