MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Tegas lah, Mas...,!


__ADS_3

Pov Diana.


Aku menarik Rubby, dan membawa nya masuk kedalam mobil.


"Kenapa ngga bilang Mama kalau capek?"


"Tadi By udah bilang... Tapi, kata Mama bentar lagi, ngga enak sama semua tamu nya,"


"Kenapa ngga nelpon Kakak?"


"Kan By bilang By capek... Ngga kepegang Hp nya... By aja sembunyi-sembunyi kekamar terus rebahan sebentar... Kenapa By disalahin terus," jawab nya, dengan berderai air mata.


Aku memacu mobil ku perlahan, dan membawanya pulang kerumah. Namun, ditengah jalan darah dihidung ku kembali keluar dengan derasnya."Aiiiish.... Kenapa harus sekarang sih. Ngga tahu orang lagi dijalan," kesalku.


Aku lalu menghentikan mobil dipinggir jalan dan membersihkan darah itu dengan tissue seadanya.


"Kak... Kakak masih sering mimisan?" tanya By, dengan memberikan beberapa lembar tissue, dan membantuku mengelapnya


"Ma'afin By... By selalu buat Kakak repot. By selalu buat Kakak stres," ujarnya, dengan menundukan kepalanya lalu menangis tersedu.


"Maka dari itu... By sekarang harus belajar kuat. Sesabar apapun seseorang, tidak perlu diinjak-injak seperti kertas bekas yang tidak ada gunanya."


"Iya... By akan berusaha, menjadi seperti yang Kakak mau."


"Bukan untuk Kakak... Tapi untuk By sendiri. Dengan begitu, Kakak akan lebih tenang, saat harus pergi meninggalkan kalian semua disini."


"Kakak! Jangan bilang seperti itu. By benci!"


"Sama... Kakak juga terkadang benci dengan takdir Kakak sendiri." ujarku. Lalu kembali menginjak pedal gas dan pulang.


Pov Rubby.


Aku memasuki rumah, dengan perasa'an kacau, begitu juga Kak dee yang wajahnya begitu murung.


Kenapa dengan Kakak, ada apa ini? Kenapa begitu kesal dan marah.


"Kak... Kakak kenapa?" lirihku padanya.


"Telpon Mas edra... Suruh Dia cepat pulang kesini. Setelah itu, cepat kamu tidur." balasnya, dengan nada datar.


Aku menurutinya, masuk ke kamar, mengganti pakaian ku, dan menelpon Mas edra.


"Hallo, Mas... Dimana?"


"Dijalan By... Kenapa?"


"Kakak barusan jemput By dirumah Mama. Kakak marah, nyuruh Mas cepet pulang."

__ADS_1


"Yaudah... Mas cepet-cepet ya... By istirahat aja," jawab Mas edra, lalu menutup telponya.


"Semoga mereka ngga bertengkar gara-gara aku." batin ku. Karna sangat lelah, aku pun segera kembali tidur dikamar.


Pov Edra.


"Ada apa lagi ini? Diana kenapa, benarkan seperti tang dikatakan Rubby, jika Diana begitu marah?" gumam ku, seraya kembali turun dan menemui Diana setelah mengganti pakaian ku.


Ku buka pinty kamarnya, ku lihat Ia sedang duduk menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.


"Dee...."


"Baru pulang?" tanya nya datar.


"Seperti yang kamu lihat. Ada apa lagi dengan Mama?"


"Untuk kali ini, Mas... Kali ini saja, tolong tegas dengan Mama. Mas ngga mau 'kan sampai terjadi apa-apa dengan Rubby? Kasihan Dia."


"Kenapa? Bukan kah Mama hanya mengadakan Baby shower untuk Rubby?" tanya ku lagi.


"Hanya Baby shower menurutmu? Tapi itu menyiksanya. Mas sadar kan, jika kalian baru saja pulang dari kampung, disana ada acara. Rubby lelah, Mas. Diusia kandunganya sekarang, Dia butuh banyak istirahat."


"Lalu apa mau kamu sekarang?"


"Tegaskan pada Mama... Jangan gamggu Rubby lagi. Jika tidak, aku akan semakin membuat nya menyesal seumur hidup."


"Apa Mama selama ini menghormati ku sebagai istrimu. Oh iya... Bawa Mama kerumah sakit. Lansia dengan satu ginjal, akan rentan sakit jika stres," ujar Diana pada ku.


"Baiklah... Besok, Aku akan bawa Mama ke Rumah Sakit langganan nya, untuk diperikasa."


"Jangan... Ajak saja kerumah sakit yang sering ku datangi. Jika Ia menolak.... Kamu sendiri Mas yang bisa menarik kesimpulanya."


