MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Kehamilan kosong


__ADS_3

Pov edra.


"Mas... By ngga papa," lirihnya.


"Ngga boleh bilang ngga papa, kalau kenyata'anya begini. Kita kedokter aja sekarang."


"Pak, dokternya sedang sibuk, katanya."


"Yaudah, saya kedokter spesialis aja langsung di Rumah Sakit. Gusti... Bisa jagain Maliq sebentar?"


"Bisa, Pak." jawab Gusti.


Aku memberi pengertian sebentar pada Maliq, lalu menggendong Rubby turun, dan membawanya ke Rumah Sakit.


*


*


"Bagaimana, Dok?" tanyaku.


Dokter menghela nafas sebentar, lalu duduk dihadapan ku.


"Kehamilan terdeteksi Tiga minggu. Tapi, sepertinya Blighted ovum."


"Astaghfirullah." sahut Rubby.


"Apa itu?" tanya ku.


"Blighted ovum itu, sering disebut kehamilan kosong. Dimana, embrio tidak berkembang didalam rahim."


Aku mengusap wajahku kasar, lalu menatap istriku yang sudah berurai air mata.


"Lalu, harus bagaimana?"


"Kita lakukan kuret, untuk tindakan selanjutnya." ucap Dokter padaku.


"Jika itu yang terbaik, lakukan saja, By setuju 'kan?" tanya ku padanya yang masih syok.


"Baru Tiga minggu, kan? Wajar kalau belum terlihat, dan belum berkembang. Hanya belum, bukan tidak. Tunggu, Dua minggu lagi." jawabnya, datar.


"By... Jangan seperti itu, nanti bisa jadi penyakit. Dan mambuat mu semakin tak sehat, sayang."


"Mas... By, Ibunya. By tahu kalau Ia pasti bisa, Dia ada, hanya belum terlihat."


"Baiklah, saya akan beri waktu Dua minggu lagi. Dan silahkan cek dan kita USG kembali kehamilanya. Untuk sekarang, banyak istirahat, banyak makan, dan ini, vitamin yang harus dihabiskan, sampai tiba waktunya USG kembali."

__ADS_1


Aku menerima resep itu, dan membawa Rubby keluar dari ruangan.


"By... Kenapa tidak menurut pada dokter?"


"Mas, tolong dengar By kali ini. By yakin, jika janin ini ada. Hanya Dua minggu, tolong, tunggu sebentar saja." mohon nya padaku.


Ia menggenggam tangan ku erat, matanya penuh permohonan menatapku, hingga aku pun luluh.


"Oke... Dua minggu lagi. Dua minggu kemudian, kita akan cek kembali dan jika masih tidak ada, maka...."


"Iya, By tahu." jawabnya, dengan berat hati.


Setelah kejadian itu, aku seolah mrngabdikan diriku padanya. Pekerja'an kantor ku tinggalkan pada Gusti, dan Winda yang sudah mulai aktif bekerja.


Aku merawatnya melebihi orang sakit sekarang. By tak bisa mengancamku seperti Diana, Dia memang lebih menurut dengan semua yang ku katakan. Tapi, Diana tetap Diana yang tegas dengan dirinya sendiri. Bahkan, begitu mandiri menurutku.


"Mas, ngga kekantor?"


"Engga, sayang. Kenapa? Mereka belum ada manggil."


"Kenapa harus dipanggil, baru kekantor? Mas itu Bosnya, yang harus jadi contoh mereka."


"Mas hanya ingin menemanimu, mengontrol kandungan By disini. Mereka semua dapat dipercaya,"


"Mas... By tahu, bahwa perjuangan mempertahankan itu ditanganmu, begitu berat, terutama bagi Kakak. Kalau tidak bagi keluarga ini? Setidaknya demi Almarhumah Kakak. Berangkatlah, By tak apa disini."


Ia hanya mengangguk, dan aku segera bersiap kekantor, dengan membawa Maliq bersamaku.


"Yakin, bawa Maliq?" tanya Bik inah.


"Yakin... Maliq senang kalau disana, ramai katanya, asal mainan nya sebagian diboyong. Banyak yang membantu ku merawatnya."


"Baiklah, Bibik siapkan bekal, dan peralatanya."


