
Pov Rubby.
Aku menunggu, dan terus menunggu. Berkali-kali aku melirik ke arah pintu dan pagar depan untuk melihat, apalah mereka sudah sampai dirumah atau belum.
"By... Kok mondar mandir, kenapa?" tegur Ibu pada Ku.
"Kok mereka belum pulang sih, Bu? Mas juga ditelpon ngga nyambung-nyambung," jawab Ku dengan gelisah.
"By yang sabar, jangan gelisah dan tergesa-gesa. Kalau kamu stres, Bayi nya ikutan stres." tegur Ibu pada Ku.
"Iya... By cuma.... Ah, sudah lah. Kamar Kak Dee udah diberesin kan tadi?"
"Udah... Sama Bik Nunik," jawab Ibu.
Aku mencoba mengalihkan perhatian Ku, dari mereka dengan menonton televisi. Hinga, beberapa menit kemudian, ku dengar suara mobil memasuki halaman hingga garasi.
"Buk...! Itu Kakak sama Mas udah pulang?" teriak ku.
"Iya... Biar Bapak aja yang hampiri, kamu disana... Jangan ikut larian," perintah Bapak pada Ku.
Aku kan ngga sakit, kenapa harus diperlakukan seperti ini. Kesal juga lama-lama.
"Assalamualaikum...." ucap Mas Edra yang masuk kerumah, dengan mendorong kursi roda Kak Dee.
Ku hampiri mereka, dan mencium tangan Mas Edra, dengan penuh senyum. "Waalaikum salam, Mas."
"By... Sehat?" tanya Kak Dee.
"Kok malah nanyain By, sih Kak. Kakak itu loh, kok minta pulang. Bukan nya belum sehat?" omel Ku.
"Udah... Jangan ngomel, pokoknya Kakak udah pulang. Yuk, temenin Kakak ke kamar. Kakak kangen kasur," pinta Nya pada Ku.
Mas Edra menggendongnya menaiki tangga, sedangkan Aku berjalan dibelakang mereka, memegang selang dan botol infus yang masih terpasang.
Mas Edra lalu membaringkan nya di ranjang saat tiba dikamar. Setelah itu, botol infus ku gantung di sebuah tiang yang memang dipesan untuk perawatan dirumah.
"By... Ini resep dari Dokter, dan jadwal injeksi nya." ucap mas Edra, dengan memberikan beberapa lembar kertas pada Ku.
"Iya Mas... Mulai nanti sore injeksi nya. Saling mengingat kan, ya. Oh iya... Mas udah makan? Biar By siapin."
"Iya... Tolong ya, Mas laper banget," ucap Nya pada Ku.
"By.... Kakak minta teh anget ya, suruh Bik Nunik anter ke kamar." sahut Kak Dee.
__ADS_1
"Iya, Kak. Tunggu ya," balas Ku, dan langsung kedapur untuk menyiapkan makanan untuk Mas Edra.
"Non... Teh nya udah selesai," ucap Bik Nunik.
"Biar saya aja deh yang anter. Sekalian manggil mas Edra buat makan," balas Ku, dengan meminta nampan teh dan membawa nya kembali ke atas. Bik Nunik hanya mengangguk dan menuruti Ku.
Aku naik perlahan keatas, dan memberikan teh nya. "Kak... Ini, diminum dulu,"
"Nunik mana?" tanya Kak Dee, kesal.
"Di... Dapur, kenapa?"
"Kenapa kamu yang anter? Kenapa ngga dia aja?"
"Kak.... Ngga usah marah, ini By yang minta, karna mau sekalian Manggil Mas buat makan."
"Lain kali, jangan seperti itu lagi. Inget, kamu lagi hamil muda By, Masih rentan. Apalagi harus naik turun tangga."
"Iya, Kak... Mas mana?" tanya Ku.
"Kenapa By?" sahut Mas Edra yang keluar dari kamar mandi.
"Itu... Makan nya udah siap,"
Pov Diana.
Memang seharusnya seperti itu, Mas. Seharusnya kamu menggandeng Rubby kemanapun kamu pergi. Aku tak akan pernah bisa cemburu lagi, justru aku tenang. Aku bahagia melihat Mu seperti itu.
Perlahan mulai kini, Aku akan menjauhkan Mu dari Ku agar kamu sudah terbiasa jika aku benar-benar sudah pergi.