"Baik lah... Aku minta ma'af mewakili Mama.... Jangan marah lagi, jika kamu stres dan tertekan, bukan kah akan membuat mu drop?"


"Iya... Aku tak marah. Kembalilah, temani Rubby. Aku ingin istirahat, mendatangi Istana besar itu, membuatku teringat hal yang begitu sulit aku lupakan, Mas."


"Baik lah, Dee.... Selamat istirahat," jawab ku, lalu pergi meninggalkanya.


Aku menghela nafas panjang. Berfikir kembali, tentang Mama dan Diana yang kembali memanas.


"Kapan berakhir semua ini... Aku pun lelah. Andai saja, Papa masih hidup. Pasti Aku tak akan ada diposisi ini, posisis serba salah, yang sulit menjadi penengah antara istri dan Ibu ku." gumamku.


Aku kembali naik, dan menghampiri Rubby dikamarnya. Aku duduk disampingnya tidur, dan memijat perlahan kakinya.


" Loh... Mas, kok kesini lagi? "tanya nya kaget.


" Disuruh kesini sama Kakak... By... Maaf ya, Mas memang terlalu lembek. Mas tidak bisa tegas sama Mama. Hingga By menjadi tersiksa begini."

__ADS_1


"Hmm... Kenapa bilang begitu? Kata Ibu, Lelaki yang sudah menikah itu memang masih Hak ibu nya, Mas. Wajar kalau Mas masih begitu mengabdi sama Mama."


"Tapi.... Biarpun begitu, kalau seorang suami tak bisa membahagiakan istrinya hanya karn pebgabdianya, bukan kah itu berdosa? Itu yang buat Mas bingung By... Bagaimana Mas seharusnya,"


"Yaudah lah... Udah malem. Mas istirahat aja, tidur. Besok By mau periksa kandungan. Ditemenin Kakak aja. Mas bujuk Mama baea kedokter sana, tadi kayaknya Mama nyeri dada nya. Ngga tahu, sesak nafas atau jantung."


"Iya... Kakak mu juga bilang begitu. Yaudah, tidur yuk..." ajak ku padanya.


*


*


*


Pagi yang cerah, mentari pagi bersinar menyilau kan mata. Aku, Rubby dan Diana sarapan bersama dimeja makan. Tapi kali ini sedikit janggal. Diana masih saja diam padaku.


"Dee... Masih marah?"


"Engga... Posisiku sama seperti mu Mas, saat aku sendiri tak bisa berkutik dengan semua kesulitan yang ada. Bahkan, ingin membela diri sendiri pun sulit. Begitu juga Kamu, yang berada diantara Mama dan aku."  jawab Diana. Tanpa membalas tatapan ku.


"Tapi Dee_....." aku ingin berbicara, namun Rubby mencegah ku.


"Mas......" ucapnya dengan mengedipkan mata.


Aku kembali diam, melanjutkan sarapan, dan pergi kekantor.


"Mulai hari ini... Aku harus bisa berpendirian tegas... Tak bisa lagi ku korban kan perasa'an orang lain. Cukup diana yang sudah begitu tersiksa selama ini." gumam ku.


Aku membelokan arah mobilku, dan mempir kerumah Mama sebentar.


"Ma... Mama," panggilku.


"Iya sayang... Mama disini. Kenapa pagi-pagi udah kesini?" jawab Mama seraya menghampiriku.


"Kata Dee... Mama sakit, dia minta edra bawa Mama kedokter langgananya. Mama mau 'kan?"


"Aaaah... Engga. Mama ngga sakit, Mama sehat aja. Lagian, kalau Mama sakit, mama akan pergi sendiri kedokter langganan Mama sendiri sayang," Sialan Diana... Sengaja mempengaruhi Edra, agar membawaku kedokternya. Dan pasti mereka akan memeriksa semuanya.


"Serius...? Baiklah, jika seperti itu. Semua terserah Mama saja. Oh iya, mengenai Rubby... Biarkan dia dirumah Diana saja, tolong jangan ganggu Dia lagi, Ma. Cukup semalam diana begitu marah, terutama dengan Edra."


"Dra... Kamu bilang begitu karna suruhan diana 'kan? Diana itu ngga mau lihat Mama lebih sayang dengan Rubby, dia itu iri Dra,"


"Ma... Dee bukan orang seperti itu. Apalagi terhadap Rubby, tidak Ma. Hanya itu saja, edra pamit. Jika ada sesuatu, Mama panggil edra."


Aku lalu kembali kemobilku, dan meninggalkan Mama yang terlihat mengepalkan tangan nya karna kesal.


"Diana... Kenapa selalu dia yang terus menghalangi jalanku. Kenapa sulit sekali menyingkirkan Dia dari Edra Ku."

__ADS_1


__ADS_2