Selama perjalanan, Maliq diam, hanya memainkan robot barunya, hingga sampai dikantor, Ia disambut oleh beberapa karyawanku, dan mengajaknya bermain bersama.


"Kalian... Ngga sibuk, hari ini?" tanyaku.


"Pekerja'an tinggal sedikit lagi. Kami bisa sambil mengasuh Bos kecil kami," ucap mereka.


"Baiklah... Bos kecil, kamu disini awasi mereka bekerja, ya. Ayah keruangan dulu, nanti kamu kesana aja kalau bosan." aku mencubit pipinya, lalu meninggalkanya disana, dan memulai semua pekerja'anku.


Pov Rubby.


"Kenapa dikehamilan kali ini begitu sulit? Padahal yang sebelumnya begitu mudah. Kuatlah sayang, kuat seperti Kakakmu yang lain. Kalian akan tumbuh dewasa bersama nantinya. Apakah? Nama belakang mereka juga kamu inginkan? Ibu akan memberikanya. Asal Adek, sehat dan tumbuh kuat. " elusku, pada perut yang masih rata itu.

__ADS_1


"By... Makan dulu," ucap Bik inah, yang membawakan makanan untuk ku.


"Ngga selera, tapi."


"Makan aja, jangan selera-selea'an gitu. Inget, kalau bener-bener ngga ada, bakalan dikuret."


Aku lalu menuruti perkata'anya karna takut, lebih takut kehilangan anak, daripada proses kuretnya.


"Iya, Bik... Terimakasih," jawabku, lalu mengambil makanan itu.


"Bram, sama Maliq mana?"


"Edra ngga bilang? Maliq dibawanya kekantor hari ini. Takut, jika Bibik kelelahan."


"Oh, iya, ma'af ya, Bik... Sudah merepotkan sampai sejauh ini." ucapku padanya.


"By, tak perlu lagi sungkan. Kalian sudah Bibik anggap, sebagai anak Bibik sendiri. Dan anak-anak kalian, adalah Cucu Bibik, pastinya."


"Iya... Sekali lagi, terimakasih,"


Aku mencoba memakan makananku, meski mual, tetap ku telan. Sakit, harus ku tahan, semuanya demi kandunganku. Harapan ku yang kesekian kalinya berada dalam rahimku, pewaris tahta kami berikutnya.


Pov Author.


Dua minggu berselang dari hari itu.


Edra membawa Rubby kembali kedokter kandungan, untuk memeriksakanya.


Sepanjang jalan, edra menggenggam tangan Rubby dengaj begitu erat, dan memberinya kekuatan, agar mampu menerima apapun yang terjadi nanti.


Seperti halnya dimobil, memasuki ruangan Ruangan Rumah Sakit pun, Edra tak melepaskan genggamanya. Hingga sampao diruangan Dokter yang mereka cari.


Rubby mulai berbaring, dibrankar, mengikuti instruksi Sang dokter, lalu Dokter memulai untuk memeriksanya.


Tubuh Rubby terasa panas dingin, gemetar seluruh tubuh, tatkala Alat USG mulai menari-nari diatas perutnya.


"Kenapa, Dokter lama sekali memeriksanya, hingga kesemua sudut perutku. Bayiku, ada 'kan? Kehamilan ku, tak jadi kosong? Ya Allah, kali ini saja, aku memohon dengan sangat. Selamatkan, jika kau harus berhenti setelah ini... Maka aku akan berhenti." do'anya dalam hati.


USG selesai, Rubby kembali duduk disampin edra, lalu Dokter menjelaskan pemeriksa'anya.


"By... Apa Do'a terbesarmu kali ini?" tanya nya.


"Saya... Hanya meminta bayi saya sehat, dan selamat, karna ini anak ketiga saya. Jika memang saya harus stop memiliki anak, maka saya bersedia." jawab Rubby.


"By, Sepertinya... Kamu tidak hanya akan memiliki tiga anak. Tapi, Empat anak. Karna yang kamu kandung sekarang adalah anak kembar. Namun, mereka berada dalam satu kantung ketuban. Jadi, kamu harus benar-benar menjaganya."

__ADS_1


Rubby menangis bahagia, namun juga sedih dengan keada'an bayinya. Keada'an yang langka, dan bisa memberi resiko pada salah satu bayi mereka.


__ADS_2