Aku tahu, kamu marah jika aku berbicara seperti ini dengan lantang dihadapan Mu. Maka, sekarang aku tak akan banyak bicara lagi, Mas. Akan ku bukti kan semua dengan tindakan Ku. Dan sekarang, Aku hanya bisa meminta pada yang kuasa, agar bisa memanjangkan usia ku sebentar saja. Setidaknya, sampai bisa mendampingi Bayi kalian bermain esok hari.
Pov Rubby.
Aku menemani dan melayani suami Ku makan. Dan memualai pembicara'an ku padanya.
"Mas...."
"Iya, By. Kenapa?"
"Mama Mirna ngirim bingkisan sama By,"
"Hmm? Bingkisan gimana?"
__ADS_1
"Ya... Cuma belanja'an. Isinya susu, vitamin, sama perlengkapan kehamilan."
"Mama tahu kamu hamil? Dari siapa?"
"Bik Nunik ngasih tahu. Menurut Mas gimana?"
"By percaya sama Mama Mirna?" tanya Mas Edra balik.
"By... Bingung, Mas. Mau nanya Kakak, nanti malah emosi. Makanya By nanya sama Mas,"
"By... Mama mungkin tidak menyukai kamu. Tapi sepertinya, Mama tulus dengan Bayi kita,"
Ucapan nya sedikit membuatku tenang, meskipun masih bertanya-tanya.
"Ibu sama Bapak mana?" imbuh Mas Edra, saat makan Nya selesai.
"Mereka dibelakang, lagi sibuk buatin teras hijau penuh tanaman buat Kak Dee. Taneman nya aja dibawain dari kampung. Niat banget mereka," ledek Ku.
"Bantuin ah... Mupung nganggur, udah lama ngga berkebun." ucap Nya dengan antusias, lalu meninggalkan Ku dimeja makan sendirian.
Pov Aledra.
Sudah lama sekali, Aku tidak pernah lagi merasakan bercocok tanam. Karna dulu, Mama Mirna selalu melarang Ku bermain kotor. Jelas saja, karna beliau orangnya perfctionist, dan tak ingin aku terlihat salah dimatanya.
Ku hampiri mertua Ku dan mulai membantu mereka menyusun tanaman dengan rapi dan indah.
"Dra... Biar Ibu sama Bapak saja, nanti kamu kotor," ujar Bapak pada Ku.
"Sesekali, Pak. Edra udah ngga pernah main kotor sejak puluhan tahun. Padahal, bercocok tanam itu menyenangkan bagi Edra,"
"Ya wajarlah... Kamu kan orang kantoran, buat apa main tanah. Ya 'kan?" ledek Bapak pada Ku.
"Pak... Terimakasih ya, sudah mau memperhatikan Diana sampai seperti ini, bahkan saya suami nya tidak terfikir untuk membuatnya," ucap Ku, pelan.
"Mungkin, inilah kehendak Allah Dra. Ia sudah mengirimkan keluarga kami, untuk membantu mu membahagiakan Diana, meskipun dengan cara sederhana. Yaitu, cara yang ngga pernah terfikirka oleh Mu."
"Iya... Pak, takdir Allah itu, memang tidak pernah bisa kita tebak." jawab Ku.
"Makanya, sekarang kita ikuti saja alurnya. Kita tidak boleh menyesali apa yang sudah terjadi kemarin. Tapi, jangan sampai penyesalan itu, akan merusak masa depan kita. Itu saja,"
Aku tertegun mendengar kata-kata itu. Memang benar, dan aku pun sangat setuju. Biar bagaimanapun, semua kejadian pahit dan melelahkan itu tak akan bisa selalu disesali dan disalahkan. Kita hanya tinggal berusaha, agar masa depan kita lebih baik lagi nantinya. Masa depan Ku, Rubby, dan Diana. Harus lebih baik lagi dikemudian hari.
Aku suami mereka, dan Aku lah yang harus paling pertama pasang badan, saat mereka dihadapkan pada posisi sulit. Diana dengan sakitnya, dan Rubby dengan kehamilan pertamanya. Terlebih lagi, Musuh mereka yang sama. Yaitu, Mama Mirna. Mama sambung ku yang begitu anggun, tapi bisa mematikan dengan kata-katanya yang santai.
__ADS_1