
Pagi nya. Aku bangun dan melaksana kan shalat subuhku tanpa membangun kan Mas Edra karna ku lihat tidurnya begitu pulas.
"By, Kamu shalat ngga ngajak ," ujar Mas Edra dengan mengucek mata nya, dan bangun dari tidurnya.
"Maaf, Mas... By takut ganggu." Jawabku.
"Oh, iya ngga papa, Kamu duluan aja siapin keperluan Bapak sama Ibu yang mau berangkat pulang."
"Iya Mas," ucapku dan bergegas keluar dari kamar.
Aku masuk ke kamar Ibu dan Bapak. Terlihat mereka sudah berkemas rapi, dan siap untuk berangkat.
"Ibu sama Bapak udah siap?" tanya ku menghampiri mereka.
"Udah sayang, kok kamu kemari, ngga beres-beres rumah?"
"Disini semua nya diberesin pembantu nya Bude, kan Suami Rubby itu bos besar. Mobil nya aja berjejer di garasi, ngga kehitung berapa harga nya itu." Sahut Bang halim.
"Abang, jangan ngeledek deh," tegurku manja.
Mereka terbahak mendengar ucapan ku dan melanjut kan sendar gurau kami yang sebentar lagi akan terpisah jauh.
"By... Baik-baik ya sayang. Nurut sama suami dan Madu mu, Beliau orang baik dan bisa dijadikan panutan," pesan Ibu padaku.
"Iya Bu, By akan inget kata-kata Ibu. Sekarang kita sarapan yuk, semua udah nunggu diruang makan." Ajak. Ku pada mereka.
Mereka mengikuti ku dari belakang, dan menuju ruang makan.
"Pagi By," sapa Kak Dee.
"Pagi Kak," sapa Ku balik.
"Bapak, Ibu, apa sudah siap untuk pulang?" Tanya Kak Dee pada Orang tua ku.
"Sudah Bu, tinggal diantar ke Terminal aja." Imbuh Bang halim.
__ADS_1
Mas Edra datang dengan pakaian yang sudah rapi, dan aku bergegas membenarkan Dasi nya atas instruksi Kak Dee.
"Bang halim bisa nyetir?" tanya Mas edra yang melangkah duduk untuk sarapan.
"Iya, bisa, bahkan sudah punya SIM. Karna sering diajak nyupir travel kalo dikampung." Jawab Bang halim.
"Bagaimana jika saya beri sebuah mobil untuk usaha travel sendiri, jadi ngga perlu repot nunggu ada yang ngajak narik?" tanya Mas edra dengan sesekali memakan sarapan nya.
"Hah, serius. Jangan main-main, Mas. Beli mobil itu mahal." Ucap Bang halim terkejut.
"Benar, saya memang tidak memberikan yang baru, karna waktu nya mepet. Tapi, akan saya berikan salah satu yang ada di garasi. Ini kunci nya,"
Mas Edra memberikan sebuah kunci mobil, beserta STNK nya, untuk dibawa Bang halim pulang kampung dan usaha disana.
Bang halim begitu terkejut, sekaligus bahagia, karna impian nya memiliki usaha travel bisa terwujud.
" Wah, makasih Mas, saya akan rawat mobil itu sebaik mungkin. Dan nanti, jika usaha nya maju, saya akan ganti mobil tersebut." Ucap nya.
"Tak perlu, anggap saja sebagai ucapan terimakasih saya pada kalian. Dan jika berkembang, beli lah sebuah mobil lagi, agar semakin banyak armada nya."
Waktu sarapan selesai. Mereka bergegas pulang ke kampung dengan mobil baru mereka yang dibawa oleh Bang halim. Mobil Luxio hitam tersebut terlihat gagah dengan cat nya yang masih mengkilap ditambah lagi dengan berbagai accesoris yang sudah dirubah oleh Mas Edra.
"Bang, hati-hati dijalan, semoga usaha nya lancar ya Bang," ucap ku dengan mencium tangan nya serta Bapak dan Ibu dan melepaskan mereka pergi.
Aku membalik kan tubuh ku dan melihat Mas Edra yang ada dibelakang ku, sudah menjinjing kopernya untuk berangkat ke kantor.
"Mas, makasih ya, udah baik bangeg sama meluarga By," ucap Ku dengan merapi kan jasnya.
"Itu sudah tugas saya By. Saya berangkat dulu ya, titip Kakakmu dirumah," balasnya dengan mengusap kepala Ku.
Mas Edra pun segera menaiki mobilnya dan berangkat ke kantornya.
"Alhamdulillah, sementara ini semua berjalan lancar, dan tak ada masalah yang berbelit," ucap Ku seraya menarik nafas lega.
Ku langkah kan kaki untuk kembali masuk kerumah dan merawat Kak Dee.
__ADS_1
"Kak, sudah mandi?" tanya Ku ynag melihatnya duduk sambil mengumpulkan helaian rambutnya yang semakin rontok.
"By... Kalau sehari yang rontok segini? Gimana, kalau sebulan ya By, Kakak bisa botak plontos." Ujarnya pasrah.
"Ya gimana lagi, Kak. Itu semua karna pengaruh obat kemo Kakak, yang sabar ya, Kak," balas Ku dengan tetap mempersiapkan obat untuknya.
"By, Kakak bosen minum obat."
Aku menghampiri dan membawa
Nampan berisi obat untuk nya.
"Kak, jangan bilang begitu, semua ini kan untuk kesembuhan Kakak juga." Bujuk ku.
"Kakak ngga akan sembuh By, obat-obatan dan kemo itu hanya mencegah sel kanker nya, agar tidak menyebar lebih cepat By. Dengan kata lain, itu hanya menunda kematian Kakak."
"Kak, kematian bagi semua manusia itu adalah sebuah kepastian, hanya tergantung kapan dan bagaimana cara nya saja. Ngga ada yang mampu menebak... Seperti Almarhum Bang Bagas, siangnya baru saja mengunjungi By dirumah dan bersenda gurau bersama. Tapi, malam nya Ia meninggal. " Ucap ku dnegan air mata yang mulai menganak sungai.
" Kamu belum move on By? "
" Aaaah... Sudah berangsur sih Kak. Tapi ternyata begitu sulit, " jawab Ku dengan menyeka air mata.
" Perlahan kamu akan bisa By, apalagi sekarang kamu sudah menikah, kan."
"Iya, Kak... Sekarang, Kakak minum obat ya, diabisin,"
"Iya, By... Semua yang kamu katakan akan Kakak turuti. Kakak akan berusaha supaya umur Kakak lebih panjang, sampai nanti bisa menyaksikan kamu hamil sampai melahirkan anak dari Mas edra," ujar Kak Dee yang dengan perlahan tapi pasti menelan obatnya.
Ucapan itu, sontak membuatku terbelalak dan diam, tak tahu harus menjawab apa.
" Seperti nya, Kakak harus lebih sering membiarkan kalian berdua By, agar kalian semakin cepat punya anak. Lagipula, Kakak juga sudah tak mungkin lagi memberi nafkah batin pada suami kita," ucap Kak Dee lagi dengan menggenggam erat tangan ku.
Deg! Seluruh harapan nya itu, semakin membuat ku bingung dengan keadaan ini.
" Bagaimana aku cepat hamil, jika kami saja masib berkomitmen untuk tidur secara terpisah?" batin ku.
__ADS_1
" By, kamu ngga papa kan? Semua nya baik-baik saja." Kak Dee, membuyarkan lamunan ku.